Kenapa Hujan Jadi Momok?

Hujan itu sebenarnya anugerah dan penyeimbang cuaca setelah diterpa musim kemarau. Hujan memberikan banyak air, menjadi persediaan air tawar secara cuma-cuma. Namun karena kondisi alam sudah demikian berubah maka keseimbangan alam pun terganggu. Hujan pun jadi momok.

Dulu aku suka akan kehadiran hujan. Hujan dulu hampir hadir setiap harinya di Malang, jadinya aku terbiasa selalu membawa payung dalam tas. Hujan bisa hadir kapan saja dan jadi  bagian dari kehidupan.

Biasanya hujan sangat deras hadir selepas sholat Jumat. Begitu deras sehingga langit begitu gelap dan air dalam selokan pun meluap. Waktu kecil bagian depan loteng kami juga penuh air hujan. Bak sebuah kolam kecil. Aku dan kakak pun asyik mandi-mandi bak di kolam. Rasanya senang. Oleh Ibu kami diminta mengusir air tersebut agar tak masuk ke dalam loteng. Kami melakukannya dengan suka cita.

Setelah asyik bermain air, kami pun membilas diri dan makan sesuatu yang hangat. Seringkali hujan membuat kami mengantuk. Aku pun terlelap dengan pulasnya.

Memang ada kalanya hujan menjengkelkan karena lampu pun padam. Aku pun harus puas belajar dengan lilin. Rasanya kecewa ketika mati lampu saat film kesukaan tayang. Rasanya ingin marah.

Tapi masa itu jarang terdengar banjir di sekitar kami. Memang pernah ada kejadian buruk ketika kawan SD ku hanyut ketika ia bermain bola saat hujan deras.

Saat SMA baru ada berita tanah longsor. Saat itu memang mulai banyak dibangun perumahan di pinggiran kota. Mulailah terjadi ketidakseimbangan karena pembangunan yang kurang  bersahabat dengan lingkungan.

Ketika aku mulai tinggal di Surabaya, hujan mulai meresahkan, apalagi ketika masih bekerja dan hendak kembali ke kantor. Hujan membuatku malas untuk ke kantor, inginnya bermalasan di kosan. Seringkali hujan membuatku basah kuyub di kantor pada masa itu.

Hujan jadi momok ketika tinggal di Jakarta. Aku merasakan hujan besar 2007. Banjir dimana-mana. Mati lampu, susah air sehingga aku harus mengambil air di bawah bergantian dengan kawan untuk mandi di kamar mandi loteng. Ke kantor pun jadi susah. Rasanya terisolasi. Hujan besar juga terjadi setahun kemudian dan tahun 2012. Lagi-lagi banjir.

Tiap tahun banjir, tiap tahun ada harapan agar Jakarta tak lagi banjir. Tapi semua tinggal harapan. Sampah masih berkeliaran dimana-mana, masih banyak yang membuangnya sembarangan. Belum ada kesadaran menanam dan membuat biopori di sebagian kalangan. Semuanya hanya keinginan di awang-awang.

Makin banyak perumahan, perkantoran, apartemen dan hotel di kawasan Jakarta Selatan. Air tanah terus tersedot dan pepohonan makin langka. Alhasil Jakarta Selatan yang dulu hijau jadi langganan banjir.

Kapan Jakarta bebas banjir? Agar hujan tak lagi jadi momok, melainkan kembali jadi anugerah.

Gambar dari situs rjdm

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Februari 7, 2018.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: