Ada Apa dengan Puncak?

Ada apa dengan Puncak? Kenapa masih banyak warga yang rela menghabiskan waktu di jalan hanya untuk berlibur di kawasan ini?

Puncak demikian warga Jakarya menyebut daerah Cisarua, Bogor. Meskipun banyak daerah puncak lain di Jawa, seperti di Lembang dan Batu, tapi konotasi Puncak sudah relatif tersemat dengan Cisarua.

Daerah ini berhawa dingin. Pemandangannya khas daerah tinggi dengan latar belakang pegunungan tapi minus persawahan. Perkebunan yang ada adalah kebun teh.

Dulu aku sering ke kawasan ini untuk mengadakan konsinyir. Di kantor lamaku ada majalah internal dan aku menjadi redakturnya. Setiap tiga bulan jelang tenggat terbit maka kami pun menuju kesini untuk melakukan finalisasi majalah, dari urutan artikel, desain, tata letak, pilihan cover, dan sebagainya.

Tempat ini dulu masih ramah. Biasanya di sela-sela rapat kami melakukan wisata kuliner, menyantap sate kambing Kadir yang terkenal, lalu dilanjutkan mencoba-mencoba tempat makan lainnya. Sayangnya waktu itu kami lebih fokus bekerja, jadi tidak sempat jalan-jalan ke tempat wisata di sana.

Sayangnya saat ini daerah Puncak menurutku sudah tak nyaman. Bukan tempatnya, melainkan perjalanan pulang dan kembali dari sana. Astaga macetnya bisa berjam-jam. Tak sepadan antara kenyamanan yang didapatkan dan upayanya menuju ke sana, bagiku.

Kemarin aku ke sana dalam rangka Halal Bihalal Kompasianer. Ya sudah lama aku tak berjumpa dengan teman-teman penulis di Kompasiana. Akhirnya aku menyempatkan diri untuk bergabung.

Dari Depok pukul 15.00 dan tiba di Bogor sekitar pukul 16.00. Ada banyak cara menuju Cisarua. Tapi ketika melihat kemacetan sejak di kota Bogor dan aku harus berganti angkutan umum tiga kali aku langsung ngeper. Wah bisa-bisa baru jam 21.00 atau lebih aku tiba di sana. Sementara aku tak ada niatan untuk menginap.

Ketika memasuki mulut Cisarua aku terpaku. Astaga kendaraan padat dari lajur kiri dan kanan. Aku akhirnya naik ojek menuju ke sana dari Stasiun Bogor.

Rasanya begitu deg-degan merasakan motor yang kutumpangi menyelip di antara kendaraan ke atas dan kembali ke Jakarta. Aku terus-menerus berdoa.

Dalam hati aku bertanya-tanya kenapa sejak Jumat sore begitu banyak yang menuju Puncak. Aku benar-benar tak mengira sepadat ini.

Ada apa dengan Puncak? Sepertinya orang Jakarta hanya ingin melarikan diri sejenak dari lingkungan Jakarta yang penat. Tapi di Puncak mereka kembaki tenggelam dalam kemacetan tak terkira.

Admin Kompasiana akhirnya tiba di lokasi acara. Wajah mereka nampak lesu setelah terpapar kemacetan berjam-jam. Mereka bermobil dan lebih dari tiga jam berurusan dengan kepadatan kendaraan di Puncak.

~ oleh dewipuspasari pada Juni 29, 2019.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: