Sexy Killers, Penambangan Liar, dan Kerusakan Alam

Film dokumenter “Sexy Killers” ramai diperbicangkan di lini masa. Film ini menjadi diskusi yang seksi. Ada yang mengaitkannya dengan situasi politik yang panas dan ajakan golput, tapi banyak pula yang memandang film ini sekedar pengingat untuk menjaga kelestarian alam. Aku memilih pendapat yang terakhir.

“Sexy Killers” diawali dengan penggunaan listrik. Ketika pemain dalam film menyalakan lampu, membuka kulkas, menyalakan televisi berapa watt yang telah digunakan. Lantas darimana listrik berasal?

Listrik di Indonesia umumnya berasal dari pembangkit listrik tenaga air (PLTA) dan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU). PLTA menggunakan air sedangkan PLTU menggunakan batubara. Lalu darimana asal batubara?

Apabika kita ingat pelajaran SD di situ disebutkan batubara adalah fosil tumbuh-tumbuhan. Di dalamnya tersimpan energi potensial.

Ada banyak penambangan batu bara di Indonesia. Salah satunya di kawasan Kalimantan Timur, dari Samarinda hingga Sangatta. Waktu aku berangkat dari Samarinda menuju Bontang dan ketika pulang dengan Pelita Air dari Bontang ke Balikpapan aku melihat hasil penambangan tersebut kepada alam sekitarnya. Rusak? Iya.

Dari atas nampak pegunungan yang gundul, hutan yang bolong-bolong dan danau dadakan yang berasal dari penggalian yang tak diurug kembali. Di perairan terdapat kapal-kapal tongkang pengangkut batubara.

Dulu waktu aku kecil kubayangkan Kalimantan adalah hutan rimba dengan hutan yang rapat dan alam yang begitu hijau. Tapi kini kerusakan alam itu begitu merajalela. Alam rimba Kalimantan sangat berbeda antara sebelum Indonesia merdeka dibandingkan pada saat ini. Alam Kalimantan dan Sumatera sebagian rusak karena aksi penambangan dan perkebunan kelapa sawit yang membabi buta.

Ada yang berdalih itu adalah penambangan ilegal. Oleh karena penambangan legal memiliki peraturan yang jelas dan keras sanksinya. Bisa jadi. Waktu itu pengemudi kendaraan rentan bercerita jika pelaku penambangan liar begitu banyak, bukan hanya dari rakyat biasa. Tapi apakah aparat dan pemerintah daerah tidak bisa mencegah dan menangkap aksi tersebut?

Bukan hanya di Kalimantan. Dan bukan hanya tentang batubara.

Waktu aku ke Jambi aku sedih melihat begitu banyaknya hutan berubah menjadi kelapa sawit. Kelapa sawit rakus akan air sedangkan hutan rimba merupakan tempat masyarakat adat mendapatkan makanan juga tempat tinggal para hewan dan tanaman lainnya.

Di Bangka juga sama saja. Ada banyak pelaku penambangan liar timah. Tanah menjadi rusak. Selain tak enak dilihat penambangan ini merusak ekosistem daratan dan lautan.

Pembangkit listrik masih penting digunakan saat ini. Ada banyak manfaatnya. Penambangan juga memiliki banyak manfaat dari logam yang ditambang hingga masyarakat sekitar yang bekerja di sana. Tapi jangan lupakan juga tentang kelestarian alam. Percuma hidup makmur, duit bertumpuk tapi ikan menghilang dan alam lingkungan rusak.

Kita tak bisa makan harta benda bukan?!

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada April 17, 2019.

4 Tanggapan to “Sexy Killers, Penambangan Liar, dan Kerusakan Alam”

  1. PLTA pakai batubara kah? Saya baru tahu hal ini,, padahal sejak lahir tinggal di dekat PLTA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: