Yuk Biasakan Berpikir Sebelum Menyebarkan Pendapat

Think before you post!
Think before you share!

Saran ini mulai banyak disuarakan ke para netizen. Pasalnya, belakangan ini hoax merajalela, hate speech juga mewarnai timeline berbagai media sosial. Selain berpotensi menjadi konflik, pelaku bisa terjerat oleh UU ITE dengan menyebar hoax.

Hoax merupakan berita palsu yang direkayasa sehingga nampak benar. Berdasarkan suvey MASTEL tahun 2017 yang tergolong hoax yaitu berita bohong yang disengaja (90,3%), berita yang menghasut (61,6%), berita yang tidak akurat (59%), berita ramalan (14%), dan berita yang menyudutkan (12,6%). Kabar palsu ini kerap dibagikan di facebook, twitter,blog, dan juga aplikasi chatting seperti Whatssapp dan BBM. Jika tidak jeli maka kita bisa termakan oleh berita palsu tersebut. Reaksi kita bisa beragam karena rata-rata hoax sengaja dihadirkan untuk menyulut emosi.

Hoax merupakan salah satu dari bahaya tersembunyi ketika menggunakan internet. Hoax masuk dalam kategori cyber fraud dimana juga termasuk di dalamnya adalah penipuan transaksi online. Selain cyber fraud juga ada cyber bullying, cyber stalking, cyber gambling alias judi, dan pornografi.

Lantas apa saja hoax yang seringkali muncul di media sosial dan cara mengantisipasinya?

Hoax terbanyak berkaitan dengan sosial politik (91,8%). Goreng-menggoreng isu agar pihak lawan terkesan negatif dan pihaknya unggul beberapa waktu lalu begitu marak. Terkadang agak sulit dibedakan, perlu kejelian dan pikiran tenang. Isu kedua adalah masalah SARA (88,6%). Seperti yang disebutkan Dr. Sorni Paskah, dari Kemenko PMK, Indonesia rawan konflik karena multietnis dan memiliki keragaman budaya. Alhasil isu SARA berpotensi menimbulkan perpecahan bangsa dan masuk dalam kategori hate speech.

Topik lainnya yang gemar jadi sasaran hoax adalah kesehatan yaitu 41,2%, makanan & minuman (32,6%), penipuan keuangan (24,5%), IPTEK (23,7%), candaan (17,6%), bencana alam (10,3%), dan lalu lintas (4%).

Hoax itu petaka karena menyebar kebohongan dan juga menyedot energi positif. Untuk itu cara mengantisipasinya adalah memeriksa alamat URL, jika bukan dari media kredibel maka perlu waspada dengan lebih memeriksa penulis, narasumber dan membandingkannya dengan media lainnya. Selanjutnya periksa nada berita tersebut, jika mengusik emosimu maka biasanya itu merupakan tujuan dari penyebaran berita palsu. Kalian juga bisa memeriksanya dengan fast-checking yaitu dengan situs snopes dan fastcheck.

Melindungi diri dari hoax bisa dari diri sendiri, keluarga dan lingkungan. Biasakan berpikir dulu sebelum berbagi sebuah pendapat atau berita karena bisa jadi Kalian jadi ikut-ikutan sebagai penyebar hoax. Sarankan lingkungan Kalian untuk juga tidak berbagi berita yang belum tentu benar, yang berbau SARA dan yang berpotensi menimbulkan permusuhan.

Unggul Sagena relawan TIK

Saya jadi ingat beberapa waktu lalu di grup chatting warga ada yang suka menyebar hoax. Awalnya saya cuek, tapi lama-kelamaan saya jengkel juga karena selain suka menebar hoax juga suka menyebarkan foto-foto vulgar korban teroris. Beberapa waktu lalu juga ada anggota beberapa grup percakapan menyebarkan video bunuh diri. Astaga, apakah sedemikan penting untuk terus-menerus berbagi sehingga terlihat eksis?

Internet dan media sosial sebaiknya digunakan untuk hal-hal yang bersifat positif, produktif, dan kontributif. Unggul Sagena dari tim Relawan TIK menekankan potensi besar internet dalam acara ngobrol bareng netizen tadi malam (27/7) di Golden Boutique Hotel, Kemayoran.

Kegiatan positif berinternet bisa berupa menambah pertemanan, menambah wawasan, belajar online, berjualan, dan menulis atau membuat video tentang hal-hal informatif dan kontributif bagi lingkungan sekeliling. Jangan sampai media sosial hanya untuk curhat hingga mengekspos hal-hal yang bersifat pribadi atau malah menyebar hoax.

Saat ini ada relawan TIK yang tersebar di 32 provinsi. Mereka adalah bagian dari proses pemberdayaan masyarakat melalui pemanfaatan TIK dan kolaborasi multipihak.

Para narasumber sosialisasi Gerakan Nasional Revolusi Mental

Pemanfaatan internet dan media sosial dengan sehat merupakan wujud nyata dari gerakan revolusi mental. Kalau mendengar istilah revolusi sepertinya berkonotasi negatif, padahal makna revolusi adalah gerakan yang bersifat cepat dan menyeluruh. Pernah dengar kan revolusi hijau dan revolusi biru?

Revolusi mental sebenarnya sudah digemakan oleh Presiden Soekarno. Kemudian saat ini menjadi salah satu program Presiden Joko Widodo. Jika kubaca maknanya, revolusi mental terkesan sederhana,akan tetapi melihat kondisi bangsa saat ini memang program ini perlu diwujudnyatakan, agar tidak sekedar slogan.

Revolusi mental bermakna perubahan cara pandang, cara pikir, sikap, perilaku dan cara kerja bangsa Indonesia yang mengacu pada nilai-nilai strategis yakni integritas, etos kerja, dan gotong royong berdasarkan Pancasila. Bentuk nyata dari Gerakan Nasional Revolusi Mental yaitu Indonesia melayani, Indonesia bersih, Indonesia tertib, Indonesia mandiri, dan Indonesia bersatu. Menggunakan media sosial untuk hal-hal positif merupakan wujud nyata revolusi mental. Yuk mulai sekarang membiasakan diri untuk bersikap bijak dalam bermedia sosial dan menggunakan internet.

Kredit cover: Technologi rock seriously

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Juli 28, 2017.

2 Tanggapan to “Yuk Biasakan Berpikir Sebelum Menyebarkan Pendapat”

  1. Orang indonesia itu suka share, yg miris kadang mereka melakukan share tanpa membaca sehingga berita yg salah bisa cepat menyebar. 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: