Suatu Ketika di Pos Kesehatan

Setelah aku dianggap ‘lulus’ di pos budaya, haji, dan lifestyle, aku dipindahkan ke pos kesehatan dan rumah sakit. Di sini aku beberapa kali beririsan dengan pos kriminal. Aku pun mengalami kembali penyesuaian.

Apabila dibandingkan dengan pos terakhirku, ini yang paling berat. Di antara semuanya aku paling menyukai pos budaya, karena itu ‘aku banget’. Aku bisa sering-sering main ke galeri, ke Cak Durasim, dan menyaksikan berbagai pameran dan seni pertunjukan. Seperti bermain-main sekaligus menambah pengetahuan baru.

Dulu aku juga pernah sesekali menggantikan pos ekonomi dan pendidikan. Aku juga pernah seminggu penuh di pos luar negeri yang membuatku harus pulang begitu larut, di atas pukul 24.00. Ya, pos budaya adalah yang terbaik.

Bergelut di pos kesehatan memang membuatku lebih dekat dengan persoalan sehari-hari. Rumah sakit tak pernah sepi. Selalu saja ada yang datang, dirawat atau berkonsultasi.

Aku mendapat tur cepat mencari berita di rumah sakit, berawal dari unit gawat darurat, kemudian ke bagian anak dan spesialis, lalu berakhir ke kamar mayat. Di ruangan kamar mayat, aku diajari cara membaca penyebab kematian. Aku mempelajari pola dan kemudian beralih mempelajari kasus-kasus tentang kematian khusus. Dua hal ini yang biasanya bisa dijadikan berita.

Penyebab kematian khusus ini membuatku tertegun ketika menjadi rookie di pos ini. Rupanya ada saja kasus kecelakaan, bunuh diri, dan lainnya. Kasus kecelakaan meningkat biasanya pada saat malam tahun baru. Entahlah, sepertinya ada korelasi antara kecelakaan, mabuk-mabukan, dan kebut-kebutan pada malam tahun baru.

Sumber beritaku utama adalah UGD, kamar mayat, dan bagian anak. Jika tidak ada hal-hal yang bisa kubuat berita maka aku pun menjelajahi satu demi satu rumah sakit atau menanyakan ke humas RS dan dokter-dokter kenalanku. Bisa juga aku yang membuat berita, aku membuat tema sendiri, kemudian menjadwalkan wawancara dengan narasumber. Tentang pengobatan alternatif dengan herbal, misalnya.

Ada yang bilang bagian kesehatan dan kriminal adalah wartawan ‘juru tega’. Jika sebuah ruangan rawat inap anak penuh oleh kasus demam berdarah maka itulah yang bisa menjadi bahan berita. Apabila kemudian ada kasus unik seperti penderita penyakit langka,itu juga bisa menjadi sebuah berita.

Tentunya menulis berita seperti ini tak hanya perlu data angka dan keterangan dari pihak rumah sakit juga dokter. Aku perlu tambahan informasi dari keluarga penderita. Bagian ini yang paling tidak enak. Ketika mereka menderita, aku malah bertanya-tanya. Ada kalanya mereka marah-marah, dan aku bisa maklum. Ada kalanya mereka menangis dan mencurahkan semua beban di hatinya kepadaku.

Aku menjadi cepat dewasa di sini. Jiwaku jadi lebih tua dari usiaku masa itu yang masih baru lulus kuliah.

Ada beberapa kasus yang membuatku was-was ketika hendak melakukan wawancara ke narasumber. Yang pertama tentunya wawancara ke keluarga korban perkosaan dan menengok kondisi korban tersebut. Sebagai sesama perempuan, kondisi ini paling sulit. Aku tidak banyak bertanya, kubiarkan mereka bercerita jika mampu. Jika tidak sanggup, aku pun tak memaksa. Apabila ada psikolog yang menemani, ini akan jauh lebih baik.

Suatu ketika di kota tersebut sedang terjadi kasus gizi buruk. Sebelumnya pernah terjadi flu burung. Lagi-lagi aku harus mencari tahu dari sisi keluarga korban tersebut. Aku harus menjadi si raja tega lagi, bertanya ini itu dan mendatangi rumah mereka, untuk melihat sendiri bagaimana kondisi sehari-hari mereka.

Cerita-cerita ini kukenang. Ada beberapa yang ingin kulupakan, tapi malah terus membekas.

Gambar: pixabay

~ oleh dewipuspasari pada Januari 26, 2020.

3 Tanggapan to “Suatu Ketika di Pos Kesehatan”

  1. Kagum membaca ketegaran mbak. Tetap semangat..

  2. nice post mbak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: