Panik Itu Lebih Berbahaya

Ketika informasi tentang pasien positif Corona disampaikan pada Senin lalu, aku sedang ada di kantor di Depok. Waktu itu kami terkejut ketika rumah pasien terletak di Depok, di mana lokasinya juga tidak begitu jauh dari lokasi kerja. Tapi kami tetap mencoba untuk tidak panik. Panik tidak akan menyelesaikan masalah, malah bikin susah sendiri. Sebenarnya yang menyumbang kehebohan adalah maraknya berita hoaks dan beberapa berita yang berlebihan. Padahal realitanya situasi di Jakarta Timur dan Depok juga biasa-biasa saja. Memang ada yang bermasker, tapi mereka yang mengenakannya memang umumnya sedang pilek batuk. Ada juga yang menggunakan masker di jalan karena debu dan polusi yang memang susah dihindari.

Melihat berita bahwa ada yang menimbun dan menjual masker dengan harga berlipat, kemudian terjadi aksi borong masker dan hand sanitizer, juga menimbun sembako rasanya jadi ikutan sedih. Sebegitu panikkah sebagian warga terhadap virus corona?

Memang virus ini menyebar demikian cepat. Korban terjangkitnya cukup banyak dan menyebar ke 87 negara. Tapi persentase kematiannya masih jauh lebih kecil dibandingkan virus berbahaya lainnya seperti SARS dan MERS. Angka kematian penyakit tertinggi di Indonesia masih didominasi oleh stroke, jantung, diabetes, hipertensi, gagal ginjal kronis, dan kanker. Ini berarti penyakit karena gaya hidup masih lebih berbahaya. Informasi ini bukan berarti menyepelekan virus corona. Tetap waspada dan menjaga kesehatan diri sendiri dengan menyantap makanan sehat dan rajin mencuci tangan. Ketika sedang kurang sehat, mending beristirahat di dalam rumah dan mengurangi bepergian.

Oh ya kenapa panik itu buruk? Karena seseorang yang panik akan sulit berpikir jernih. Ia menimbun sembako, membeli masker dengan harga tinggi, kemudian mengisolasi dirinya. Jika banyak yang berperilaku panik maka stok sembako akan menipis sehingga harga bisa terpacu naik. Stok bisa kosong sehingga ada yang tidak mendapat bagian. Inflasi bisa membumbung tinggi, sehingga hanya yang mampu nanti bisa membelinya. Ketika semua mengisolasi diri maka pusat perbelanjaan akan sepi, perkantoran sepi sehingga aktivitas perekonomian akan lesu. Akibatnya bisa banyak terjadi pengangguran dan sebaiknya. Kepanikan akan menimbulkan efek domino yang imbas kerugiannya akan jauh lebih besar.

ulu aku pernah membaca buku dari Michael Chrichton yang berjudul “Fear”. Ada pihak-pihak yang melakukan komoditas dari ketakutan manusia. Mereka menyebarkan sesuatu yang memicu masyarakat untuk panik. Kepanikan ini bisa menjadi senjata yang berbahaya bagi pihak-pihak yang memanfaatkannya. Kalian bisa membacanya di buku tersebut tentang alasan agar tidak mudah panik menghadapi sesuatu karena bisa jadi kepanikan kita malah dimanfaatkan.

Yuk saling menjaga kesehatan agar diri sendiri dan lingkungan sekitar tetap sehat. Waspada itu penting, asal jangan panik. Moga-moga vaksin segera ditemukan dan ancaman virus ini cepat menghilang.

gambar: pixabay

~ oleh dewipuspasari pada Maret 5, 2020.

6 Tanggapan to “Panik Itu Lebih Berbahaya”

  1. State of Fear kali mba, bukunya Michael Crichton. Menurut saya ketidak jelasan pemerintah di awal2 jg berperan besar juga dlm kemunculan gelombang ketakutan. Karena mrk membiarkan celah untuk itu sehingga dimanfaatkan pihak tdk bertgjwb. Sebagai contoh yg kmrn respon2 yg tdk jelas. Termasuk kebijakan2 yg nggak nyambung. Lalu ttg hrg masker dan hand sanitizer. Sekarang sudah mendingan dg humas baru. Ya ngerti inflasi lbh ngeri dr virus tp fokus kali ini hrsnya sektor kesehatan dulu..

    • Yup bener, State of Fear. Seingatku aku pernah mengulas bukunya. Sepakat Phebie, komunikasi pemerintah kali ini kurang bagus sementara di pihak lain banyak pihak yang menyebarkan hoaks.

  2. Nice mbak, . Orang yang kaya borong sembako, barang langka harga naik, orang miskin malah bisa mati kelaparan gara-gara harga sembako mahal. Lebih jahat manusia dari pada virus jadinya kan. Hidup mati untuk orang miskin sangat tipis sehari-harinya.
    Hmm, saya jadi ikutan kesal liatnya.

    • Kalau sudah panik memang sepertinya lupa berpikir. Ancaman pengangguran dan inflasi besar-besaran bisa terjadi jika kepanikan ini tidak dikendalikan. Yang rugi juga masyarakat sendiri.

  3. Setuju dg Anda. Dan panik berlebihan jg menghasilkan egoisme, sprti org2 yg borong2 itu.

    Oya, Mbak Dewi, izin copas n share di medsos ya tulisan Anda ini. Keren.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: