Ruang Privat vs Kemudahan Berkomunikasi


Beberapa saat sekali ia menerima telepon. Dari nada berbicaranya yang berubah menjadi lebih formal aku tahu ia sedang menerima telpon dari kantornya. Padahal kami sedang berlibur ke daerah Nusa Tenggara. Malamnya aku mendengar ia mengigau soal pekerjaan.

Itu beberapa tahun silam sebelum ponsel makin canggih dan kemudian muncul aplikasi percakapan seperti Telegram, Line, dan Whatsapp. Pada masa itu masih jamak digunakan SMS, telepon, dan Yahoo Messenger.

Ada beberapa orang di sekelilingku yang seolah-olah susah benar-benar terlepas dari pekerjaan. Ia kemana-mana membawa laptop, termasuk liburan hari raya. Sewaktu-waktu ia bisa ditelpon urusan pekerjaan.

Kupikir pekerjaanku dulu sebagai kuli tinta yang sulit dipisahkan dari urusan pekerjaan selama waktu libur yang sangat berharga. Dulu hari liburku hanya sehari dalam seminggu. Oleh karenanya aku merasa waktu itu begitu berharga. Aku hanya ingin istirahat, sekedar membaca atau membayar utang tidurku.

Agar benar-benar terlepas dari dunia saat itu maka satu-satunya cara aku pun mematikan ponsel. Memang ada telpon di kosan. Tapi sejak telpon hape yang makin murah, telpon itu semakin jarang berdering.

Omong-omong tentang telpon kosan, dulu menerima telpon dari seseorang sangatlah menyenangkan. Ketika telpon itu tak pernah lagi kuterima, rasanya ada sesuatu yang kurang. Aku terus menantinya semalaman itu hingga mataku ingin terpejam. Dan perasaan itu hadir setiap harinya hingga aku bisa menerima perubahan tersebut.

Kini ruang komunikasi itu semakin mendekatkan. Jika dulu ia hadir di sebuah keluarga dan komunitas, kini ia langsung menyentuh individual. Ia makin menyentuh ruang privat.

Bagiku nomor telepon itu sangatlah pribadi. Ia lebih privat daripada alamat blog dan alamat e-mail. Apalagi jika seseorang langsung mengirimkan pesan kepadaku lewat aplikasi percakapan atau malah langsung menelponku. Ia seperti langsung mengetuk pintu kamarku.

Ketika spam mulai memasuki Telegram atau Whatsapp aku meradang. Sudah cukup penawaran barang atau jasa melalui e-mail atau SMS. Mereka terlalu jauh melakukannya. Dan seharusnya mereka tak melakukannya. Aku akan langsung memblokir nokor tersebut yang melanggar area privatku, kecuali jika memang ada sedikit minat.

Tentang aplikasi percakapan, adakalanya aku terganggu. Sering. Aku tak suka membahas pekerjaan pada hari libur. Di luar jam kerja. Kecuali memang sangat darurat.

Aku berupaya untuk profesional. Aku akan bekerja sepenuh hati pada jam-jam kerja dan hari kerja. Tapi biarkan aku menikmati momenku di luar jam-jam tersebut.

Tolong jangan masukkan nomorku ke grup-grup percakapan tanpa seijinku. Aku juga akan melakukan hal yang sama kepada orang lain. Berada di sebuah kelompok yang orang-orangnya tak kukenal dan tak akrab membuatku gelisah. Apalagi jika percakapan tersebut isinya dangkal.

Adakalanya aku berharap teknologi komunikasi tak semasif saat ini. Adakalnya aku merasa terteror, seolah-olah tak ada ruang untukku menikmati privasi. Oleh karenanya aku sungguh kesal melihat respon pemerintah yang menganggap kebocoran data marketplace seolah-olah kejadian yang biasa.


Memang pada era seperti ini keistimewaan privasi sudah tak bisa lagi diharapkan. Ruang mata-mata ada di mana-mana. Tapi biarkan setidaknya kami bisa menyimpan kunci-kunci kamar privasi kami di tempat yang kami anggap ‘aman’. Ketika rasa aman itu tak lagi ada jaminan dan pemerintah seolah-olah pasrah, aku tahu itu adalah alarm bahaya.

Gambar: pixabay dan pexels/eyeball3000

~ oleh dewipuspasari pada Mei 18, 2020.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: