Kisah Pewarta Semasa Ramadan

Apakah pewarta mendapat diskon waktu atau pekerjaan saat bulan Ramadan? Entahlah, mungkin kebijakan di tiap kantor berbeda. Dulu di tempatku sih sama saja, tidak ada bedanya. Lantas, apakah mereka berpuasa? Ehmmm berpuasa itu urusan pribadi dengan Tuhannya, waktu itu aku berupaya untuk tetap dapat menjalankan ibadah dengan sebaik-baiknya.

Suka duka ada di tiap pekerjaan. Salah satu pekerjaan yang menantang saat bulan Ramadan adalah pekerjaan yang menuntut fisik prima dan pekerjaan yang banyak di lapangan. Salah satunya pewarta yang tugasnya bukan hanya di belakang meja, namun juga di lapangan mencari dan meliput berita.

Awal-awal puasa aku agak kesulitan mengatur waktu sahur. Pasalnya pulang ke kosan rata-rata jam 11 malam, bahkan jam 1 pagi khusus hari Senin karena ada rapat redaksi. Di Surabaya, Subuhnya sekitar pukul 04.00 sehingga aku harus memilih hanya tidur sejenak kemudian bangun sahur. Atau, makan sahur dulu sebelum tidur. Sering kali aku memilih yang kedua karena aku perlu tidur cukup. Jam liputanku seperti biasa, kadang-kadang pagi-pagi jam 5-6 aku sudah di lokasi, tapi bisa jadi aku beruntung jam 11-12 baru cabut dan sudah dapat calon berita hari itu.

Tantangan terberat jurnalis adalah kehausan. Apalagi Surabaya itu kotanya panas banget dan gerah. Sering kali aku bersyukur jika liputan di gedung ber-AC, setidaknya ngadem dulu dan bisa menghemat energi.

Tantangan berikutnya yakni godaan. Terkadang aku liputan kuliner. Duh ketika sesi icip-icip, setiap jurnalis diperkenankan untuk mencicipi agar bisa meresapi rasa dan bisa lebih bercerita. Aku hanya bisa ngiler dan berharap liputan ini kulakukan saat berhalangan puasa.

Apalagi ya? Tantangan berikutnya itu menahan emosi. Pernah suatu ketika kami menunggu seorang selebriti dari jam 8 pagi. Itu berarti aku harus siap-siap berangkat dari kos maksimal pukul 06.30. Hingga pukul 11 siang ia tak kunjung tiba. Dan dengan santainya ia hadir pukul 12 siang. Astaga, ingin kuapakan gitu artis dan panitia acaranya.

Yang berat lagi adalah libur lebarannya. Kami hanya dapat libur H-1 dan hari H. Alhasil ketika rumah masih ramai aku pun harus bersiap kembali ke kosan. Eh pas masih suasana lebaran, sumber beritaku pun hanya di tempat-tempat wisata.

Senangnya juga ada. Ada berbagai liputan tentang penambahan keimanan, seperti kidung damai Cak Nun. Tiap hari juga ada takjil gratis hehehe.

Bagi jurnalis ketika usai meliput dan beritanya masuk lembar media keesokan harinya adalah sesuatu hal yang memuaskan. Selelah apapun aku merasa lega, apalagi jika tulisanku masuk berita A atau headline.

Gambar dari pixabay

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Juni 10, 2018.

6 Tanggapan to “Kisah Pewarta Semasa Ramadan”

  1. wah, kasihan sekali hidupnya

  2. Apalagi yang menjalankan tugas sebagai jurnalis karena memang hoby dan passion❤❤ semangat terus kak! Tulisanmu selalu dinanti pembaca

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: