Kisah-kisah Selama Ngekos dan Tetangga yang Absurd

 

Sejak memutuskan merantau, aku telah mengalami berpindah-pindah tempat tinggal. Dari satu tempat tinggal berganti tempat tinggal lainnya. Aku punya beberapa teman kosan dan mengalami memiliki tetangga yang memiliki tingkat polah yang bagiku absurd.

Dulu ada teman kosan yang suka nebeng kamar. Padahal satu kamar terisi dua orang dan kamarnya juga sempit. Alhasil kehadiran tetangga kosku itu malah membuat ruang gerakku semakin sempit.

Aku tak tahu kenapa ia suka bertetangga. Ia membawa beberapa barangnya ke kamarku sehingga ada alasan suatu ketika ia kembali ke kosanku. Untunglah aku kemudian pindah kosan. Lama-kelamaan aku tak nyaman di kamarku sendiri.

Dulu kosanku begitu penuh sementara kamar mandi hanya ada dua. Alhasil kami pun antri mandi pagi untuk berangkat kuliah. Kami antri sejak pukul lima pagi dan membuat daftar antrian. Kami juga mengantri untuk mencuci baju, menjemur, dan juga memasak. Untuk urusan baju ini kadang-kadang bajuku sudah bau karena tak kunjung dijemur. Oh ya untuk tamu kami juga punya sandi morse untuk tiap-tiap penghuni. Kami tentunya harus hafal sandi kami. Hahaha.

Saat kemudian mengontrak rumah. Ada beberapa hal yang membuatku was-was. Dulu aku pernah mengontak rumah yang atasnya baru berupa dak. Di sana adalah tempat menjemur. Beberapa kali saat aku menjemur aku menemukan botol-botol minuman keras yang sudah kosong. Pertanda bagian atas rumah sewaan ini pernah menjadi tempat pesta miras. Wah seram juga ya.

Kemudian aku punya tetangga yang memiliki ulah aneh. Ada yang suka menjemur bajunya di pagarku. Awalnya aku mengira ia mengira rumahku masih kosong. Kemudian aku menemukan sepatu, alas kaki dijemur di pagar rumah. Aku mulai kesal ketika kemudian handuk-handuk bergelantungan di pagar rumah. Padahal aku sudah pindah dan syukuran rumah beberapa bulan sebelumnya.

Eh setelah lapor ke pemilik rumah ART nya suka jemur handuk di rumahku, aksi itu tak kunjung berhenti. Beberapa kali kejadian itu masih terulang. Tak hanya handuk juga baju-baju. Akhirnya jemuran di pagar itu kuambil dan kutaruh di tiang jemuranku. ART nya baru kapok.

Aneh masak menjemur di pagar orang. Setelah itu masih aja ada orang yang suka menjemur sepatu dan alas kaki di pagarku. Ada juga yang menjemur karpet di tembok pembatas samping. Ini juga bikin jengkel karena mereka masuk ke halamanku untuk menjemurnya dan lalu mengangkatnya secara diam-diam. Kalau yang sudah ijn aku tak mempermasalahkannya.

Ulah lainnya yaitu dengan santainya membuang bekas tebangan pohon ke halaman rumahku. Lagi-lagi kayak nggak kenal tetangga. Aku sudah di situ terhitung lebih dari satu tahun. Karena keseringan akhirnya aku lempar kembali sampah batang, ranting, dan daun itu. Tuman. Memangnya halamanku tempat sampah. Timbunan daun cukup yang dari pohonku saja.

Memang membuang ranting dan batang pohon ke tukang sampah suka dikenakan biaya lagi. Biasanya Rp 20 ribu per tiap kantung selain satu tempat sampah. Aku baru selesai habis bersih-bersih halaman dan rumah dan sudah terkena sekitar Rp 50 ribu untuk mengangkut sampahnya. Alhasil ketika ada yang dengan santainya tak mengambil lagi sampah miliknya ketika jatuh ke halamanku, aku begitu kesal. Lagi-lagi.

Eh dulu ada juga yang parkir mobil persis di depan pagar rumah. Awalnya motor masih bisa keluar dan kupikir karena ada acara di rumahnya. Eh tuman. Yang berikutnya sampai aku susah untuk keluar dengan jalan kaki. Duh meski aku nggak punya mobil mbok jangan seperti gitu ke tetangga. Aku jadi sedih. Ya lagi-lagi aku harus ke rumah pemiliknya. Ia punya garasi tapi malas memparkir di halaman rumahnya karena buat tempat main anak-anaknya. Tapi jadinya malah menyusahkan tetangga. Setelah kudatangin baru deh dia nggak mengulangi perbuatannya.

Di sekitar sini masih banyak mereka yang ogah menempatkan mobilnya dalam rumah. Ada juga yang mobilnya dua dan satunya sembarangan ditaruh di jalan. Aku setuju dengan Perda Depok untuk menenda mereka yang menaruh mobil sembarangan di jalan. Soalnya merepotkan tetangga.

Oh iya ada lagi yang menaruh kucing meninggal sudah beberapa hari. Mungkin karena di rumahku ada tiga kucing, maka ia mengira semua kucing di gang itu milikku. Ya, akhirnya si kucing malang itu kukubur di bawah pohon. Kasihan.

Ya itulah ada dinamika kehidupan bertetangga. Kadang-kadang ada saja yang absurd dan membuatku sedih juga kesal.

~ oleh dewipuspasari pada Januari 18, 2020.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: