Wisata Belanja Malam di Jakarta Pinggiran

Ketika sebagian besar warga Jabodetabek telah tiba di rumah, menghela napas lega setelah seharian beraktivitas, lalu menikmati makan malam atau beristirahat, sekelompok pedagang justru baru memulai harinya. Mereka menata dagangan dan menyambut para pembeli dengan penuh harapan. Salah satu pembeli itu adalah aku, yang suka singgah dan ingin menikmati wisata belanja malam di jalanan yang dijuluki salah satu neraka lalu lintas Jakarta.
Julukan neraka itu bukan tanpa alasan. Pada pagi dan petang hari, saat warga Jabodetabek berangkat atau pulang kerja, jalanan Kramat Jati berubah menjadi lautan kendaraan. Padat, sangat padat.
Pedagang kaki lima ada kalanya masih membereskan dagangan sementara petugas kebersihan meminta mereka bergegas. Jalan dan trotoar harus segera dibersihkan dari sampah yang tersisa.
Klakson bersahut-sahutan tanpa henti setiap kali ada kendaraan yang dianggap terlalu lambat. Jalan yang tak terlalu lebar terasa sesak oleh mobil, motor, angkutan umum, dan truk yang mengangkut sampah yang saling berebut ruang.
Debu beterbangan di udara, membuat suasana terasa semakin sumpek dan melelahkan. Langit Jakarta terasa gelap dan suram, bukan karena mendung, melainkan karena debu dan asap kendaraan.
Aku selalu benci melewati jalanan ini dan berusaha menghindarinya dengan naik LRT atau KRL. Namun, dalam hampir satu dekade terakhir, bermunculan “neraka-neraka” lalu lintas baru di Jakarta, termasuk kawasan TB Simatupang. Ya, rasanya sulit menghindar dari jalanan yang menguji kesabaran dan tekanan mental.
Namun, apabila ada acara malam, aku suka sengaja memilih melewati jalanan Kramat Jati. Bukan karena rindu suasana bising. Melainkan, ingin sekalian berbelanja di sini. Kawasan ini berubah wajah, dari neraka menjadi secuil surga pada malam hari.
Aku selalu merasa bersalah apabila meninggalkan kucingku kelamaan. Alhasil aku suka membawa buah tangan. Aku membelinya di Kramat Jati, entah berupa ikan segar ataupun ikan cue alias ikan pindang.
Harga bahan pangan di sini jauh lebih hemat dan lebih lengkap. Setelah membeli ikan, aku bergeser membeli sayuran. Kadang aku sekalian membeli ayam. Kue cucur di sini juga sering membuatku tergoda.
Memang tempat belanjanya kurang nyaman, di pinggir jalan. Kadang jalanan juga masih padat, sehingga aku harus bergegas. Kasihan pengemudi ojol juga bila menungguiku kelamaan.
Ada kalanya aku ingin berwisata belanja buah-buahan. Dengan lima puluh ribu rupiah, aku bisa membawa pulang cukup banyak buah-buahan dan beraneka ragam. Aku bisa membeli melon, semangka, nanas, jeruk, mangga, dan pepaya. Juga, buah-buahan tropis lainnya yang sedang musimnya.
Sayangnya jarak antara pedagang sayuran dan ikan agak berjauhan dengan pedagang buah-buahan. Alhasil aku harus memilih salah satu karena tak enak dengan pengemudi ojolnya meski kuberi tips lumayan.
Ya, aku suka wisata belanja di Kramat Jati. Jalanan ini tak jadi neraka abadi. Ada kalanya jadi nirwana ketika para pedagang malam mulai hadir. Dan, aku menikmati suasana dan pengalaman belanja di sini, yang tentunya berbeda ketika belanja di pusat perbelanjaan modern yang rapi.
