Tahun 2019, Film-film yang Berkesan dan Mengecewakan

Tahun ini aku jarang menyaksikan film Indonesia. Jika dihitung-hitung jumlah film yang kutonton tak melebihi angka 20. Sebuah penurunan jika dibandingkan saat aku masih menjadi sebuah kontributor khusus film Indonesia.

Oh iya ada beberapa film kelas FFI yang belum kutonton. Di antaranya “Kucumbu Tubuh Indahku”, “Ambu”, dan “27 Steps of May”. Tahun ini yang kutonton adalah “Keluarga Cemara”,”DreadOut”, “Antologi Rasa”, “Mantan Manten, “Perburuan”, “Bumi Manusia, “Gundala”, “Perempuan Tanah Jahanam”, “Koboy Kampus”, “Dilan 1991”, “Dua Garis Biru”, “Foxtrot Six”, “Si Doel The Movie 2”, “Makmum”, “Mahasiswi Baru”, “Love for Sale 2”, dan “Bebas”. Baru 17 film, tidak sampai seperlima film yang diproduksi.

Dari film-film yang kutonton tersebut sebagian besar bergenre drama dan beberapa di antaranya horor, seperti “DreadOut”, “Perempuan Tanah Jahanam”, dan “Makmum”. Lainnya ada yang bergenre laga dengan sentuhan fiksi sains seperti dalam “Foxtrot Six” dan “Gundala”. Juga ada genre komedi seperti “Mahasiswi Baru” dan “Koboy Kampus”, dan bumbu sejarah seperti dalam “Perburuan” dan “Bumi Manusia”.

Yuk kupas satu-persatu.
Dari tiga film horor yang kutonton, kualitasnya rasanya memiliki penurunan. Pasalnya patokan horor seram itu seperti “Kuntilanak” versi Julie Estelle dan “Pengabdi Setan”. “Perempuan Tanah Jahanam” bagus di awal tapi kemudian kedodoran (ulasan di sini). “Makmum” memiliki efek seram usai menontonnya, bikin deg degan jika hendak sholat tahajud (ulasan di sini). Sedangkan “DreadOut” memberikan sensasi seperti bermain video game hanya sayangnya narasinya begitu buruk (ulasan berikut ini). Ya, untuk horor juaranya menurutku filmnya Joko Anwar.

Bagaimana dengan drama? Tema romansa masih banyak dibidik. Namun tema lainnya juga mulai digali seperti dalam kerusuhan Mei 1998 dalam “27 Steps of May”, kisah penari lengger pria dalam “Kucumbu Tubuh Indahku”, kisah biarawati dalam “Ave Maryam”, juga tema yang umumnya banyak dihindari, yaitu tentang pernikahan diri karena MBA.

Untuk roman menurutku “Dilan 1991” kurang sepadan dengan film sebelumnya. Vanesha tetap kaku dan kurang natural sebagai Milea. Dilan kurang wow seperti dalam “Dilan 1990”.

Sedangkan “Antologi Rasa” tak lebih baik dari novelnya. Kisahnya tentang gadis hedon yang mudah galau. Ceritanya tak menarik hanya pemeran wanitanya, Carissa Perusset ini kuakui sungguh pandai menangis. Tangisannya waktu ia mendapati upayanya mendapatkan pria idamannya selama ini sia-sia nampak berkesan. Oh ya satu lagi, tembang OST dari Geisha enak didengar, judulnya “Rahasia”. Ulasan di sini dan di situ.

Atiqah Hasiholan mampu memberikan nyawa dalam “Mantan Manten”. Ia menjadi perias manten dengan adat Jawa, cerita yang tak banyak dikulik. Sedangkan sekuel “Si Doel” mulai membosankan. Untunglah ada bang Mandra. Ulasan Si Doel berikut ini.

Film “Bebas” kurang bisa menyamai film versi Koreanya, “Sunny”. Terasa kurang menyentuh. Yang menarik di sini adalah jajaran pemeran versi dewasanya. Untuk versi remaja yang menarik adalah aktris remaja pendatang baru Maizura yang juga bernyanyi dalam film ini. Lagunya “Aku Tanpamu” yang dibawakannya sungguh indah dan enak didengar. Baskara Mahendra juga mencuri perhatian. Ulasannya ini dan itu.

“Dua Garis Biru” memiliki jalinan cerita yang rapi dan jajaran pemain yang solid. Hampir semua pemainnya memiliki kualitas akting yang apik. Terutama Cut Mini. Zara eks Jkt48 mulai menancapkan kukunya di sini, selain mudah menangis, dan aku mengapresiasinya, ia perlu memerhatikan artikulasi. Ulasan di sini.

“Keluarga Cemara” versi milenial kurang dramatis jika dibandingkan versi originalnya. Ceritanya terkesan hanya fokus ke Euis. Apresiasi buat Nirina sebagai emak dan juga ke Widuri sebagai Ara yang berakting natural. Ulasan berikut ini.

Sedangkan “Love for Sale 2” kehilangan sisi magisnya. Ceritanya relatif datar. Meskipun tokoh-tokoh penunjang seperti para kru tukang jahit memberikan warna, tapi cerita yang dominan ke sosok Ibu dan beralur lambat, membuatnya agak membosankan. Ulasan di sini.

Dari genre drama, “Dua Garis Biru” juaranya versiku.

Dari sisi komedi “Mahasiswi Baru” sedikit lebih baik daripada “Koboy Kampus”. Cerita “Koboy Kampus” ngalur ngidul tak jelas seperti orang sedang melantur. Adegan menarik yaitu kisah salah satu tokoh pendukung yang naksir salah satu gadis cantik. Cerita sosok inilah yang malah kocak. Ulasan berikut ini.

Untuk film laga bercampur fiksi sains, “Foxtrot Six” kurang seapik “The Raid” dari sisi pertarungan, juga narasinya. Namun latar jaman modern dan utopianya menarik. Di sini Rio Dewanto dan Chicco Jerikho tampil menonjol. Ulasan di sini.

Sama halnya dengan “Gundala”. Pertarungannya kurang wah. Bagian menarik di sini adalah awal mula, perkenalan dunia superhero Indonesia, juga pewarnaannya. Dari dua film ini “Gundala lebih unggul”. Ulasannya berikut ini.

Yang terakhir adalah dua karya adaptasi novel Pramudya Ananta Toer. “Bumi Manusia” lebih unggul daripada “Perburuan” untuk segi eksekusi cerita, jajaran pemain, juga desain kostum dan latar tempatnya. Pemeran yang berkesan adalah Ine Febriyanti senahai Nyai Ontosoroh, Jerome Kurnia sebagai Robert Suurhof, dan Whani Darmawan sebagai Darsam. Ulasan berikut ini.

Cerita “Perburuan” itu berpotensi. Tentang prajurit PETA yang desersi dan kemudian menjadi buruan. Sayangnya eksekusinya buruk dan adegan akhirnya terasa janggal. Ulasan berikut ini.

Juaranya untuk adaptasi novel Pram adalah “Bumi Manusia”.

Dari keseluruhan film yang kutonton. Film terburuk kusematkan ke “DreadOut” dan film paling menarik tahun ini yaitu “Bumi Manusia”. Selamat buat mas Hanung. Semoga terus aktif berkarya.

~ oleh dewipuspasari pada Desember 29, 2019.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: