Gadis Malam

Banyak nasihat bijak menyarankan untuk segera bekerja pada pagi hari. Disebutkan pagi hari adalah waktu yang baik memulai untuk kembali berproduktivitas. Namun jarang yang menyebut mereka yang nokturnal, lebih aktif pada malam hari daripada pagi dan siang hari.

Aku sebenarnya tipe nokturnal. Mungkin karena aku lahir saat tengah malam memasuki dini hari. Aku mulai aktif saat matahari terbenam. Pada masa-masa itu aku merasa otakku lebih mudah menyerap untuk belajar dan bekerja.

Ketika suasana mulai sepi, di situlah aku mulai merajut mimpi dengan caraku sendiri. Aku mulai mengetik ini itu, membaca ini dan itu, juga merenungi ini dan itu. Bahkan ada masa-masa saat berkuliah aku memiliki waktu belajar mulai dari tengah malam hingga pagi menjelang. Masa-masa ketika aku masih pemberani dan tidak banyak terkontaminasi cerita-cerita seram.

Saat aku bekerja sambil berkuliah pada malam hari, aku merasa baik-baik saja. Meskipun kuliah rata-rata baru berakhir pukul 21.30 dan biasanya masih dilanjut dengan belajar kelompok, dan kemudian mengerjakan tugas di rumah hingga tengah malam, aku juga baik-baik saja. Hanya pagi harinya di kantor, antara pukul 10.00-12.00 dan pukul 15.00-17.00 aku mulai merasa lemas.

Namun, masyarakat meskipun sudah modern masih sulit menerima mereka yang nokturnal. Ada banyak hal yang disematkan ke mereka, seperti kaum pemalas, dan sebagainya. Apalagi jika pelakunya kaum nokturnal. Dulu waktu masih jaman sekolah aku bisa menyiasatinya dengan tidur siang agar tidurku cukup dan bisa tetap bangun pagi.

Tapi ketika dewasa dan bekerja, tuntutan untuk mulai aktif sejak pagi kadang-kadang menyiksaku. Akibatnya ada masa-masa pagi dan siang baik di rumah maupun di kantor aku yang seperti zombie, mencoba untuk hidup dan berperilaku ‘normal’. Untuk itu aku harus banyak minum kafein agar mataku dapat terus terjaga. Anehnya meski saat siang hari, aku mengantuk, malamnya aku kembali ‘normal’ dan aktif.

Ya, aku ingin berubah menjadi gadis pagi, tidur lebih awal sehingga tidak merasa lemas saat pagi hari. Masyarakat masih belum bisa menerima kaum nokturnal, menjadi gadis malam bukanlah sebuah pilihan.

Gambar: pixabay

~ oleh dewipuspasari pada Juni 8, 2020.

4 Tanggapan to “Gadis Malam”

  1. Tapi kadang malam bisa semakin produktif. Mungkin karena gak terlalu bising sehingga proses berpikir lebih lancar. Yang penting tetap sehat mbak.

  2. sepertinya aku mengalami hal sama.. kaum nokturnal

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: