Ketika yang Tampil Dalam Film Menjadi Sesuatu yang Riil

band garasi

Yang kau tinggalkan hanyalah luka

Dan semua menghilang…

Tembang dengan judul “Hilang” ini pada tahun 2006 menjadi hits. Bandnya yang bernama Garasi juga laris manggung di berbagai provinsi. Yang membuat tembang dan band ini unik karena band ini lahir dari sebuah film yang berjudul “Garasi”. Ini membuat hal-hal yang sebelumnya ada di ranah fiksi kemudian jadi riil. Alhasil batasan antara karya rekaan dan dunia nyata kemudian menjadi tipis.

Sebelum “Garasi” aku ingat sepuluh tahun sebelumnya, tahun 1996, ada juga film dengan tema band yang kemudian band dan tembangnya juga kondang. Ia adalah “That Thing You Do! yang dibawakan The Wonders. Film dengan judul “That Thing You Do” bercerita tentang band tahun 60-an yang mendadak sukses dengan satu tembang hitsnya. Di luar filmnya, tembang tersebut banyak diputar di radio. Kesuksesan mereka dari yang ‘sekadar’ beken di film kemudian juga sukses di dunia nyata. Hanya sayangnya mereka hanya merilis satu album alias one hit wonder. Adanya gap antara latar waktu di film,tahun 1960-an, dan situasi di dunia nyata, tahun 1990-an, membuat band ini terasa kurang ‘nyata’.

Ini berbeda dengan film “Garasi”, yang latar waktu di film dan di dunia nyata tak banyak berbeda. Tempat-tempat yang ada di film di antaranya juga eksis pada masa itu. Sehingga bisa jadi penonton percaya bahwa asal mula kelahiran band Garasi seperti yang terlihat dalam film. Meskipun jika jeli, pastinya yang ada di film jelas-jelas adalah fiksi karena nama-nama personelnya yang berbeda dengan di dunia nyata. Ayu Ratna (vokal), Fedy Nuril (gitar), dan Aries Budiman (drum) di film memiliki nama Gaia, Aga, dan Awan.

Dalam film “Garasi” memang personel, proses bermusik, dan tembang-tembang dalam film ini yang menjadi jualan utamanya.  Hal ini memang dikarenakan mereka adalah film drama dengan tema band. Menurutku ceritanya tetap menarik ditonton hingga sekarang. Konflik-konflik di dalamnya masih relevan hingga sekarang, seperti pertengkaran antarpersonel band, masalah psikologi anak yang lahir di luar pernikahan, juga stigma masyarakat terhadap anak di luar nikah.

Oleh karena ceritanya fokus tentang band, maka gambar-gambar banyak menampilkan para personelnya yang asyik dengan alat musiknya masing-masing, berlatih bersama,dan kemudian tampil manggung. Adanya unsur padepokan dengan musik tradisionalnya dan toko kaset yang unik makin melengkapi unsur musikalnya.

Kembali lagi tentang kisah fiksi yang menjadi riil, ada lagi film Indonesia yang unsur utama dalam filmnya menjadi kenyataan. Itu adalah “Filosofi Kopi”. Rupanya kedai Filosofi Kopi juga ada versi riilnya, didirikan oleh pemeran utama dalam film tersebut, Chicco Jerikho dan Rio Dewanto, yang dalam film bernama Ben dan Jody. Ini menarik karena hal ini bisa membuat penonton mudah mengasosiasikan “Filosofi Kopi” dalam film dengan kedai Filosofi Kopi dalam dunia nyata. Bagi yang suka akan filmnya tentunya akan penasaran dengan kedai satu ini.

Band Garasi sendiri di dunia nyata kemudian sukses menelurkan tiga album hits. Fedy dan Aries masih tetap bernaung di Garasi, meski belum ada album baru lagi. Demikian pula dengan kedai Filosofi Kopi juga masih beroperasi hingga kini. Hal ini menarik dan membuktikan unsur dalam film bisa menjadi riil, serta batasan antara dunia khayalan dan nyata terasa samar.

Gambar: LastFM

~ oleh dewipuspasari pada Juli 2, 2020.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: