Laki-laki Martabak

Aku menyebutnya laki-laki martabak. Ia selalu lekat dengan martabak. Setiap sore jelang jam pulang kantor ia suka membawa tumpukan dus berisi aneka martabak. Ada martabak telur yang kaya akan keju dan daging. Ada juga martabak manis dengan aneka topping, keju, kacang, misis, dan aneka rasa lainnya. Melihatnya tiba dengan tumpukan martabak itu bak seorang koki hadir dengan masakan istimewanya. Jam-jam selepas Ashar adalah jam kritis dan rawan kantuk. Sehingga adanya kalori dan gula membantu tubuh untuk mendapatkan energinya.

Aku pun kemudian berkhayal ada pria martabak yang gemar berbagi martabak. Ia lahir dan dibesarkan dari keluarga penjual martabak sehingga aromanya asin gurih pada petang hari dan manis legit pada siang hari. Ia selalu nampak ramah dan tersenyum, menarik hati seolah-olah di wajahnya adalah irisan pisang dan parutan keju.

Karena setiap hari melihat orang tuanya menyiapkan adonan, kemudian menuangkannya dalam wajan, membaliknya kemudian mengisinya dengan aneka isian, ia pun jadi mahir membuat martabak manis. Ia memilih untuk belajar membuat martabak manis,sedangkan martabak telur ia sisihkan untuk adiknya agar keduanya nantinya tak bersaing.

Nore memilih martabak manis karena ia ingin hidupnya selalu manis. Ia yakin pecinta martabak manis adalah orang-orang yang menyenangkan atau malah sebaliknya, orang-orang yang ingin dihibur lewat manisnya dan sedapnya martabak manis. Oleh karenanya ia pun tak berhenti berkreasi menciptakan menu martabak manis yang paling dinikmati. Apakah martabak manis isi pisang dan keju, ataukah resep klasik kacang tanah,susu, dan misis bakal tetap bertahan? Ia merasa ragu, maka ia pun memasak kacang merah. Ditanaknya hingga empuk, lalu dibuatnya pasta menjadi pasta kacang merah. Ia pun membuat martabak manisnya ala dorayaki. Ternyata martabaknya disukai, terutama kalangan muda yang menyukai hal-hal baru.

Ia pun kemudian mencipta martabak manis varian buah.Ia buat martabak dengan isian mangga dan melon, ternyata tak laku dan membuatnya merasa pilu. Ia kemudian mencobai nangka dengan keju. Variasi yang pas dan segar. Merasa tidak puas ia pun mencobai krim alpukat dengan tambahan krim mocca. Ooh banyak yang menyukainya dan tergila-gila. Nore merasa begitu gembira.

Ia pun kemudian berkeliling negeri, mampir ke sekolah-sekolah membagikan martabak manis kreasinya. Setiap penerimanya tersenyum ceria. Mata mereka bersinar dan lidah mereka menari keenakan menikmati martabak buatannya. Nore merasa bahagia, hidupnya pun selegit martabak manis.

Gambar dari Tribun Travel

 

 

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Desember 18, 2017.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: