Jadi Diri Sendiri Tidak Cukup

Aku suka mengenakan pakaian kasual. Favoritku mengenakan celana denim atau celana tigaperempat dan kaus lucu-lucu. Sepatu favoritku adalah sneaker karena memudahkanku bergerak. Namun rupanya dalam beraktivitas tidak cukup menjadi diri sendiri dengan pakaian kesayangan. Aku melihat diriku dan aku merasa perlu untuk mengubah sedikit penampilan.

Kata orang-orang yang akrab denganku, aku tipe gadis yang cuek dan tomboy. Apalagi jika melihat preferensi musikku yang didominasi musik cadas. Awalnya aku merasa baik-baik saja. Ya memang pernah sedikit berkamuflase saat bekerja di bagian humas di sebuah perusahaan lumayan besar. Tapi kemudian aku sempat menjalani profesi sebagai penulis freelance dan menikmati zona nyamanku, dimana tidak terpatok harus berpakaian ini dan itu. Tidak harus pakai blazer, celana kain, sepatu hitam cewek dan sebagainya.

Kembali bekerja sebagai konsultan TI aku masih sulit melepas zona nyamanku. Aku masih suka mengenakan sepatu sneaker dan sekarang sulit dilepaskan dengan sepatu kasual merah jinggaku. Kadang aku masih juga mengenakan sweater dan jaket-jaket lucu. Tapi ketika beberapa kali rapat dengan klien aku jadi merasa terusik. Hahaha jangan-jangan mereka nanti merasa was-was dan kurang percaya jika melihat penampilan konsultannya yang ‘apa adanya’. Ketika ku melihat partner lainnya juga berdandan rapi dan klimis, aku juga merasa tersentil. Okelah aku jadi bunglon lagi. Asalkan saat pulang rapat dan melakukan hal yang kusenangi aku menjadi diriku sendiri lagi dengan baju favoritku.

Aku mulai membuka kembali dus sepatu isi sepatu cewekku. Wah sudah lama aku tidak mengenakannya. Apakah aku masih bisa menggunakan sepatu bertumit ya hihihi. Aku mulai mengeluarkan koleksi blazerku. Aduh aku mulai gemuk dan beberapa di antaranya jadi ngepas banget di badan. Jadi pengingat nih agar aku harus mulai rajin berolah raga lagi.

Ke depan mungkin aku akan menjadi diriku yang lain. Berpura-pura jadi gadis manis yang rapi nan sedikit kalem. Untuk sementara sih hihihi. Kalau di kantor saja bisa jadi aku akan mempertahankan gayaku dengan sepatu merah jinggaku serta jaket merahku yang unyu. Hihihi memang susah kalau tidak jadi diri sendiri.

Gambar dari pixabay

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Februari 21, 2018.

2 Tanggapan to “Jadi Diri Sendiri Tidak Cukup”

  1. Uhmm…
    Menurut saya tidak ada yang salah dari cara berpakaian mbak yang casual.
    Apalagi yg kerja disektor IT. Yang lebih utama adalah skill, apalagi kalo kita lihat programmer/ developer/ web designer pakaiannya malah banyak yg lebih nyentrik.

    So.. I think, just let your skills talk, rather than focusing on other people’s outfits.
    Your clients most likely prefer your solutions to your “formal-looking outfits”, though.

    Cheers 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: