“Bumi Manusia”, Pesan Humanisme dan Senjata Berupa Pena

Salah satu karya Pramoedya Ananta Toer yang fenomenal adalah “Bumi Manusia”yang merupakan bagian dari sebuah tetralogi. Aku sendiri dulu tak paham kenapa Pram harus diasingkan ke pulau Buru dan buku-bukunya dilarang edar pada saat masa pemerintahan Soeharto hanya karena pada masa pemberontakan PKI, para seniman dicurigai. Namun, lewat buku yang diboyong ke layar lebar, aku tahu bahwa pena itu tajam.

Jika beberapa tahun terakhir banyak yang mengerdilkan sosok RA Kartini, maka mereka tak paham. Ibu Kartini berjuang tidak hanya dengan mendirikan sekolah bagi kaum putri dan memperkenalkan kerajinan ukiran Jepara, ia juga banyak menulis. Ia menulis kolom tentang gagasan dan hal-hal yang dirasanya tak adil masa itu. Ia juga bertukar pikiran dengan sahabatnya yang kemudian menjadi sebuah buku. Lewat tangan dan juga lewat pena ia berjuang.

Demikian juga pesan yang kutangkap dalam film “Bumi Manusia”. Sejatinya film ini lebih banyak membahas tentang perlakuan tak adil yang dialami oleh Nyai Ontosoroh alias Sanikem (Ine Febrianti). Ketika masih muda ia dijual ayahnya ke seorang Belanda, Herman Mellema (Peter Sterk). Ia tak menyerah dengan keadaan, ia kemudian belajar dan belajar sehingga ia tahu caranya berbisnis, mengelola pertanian dan peternakan. Ia tahu banyak hal meskipun ia tak sekolah.

Oh iya sebelumnya kuingatkan mungkin isi artikel ini mengandung spoiler

Berkat kerja keras Nyai Ontosoroh dan bimbingan suaminya, keluarganya kemudian menjadi kaya raya. Ia memiliki banyak karyawan, orang pribumi yang senang dan setia bekerja dengannya. Nyai Ontosoroh punya dua anak, Robert (Giorgino Abraham) dan Annelies Mellema (Mawar Eva de Jongh). Annelies cantik dan lembut hati. Ia mengagumi ibunya dan ingin menjadi pribumi. Sedangkan kakaknya ingin setara seperti para pemuda Eropa. Ia membenci kalangan pribumi dan menganggap mereka tak setara dengannya.

Annelies kemudian berjumpa dengan Minke alias Tirto (Iqbaal Ramadhan), seorang pelajar HBS yang merupakan putra bupati. Ia tampan dan cerdas. Keduanya saling jatuh cinta. Setelah melalui banyak rintangan keduanya akhirnya menikah.

Kehidupan mereka yang nyaman berubah 180 derajat ketika si suami tewas. Nyai Ontosoroh kehilangan semuanya karena ia tak pernah dinikahi secara resmi. Semua kekayaannya dicabut dan jatuh ke anak mendiang suaminya dari istrinya di Belanda. Ia juga kehilangan hak asuhnya. Annelies dianggap tidak pernah menikah dengan Minke.

Film yang Detail
Dari setting, kostum, dan penggambaran kondisi Wonokromo dan daerah Jawa Timur saat itu menurutku Hanung dan timnya bekerja keras dan layak untuk diapresiasi. Memang masih ada kekurangannya dari segi properti tapi masih tertutupi oleh cerita yang menarik dan akting apik pemainnya.

Yang agak kurang yaitu dari segi bahasa. Kata ‘Anda’ rasanya kurang dikenal pada masa itu. Bahasa Jawa dan logat Jawa juga di beberapa bagian juga kurang kental. Padahal bahasa Jawa Timuran lebih medok dibandingkan bahasa Jawa Tengah.

Cerita “Bumi Manusia” di sini hampir sejaman dengan “Kartini”. Bedanya “Bumi Manusia”terjadi di Surabaya yang masa itu relatif kotanya lebih besar dan lebih maju dibandingkan Jepara. Sudah ada trem, kereta api, mesin pembuat es krim, mesin ketik, kafe tempat nongkrong yang elegan, dan juga kereta kuda yang anggun.

Wonokromo dan daerah-daerah di Surabaya nampak hijau, dengan sungai yang bersih dan bebukitan yang asri. Aku terkagum-kagum, benarkah dulu seperti itu. Begitu berubahnya kondisinya setelah satu abad kemudian. Wonokromo yang kukenal selama enam tahun tinggal di Surabaya itu nampak kumuh dan dikenal sebagai salah satu daerah rawan kriminal di Surabaya.

Iqbaal Paling Lemah Di Antara Pemeran Lainnya
Kupikir tokoh utamanya adalah Nyai Ontosoroh karena sebenarnya inti dari film ini adalah humanisme. Bagaimana manusia adalah setara dan kemudian memunculkan politik etis.

Tapi dalam film ini yang lebih menonjol adalab percintaan Minke dan Annelies. Mungkin karena Hanung juga menargetkan penonton milenial. Iqbaal juga sedang dalam masa puncak kariernya.

Dari sejumlah pemeran, rata-rata memberikan akting yang jempolan, baik Ine Febriyanti sebagai Nyai Ontosoroh yang berani membela haknya, juga Whani Darmawan sebagai Darsam yang setia. Pemain lainnya rata-raya juga bagus. Yang malah lemah adalah sosok Iqbaal-nya. Ia masih tidak nampak seperti Minke, ia masih seperti sosok Dilan yang mengenakan kumis tipis. Bagian ada Minkenya malah kurang kusukai, berbeda ketika aku menyaksikan “Dilan 1990 dan 1991”.

Pena Itu Tajam
Minke mendukung perjuangan mertuanya lewat tulisan-tulisan. Ia menyampaikan uneg-unegnya tentang ketidakadilan yang dialami pribumi termasuk oleh nyai yang masa itu hanya dianggap gundik. Ia berani menulis hal-hal yang kontroversi. Berkat tulisannya itu ada banyak pasang mata yang mengamati pengadilan Nyai Ontosoroh. Ada banyak yang membelanya, meskipun kemudian ia juga kalah.

Konon Minke alias Tirto adalah pemfiksian tokoh nyata bernama Tirto. Seseorang terpelajar yang pandai menulis dan dianggap wartawan pertama bangsa Indonesia. Karena tajamnya penanya ia pun menjadi target Belanda.

Meskipun ada kekurangan, film ini tetap menarik untuk diikuti. Waktu itu sebelum menonton, para penonton diajak menyanyikan lagu “Indonesia Raya”. Lagu “Ibu Pertiwi” juga hadir untuk menggugah dan mempertebal rasa nasionalisme.

Ada banyak hal yang perlu diperjuangkan masa kini. Termasuk humanisme. Tantangan Indonesia dengan keragamannya saat ini semakin diuji. Aoakah kita bisa adil dan bersikap humanis ke saudara-saudara kita?

Detail Film:
Judul: Bumi Manusia
Sutradara: Hanung Bramantyo
Pemeran: Sha Ine Febriyanti, Iqbaal Ramadhan, Mawar Eva de Jongh, Donny Damara, Ayu Laksmi, Bryan Domani, Jerome Kurniawan, Whani Darmawan, Giorgino Abraham, Christian Sugiono, Peter Sterk
Genre : Drama
Skor : 8.3/10
Gambar: Falcon Pictures

~ oleh dewipuspasari pada Agustus 25, 2019.

3 Tanggapan to ““Bumi Manusia”, Pesan Humanisme dan Senjata Berupa Pena”

  1. […] Yang terakhir adalah dua karya adaptasi novel Pramudya Ananta Toer. “Bumi Manusia” lebih unggul daripada “Perburuan” untuk segi eksekusi cerita, jajaran pemain, juga desain kostum dan latar tempatnya. Pemeran yang berkesan adalah Ine Febriyanti senahai Nyai Ontosoroh, Jerome Kurnia sebagai Robert Suurhof, dan Whani Darmawan sebagai Darsam. Ulasan berikut ini. […]

  2. Bagus film nya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: