Tentang Monyet-monyet di Tempat Wisata

Lagi-lagi tentang monyet. Monyet di beberapa kalangan dianggap hewan suci. Di India ada kuil untuk memuja monyet dan kera. Di Bali di beberapa tempat juga ada kawasan yang banyak monyetnya. Ada juga anggapan bahwa manusia setelah meninggal bereinkarnasi menjadi monyet dan kera. Eh tapi kali ini aku tidak ingin membahas tentang hal tersebut. Aku ingin membahas tentang monyet-monyet di kawasan wisata.

Aku bertemu kali pertama monyet di pemandian Wendhit di Malang. Pertemuanku buruk sehingga aku merasa takut dengan monyet-monyet tersebut. Bukan hanya takut makanan dan barang-barangku direbut, aku juga takut monyet ini lompat dan kemudian hinggap di pundakku. Aku pernah mengalaminya. Cakarnya terasa di pundakku dan aku ketakutan. Sejak itu aku menjaga jarak dengan hewan tersebut.

Kejadian buruk itu ketika si monyet nangkring di pundakku tidak terjadi di kawasan wisata, melainkan di dekat kamar mayat rumah sakit. Sejak itu jika hendak mencari berita di bagian tersebut, aku merasa was-was. Aku takut sekali si monyet itu berlari kepadaku.

Hingga saat ini monyet-monyet itu masih dipertahankan di Wendhit. Aku tak mau lagi ke sana takur dengan monyetnya. Entah kenapa monyet jika sudah pernah mencicipi makanan Indonesia menjadi lebih ganas. Oleh karenanya aku setuju jika pengunjung tidak memberi makan satwa di tempat wisata.

Kehadiran monyet di tempat wisata yang berunsur alam dianggap mampu membuat semarak. Mereka lucu lho, suasana alamnya juga bakal terasa dengan ada monyet.

Waktu di Bali aku deg degan setiap kali bertemu monyet. Di air terjun Tawangmangu rupanya juga ada monyetnya. Mereka menyambut pengunjung di tangga turun dan naik. Duh aku sudah was-was ketika melihat monyet besar berjaga di tangga dan menatapku. Aku lagi-lagi takut ia berlari dan melompat ke pundakku. Untung temanku menjagaku.

Di sebuah kawasan wisata Lombok juga ada monyetnya. Aku tak mau keluar dari mobil, hanya melihat mereka dari jendela. Sebenarnya kasihan juga mereka. Apalagi jika melihat induk monyet yang menggendong anaknya. Hubungan induk dan anaknya ini menyentuh. Waktu melihat si anak bersandar di lengan induknya di Baluran aku merasa tersentuh. Mereka sedikit mirip dengan manusia.

Kini semakin banyak monyet di tempat wisata. Mereka muncul di air terjun Kakek Bodo. Mereka juga bermunculan di pantai gua Jepang di kawasan Pengandaran. Di Baluran mereka juga menyambut para pengendara. Yang bikin aku kecewa, monyet-monyet ini juga hadir di air terjun favoritku di Coban Randa.

Aku suka dengan Coban Randa. Sayangnya kehadiran monyet bikin aku was-was selama di sana. Ketika mendekati jam makan siang aku pucat. Para monyet di hutan-hutan sekeliling air terjun berlompatan mendekat ke sekitar Coban. Pasukan monyet itu seolah-olah paham jam tersebut waktunya makan siang. Monyet itu pun kemudian tak malu-malu mendekati manusia, mengintimidasi pengunjung untuk menyerahkan makanan. Keponakanku menangis ketakutan ketika berjalan. Ia pun berupaya menghindari monyet yang semakin banyak bermunculan.

Aku sebenarnya suka hewan. Hewan liar itu sebaiknya tetap liar dan tidak terkontaminasi makanan manusia. Jumlah mereka juga sebaiknya dijaga agar tidak semakin banyak. Karena jika jumlahnya terus meningkat maka dikuatirkan jumlah makanan bagi mereka tidak cukup dan mereka kelaparan.

Ketika melihat monyet-monyet muncul di tepian jalan Baluran, aku menduga-duga. Apakah mereka sekedar jalan-jalan karena bosan? Ataukah mereka kelaparan karena persaingan mendapatkan makanan di antara mereka?

Pengelola tempat wisata alam sebaiknya mempertimbangkan untuk menjaga populasi monyet ini agar tidak membengkak semakin banyak dan malah membahayakan pengunjung. Jika mereka kelaparan maka bisa jadi mereka akan turun ke desa-desa, membahayakan monyet-monyet itu sendiri dan juga manusia.

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Juni 26, 2018.

13 Tanggapan to “Tentang Monyet-monyet di Tempat Wisata”

  1. Ditempat ku, dipesisir pantai monyet2 berkeliaran dan menyeberangi jalan raya saat hendak mencuri atau mengambil buah kelapa sawit perusahaan perkebunan kelapa sawit.

    Tapi, mereka tidak mengganggu manusia dan ttp dibiarkan hidup dihabitat hutan dipesisir pantai.

    • Kalau memang itu habitat aslinya oke-oke saja. Mereka malah lebih berhak di sana sih Hendri. Yang aku heran itu jika sebelumnya tidak ada monyet di tempat wisata tersebut lalu ditambahkan di sana.

      • Ya habitat aslinya…

      • Blum selesai ngetik eh malah ke kirim, 😎😎😎

        Aku sih klo monyetnya jahil atau ganguin, sudah dipastikan aku tidak akan kesana untuk yg kedua kali nya.

        Bu Dewi setuju dengan cara saya?

        • Hahaha aku kadang nggak bisa mengelak ke sana lagi jika diminta ngantar. Biasanya kujelaskan situasinya seperti di Coban Randa itu. Kalau masih ingin kesana juga gpp soalnya air terjunnya memang indah. Urusan diganggu monyet ditanggung sendiri hehehe.

  2. Oh monyet. Sebenarnya saya juga kurang setuju klo di tempat wisata itu monyet atau binatang apapun terlalu bebas beirinteraksi dgn manusia. Apalagi klo sampai manusia bebas memberikan makanan apa saja pada binatang itu. Sebab bukan tdk mungkin ada manusia iseng memberikan makanan yg aka membahayakan hewan tersebut. Belum lagi jika hewan liar itu menyerang manusia. Karena sejatinya sejinak-jinaknya binatang liar, dia tetap memiliki insting dan naluri binatang yg dpt membahayakan manusia.

    • Kalau misalnya dibebaskan di dekat manusia maka sebaiknya ada yang menjaga sih. Coban Randa sebelum tidak ada monyet jauh lebih nyaman. Saat ini aku mulai malas ke sana. Aku merasa seram ketika monyet-monyet berdatangan saat jam makan siang. Beberapa anak kecil ketakutan dan menjerit-jerit.

      • Iya seharusnya pihak pengelola mempertimbangka hal itu jd. Kenyamanan pengunjung jdi prioritas.

        • Setuju. Kalau tempat itu habitat aalinya malah manusia yang sebaiknya menghargai dan menyingkir. Tapi kalau monyetnya sebelumnya tidak ada di sana sebaiknya pengelola juga wajib menjaga keselamatan pengunjung tempat wisata.

  3. Saya juga deg degan sama monyet kalau main ke tempat wisata, pasti mereka usil dan jail..buka buka tas juga.

    Btw..di sini monyet malah menjadi hama tanaman yang sangat merugikan

    • Mungkin jumlahnya perlu dikontrol ya dan ada petugas yang mengawasi. Waktu di Baluran kemarin ada dua ibu yang ketakutan ketika si monyet menunjukkan giginya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: