Gaji Pas-pasan Tapi Punya Tabungan, Bisa!

Hidup di Jakarta bagi mereka yang tinggal di daerah mungkin bak kisah-kisah di sinetron. Glamour. Dengan baju-baju yang modis, ngupi cantik, dan kemudian keliling ke tempat-tempat yang instagrammable tiap akhir pekan. Oke bagi mereka yang bekerja dengan gaji di atas dua digit per bulan hal tersebut memang sesuatu yang biasa. Namun, bagaimana dengan mereka yang baru merintis karir di Jakarta, baru pindah ke Jakarta dari daerah dan mendapatkan gaji setara UMR?

Oh ya aku sendiri dari daerah. Perantauan yang mencoba peruntungan di metropolitan. Aku dari kota menengah di Jawa Timur yang ketika orang Jakarta mendengarnya, sebagian besar di antaranya langsung gagap geografi. Ya, kota kelahiranku di Malang Jawa Timur sering ketukar-tukar dengan Pemalang yang terletak di Jawa Tengah. Malang dan Pemalang beda banget kan?! Tapi itu dulu. Sekarang kotaku lumayan beken dengan banyaknya obyek wisata menarik di sana.

Bekerja di Jakarta sebenarnya bukan niat utamaku. Dibandingkan Jakarta aku lebih nyaman di Surabaya. Kotanya sudah modern dan hanya dua jam dari Malang. Entah bagaimana ceritanya kemudian aku mendarat di kota ini dan kemudian bertahun-tahun mencari peruntungan hingga menetap di sini.

Gajiku pada awal masuk kerja terbilang kecil. Aku juga kaget ketika gaji lulusan Strata satu di Jakarta malah lebih rendah daripada ketika aku bekerja di Surabaya. Seiring waktu, gaji tersebut memang berubah dan terus merangkak. Tapi dari gaji yang kecil itu ternyata aku masih bisa hidup. Kemampuanku bertahan hidup dengan gaji kecil ternyata cukup baik. Dari gaji kecil itu aku masih bisa menabung dan sesekali ikut hang out dengan kawan-kawanku seperti nonton di bioskop dan juga jajan makanan favoritku. Oleh karena terbiasa dengan gaji kecil, maka ketika gaji bertambah, maka gaya hidupku tak berubah banyak. Keuntungannya aku bisa menabung lebih banyak.

Dengan Gaji Pas-pasan Tetap Bisa Menyisihkan Uang
Anggap saja gajiku sekitar empat jutaan jika dinominalkan saat ini. Dengan Rp 4 juta tersebut ternyata aku masih bisa menabung sekitar 25 persen dari gaji atau sekitar Rp 1 juta. Uang tigajuta itu menurutku sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, bahkan terkadang masih lebih dan bisa ditambahkan ke rekening tabungan.

Mereka yang perantauan biasanya terjebak dengan sewa kos bulanan yang cukup mencekik. Apalagi jika ngekosnya tak jauh dari kantor dan berada di sekitaran Jakarta Pusat. Biaya bulananku untuk sewa kamar jika dirupiahkan sekarang sekitar Rp 1 juta. Itu bukan jenis kosan yang mewah. Hanya ada kamar, meja dan lemari, serta kamar mandi di luar untuk digunakan bersama-sama. Tidak ada fasilitas kulkas atau cuci setrika. Aku mencuci dan setrika sendiri, masak pun menggunakan kompor sendiri berupa kompor portable. Untungnya biaya listrik dan PAM sudah termasuk.

Pos Makanan Paling Besar
Biaya makan di Jakarta rata-rata Rp 15 – 20 ribu. Jika ingin lebih hemat mending membungkusnya karena tidak perlu membeli air minum hehehe. Jika cerdik dan rajin mencari kadang-kadang masih bisa ditemui nasi goreng Rp 12 ribu atau nasi Padang serba Rp 11 ribu. Beli nasi plus tempe di Pecel Lele juga masih bisa di bawah Rp 10 ribu. Jika memang sibuk dan terpaksa beli makan di luar, maka biaya yang harus dikeluarkan Rp 900 ribu – Rp 1,2 juta rupiah. Wow lumayan besar ya.

Dari pengalamanku, pos makanan memang paling besar. Pos makanan tersebut belum termasuk air galon, air minum kemasan, dan juga camilan dan buah-buahan. Anggap saja pos minuman dan kudapan ini Rp 100 ribu, maka untuk biaya makan dan minum ini bisa menghabiskan Rp 1 – 1,3 juta.

Duh bagaimana jika diajak makan sama teman-teman di kafe atau di restoran yang sedang hits. Ya, kalau sekali-sekali sih tidak masalah. Sekali makan minimal Rp 50 ribu dan ini jarang sekali. Siap-siaplah dengan bujet Rp 100 ribu untuk sekali makan di tempat hits, bisa-bisa juga kurang dan pinjam teman hihihi.

Bagaimana dengan Transportasi?
Untuk yang ngekos biasanya bisa jalan kaki di kantor. Lumayan hemat. Jika misalkan naik transportasi umum seperti KRL dan TransJakarta, tarifnya masih bersahabat, bisa Rp 7-10 ribu pulang pergi. Tapi bagaimana jika harus transit dan dilanjutkan dengan angkutan umum dan ojek?

Membawa kendaraan pribadi saat ini sudah kurang nyaman kecuali rela berangkat pagi-pagi sekali dan terhimpit kemacetan. Biayanya juga besar. Parkir di Jakarta bisa mencapai Rp 45 ribu/harinya untuk roda empat dan belasan ribu untuk motor jika kantornya tidak menyediakan parkiran. Belum lagi tol dan bensin.

Memang sih untuk mereka yang tinggal jauh dan harus transit berkali-kali, naik motor sendiri lebih praktis dan irit. Tapi badan bisa kelelahan. Jika naik transportasi umum seperti KRL dan TransJakarta maka sebulan bisa Rp 300 ribu. Sedangkan naik motor sendiri bagi yang jauh sekitar Rp 500 ribu. Tapi bagi yang pindah-pindah angkutan umum, bisa jadi anggaran transportasinya mencapai Rp 1 juta sendiri. Wah untung aku dulu tinggal jalan kaki, tapi sebenarnya sama aja sih dengan yang anggaran transportasinya Rp 1 juta tapi rumah sendiri hehehe.

Kebutuhan lainnya bisa berupa biaya pulsa, beramal, dan kebutuhan lain-lain. Bisa dianggarkan Rp 200 ribu atau lebih. Terus bagaimana dengan biaya nonton, berlibur, nyalon dan lain-lain? Hahaha kalau ada sisa atau ambil dari tabungan. Sesekali sih juga boleh biar badan dan pikiran tidak tertekan. Asal biaya untuk hiburan bukan berasal dari hutang dan kartu kredit.

Dari ceritaku di atas pos pengeluaran terbesar nomor satu dari makanan. Nomor dua berasal dari sewa kamar vs transportasi. Gaji sebesar Rp 4 juta bisa langsung cepat menguap jika makannya di kafe kekinian tiap harinya.

Dulu aku menghemat banyak dari pos makanan. Aku sering memasak sendiri dan membawa bekal ke kantor. Dengan Rp 500 ribu aku bisa makan, beli kudapan, dan juga jajan sesekali di kedai kekinian. Tidak perlu gengsi membawa bekal dan menyantap makanan buatan sendiri. Jika pergi hang out aku juga lebih sering naik transportasi umum daripada naik taksi, kecuali berangkat dan perginya ramai-ramai sehingga bisa patungan hehehe.

Berbagai Versi Pengeluaran
Oh ya aku juga buat beberapa versi pengeluaran, dari yang paling irit hingga yang paling boros. Kalian bisa melihat sendiri dari besaran tabungan dan sisa dananya.

Versi Irit (Ngekos dan Masak Sendiri)
– Menabung Rp 1 juta
– Biaya ngekos Rp 1 juta Rp 1 juta
– Makanan Rp 500 ribu
– Pulsa Rp 100 ribu
– Transportasi Rp 0
– Lain-lain Rp 100 ribu
– Saldo Rp 1, 3 juta

Versi Irit (Transit Berkali-Kali dan Masak Sendiri)
– Menabung Rp 1 juta
– Biaya ngekos Rp 1 juta Rp 0
– Makanan Rp 500 ribu
– Pulsa Rp 100 ribu
– Transportasi Rp 1 juta
– Lain-lain Rp 100 ribu
– Saldo Rp 1, 3 juta

Versi Normal (Makan di Tempat Murah)
– Menabung Rp 1 juta
– Biaya ngekos Rp 1 juta Rp 1 juta
– Makanan Rp 1,3 juta
– Pulsa Rp 100 ribu
– Transportasi Rp 300 ribu
– Lain-lain Rp 100 ribu
– Saldo Rp 200 ribu

Versi Hits (Makan di Tempat Hits dan Tidak Ngekos)
– Menabung Rp 0
– Biaya ngekos Rp 1 juta Rp 0
– Makanan Rp 3 juta
– Pulsa Rp 200 ribu
– Transportasi Rp 1 juta
– Lain-lain Rp 500 ribu
– Saldo (Rp 700 ribu)
Minus 700 ribu dan tidak punya tabungan

Kira-kira Kalian suka yang mana?

Gambar dari pixabay

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Agustus 8, 2018.

4 Tanggapan to “Gaji Pas-pasan Tapi Punya Tabungan, Bisa!”

  1. Wah, lumayan tu klau gaji 4 jutaan, gaji PNS golongan rendah aj gak smpe segitu. Jlas hrs bisa nabung dong ya.

    Mantap juga share dan tips keuangannya ya.

  2. Suka duka diperantauan ya begini, tapi kita harus nikmati dan belajar mengatur berbagai hal termasuk keuangan ya kaka :’)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: