Ada Nuansa “Batman” dalam film “Gundala”

Sejak film “Gundala” diumumkan bakal diperankan oleh Abimana Aryasatya (“Belenggu”, “Warkop DKI Reborn”, “Sabtu Bersama Bapak”), aku jadi antusias dan penasaran untuk menyaksikannya. Apalagi Joko Anwar selaku sutradara film ini begitu gencar mempromosikan film ini lewat akun twitternya. Tapi rupanya filmnya di bawah ekspektasiku. Hanya cukup bagus.

Film Gundala ini mengisahkan awal mula sosok patriot di Jakarta. Ia adalah anak kecil yang awalnya takut terhadap petir.

Sejak kecil Sancaka kehilangan sosok ayahnya (Rio Dewanto) yang dijebak. Ibunya (Marissa Anita) juga kemudian dikiranya menghilang. Ia pun kemudian terlunta-lunta hidup di jalanan Jakarta yang keras.

Ia sempat bertemu dengan Awang (Faris Fadjar), sesama anak jalanan. Ia mengajarinya bela diri dan mengingatkannya untuk mengurus dirinya sendiri. Tapi keduanya kemudian terpisah.

Sancaka dewasa (Abimana Aryasatya) kemudian bekerja sebagai satpam dan hidup sederhana di sebuah apartemen. Ia menyaksikan Jakarta makin bobrok dengan banyak kriminal dan pejabat yang korup. Nuraninya terusik, apalagi ketika ia melihat tetangganya, Wulan (Tara Basro) dan adiknya, Tedy, diganggu preman. Ketika ia dikeroyok dan kemudian nyawanya di ujung tanduk sebuah petir menyambarnya. Ia kembali segar, sehingga preman pasar pun merasa dongkol dan kembali mengejarnya.

Sancaka kemudian menggunakan kostum untuk menutupi identitasnya. Ia pun makin berani untuk membela ketidakadilan.

Di tempat lain Pengkor sedang merencanakan sesuatu yang berbahaya. Ia memiliki jaringan kriminal dan anak buah yang terdiri dari anak yatim piatu yang diasuhnya. Tidak banyak yang berani melawannya. Ridwan Bahri (Lukman Sardi), seorang anggota dewan mencoba menghubungi pria berkostum untuk meminta bantuannya.

Paragraf berikut mengandung spoiller.

Awal cerita cukup bagus. Pemeran Sancaka kecil, Muzakki Ramdan, berhasil menghidupkan sosok Sancaka kecil. Ia nampak rapuh sekaligus pemberani. Meskipun pemeran Awang (Faris Fadjar) dialognya agak kaku masih bisa dimaklumi.

Dulu saat kecil aku membaca dan memiliki komik “Gundala” karya Hasmi. Ketika itu ceritanya tentang sebuah bulu domba misterius yang diperebutkan banyak pihak. Ia dibantu Pangeran Mlaar dari luar planet.

Saat Sancaka sudah dewasa, Abimana cukup berhasil memerankannya. Meskipun dari segi perkelahian, ia masih agak lambat dan gerakannya masih kurang luwes. Dari jajaran pemeran dewasa, akting yang mencuri perhatian malah dari segi musuh, seperti pemeran Pengkor, Bront Palarae (Pengabdi Setan, My Stupid Boss) dan pemeran Ghazul, Ario Bayu (Sultan Agung, a Copy of My Mind).

Dari segi visual dan sinematografi juga cukup bagus, meskipun tidak menggunakan teknologi CGI secanggih Hollywood. Hanya yang agak mengganggu adalah koreografi pertarungannya, terutama ketika Gundala mulai resmi menjadi patriot dan ketika ia menghadapi sejumlah besar anak-anak Pengkor. Perkelahiannya nampak asal-asalan dan kurang enak untuk dinikmati.

Padahal sejak “The Raid” dan “Headshot”, serta “The Night Comes for Us”, level koreografi pertarungan semakin apik. Dari anak-anak Pengkor, pertarungan yang bisa dinikmati hanya ketika melawan Cecep Arif Rahman yang memerankan Swarabatin. Cecep memang sudah termasuk pesilat kelas wahid. Tapi sekelas Hannah Al Rashid yang berperan sebagai Cantika juga aksi bela dirinya mengecewakan, padahal ia juga seorang pesilat. Bisa jadi catatan Joko Anwar untuk memperbaiki divisi ini agar film berikutnya lebih apik.

Dari segi skoring jelas tidak ada masalah, bahkan patut diacungi jempol. Joko Anwar memang patut memertahankan Aghi Narotama, Bemby Gusti, dan Tony Merle. Aghi dkk memang sering bekerja sama dengan Joko Anwar, termasuk di film “Pengabdi Setan”. Oh iya sempat muncul lagu “Kesunyian Malam” yang merupakan lagu yang dibawakan sosok “Ibu” di salah satu adegan.

“Nuansa Batman dan DC Comics”
Entah kenapa sejak adegan pertama ini aku merasakan nuansa film DC Comics. Terutama, Batman. Ada yang seolah-olah menjadi Batman, Inspektur, Harley Quinn, Scarecrow, Ra’s Al Ghul, Two-Face, Penguin, dan sebagainya. Juga ada adegan yang mengingatkanku pada adegan dalam film Trilogi Batman yang diperankan Christian Bale, film Batman lainnya, dan Suicide Squad.

Suasana film “Gundala” dibuat suram dan muram seperti dalam film “Batman”. Ia kehilangan kedua orang tuanya dan awalnya apatis seperti sosok Bruce Wayne. Penasihatnya, Pak Agung, mengingatkan pada Alfred.

Oleh karena sosok jaksa di sini tidak seperti di film Batman, maka diubah menjadi dewan perwakilan rakyat. Dalam “Dark Night” Joker berupaya memengaruhi anggota jaksa dan polisi. Ridwan Bahri mengingatkan pada inspektur James Gordon.

Sosok mahasiswa misterius yang diperankan Abigail Asmara, Desti Nikita, mengingatkan pada Harley Quinn. Pengkor merupakan campuran karakter Ra’s Al Ghul, Two-Face, dan Penguin dengan para ‘anak-anaknya’. Kamal Atmaja mengingatkan pada Scarecrow.

Adegan dan ceritanya juga mengingatkan pada “Batman”, “Slumdog Millionaire”, dan “Headshot”. Adegan racun mengingatkan pada racun yang dibuat Scarecrow, pertarungan pendemo dan penjaga pabrik juga mengingatkan pasukan polisi melawan pasukan Bane, sedangkan adegan pertemuan Gundala dan Ridwan di atap juga mengingatkan pada adegan di “Batman”. Kemunculan “Sri Asih” juga sekilas mirip dengan kehadiran Wonder Woman. Anak-anak yatim ini juga pernah dimunculkan di film “Headshot”. Dan adegan di kereta membuatku ingat pada film India, “Slumdog Millionaire’

Detail Film:
Judul: Gundala
Pemeran: Tara Basro, Abimana Aryasatya, Lukman Sardi, Rio Dewanto, Bront Palarae, Ario Bayu, Faris Fadjar, Cecep Arif Rahman, Muzakki Ramdan, Rendra Bagus, Asmara Abigail, Kelly Tandiono, Hannah Al Rashid, Daniel Adnan, Arie Tulang, Sudjiwo Tedjo, Aqi Singgih, Cornelio Sunny, Marissa Anita, Zidni Hakim, Donny Alamsyah, Pevita Pearce
Genre: Laga, superhero
Skor: 7.2/10
Gambar: IMDb

~ oleh dewipuspasari pada September 12, 2019.

2 Tanggapan to “Ada Nuansa “Batman” dalam film “Gundala””

  1. saya malah belum nonton ini film

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: