“Musik dari Pesisir”, Film Tentang Anak Pesisir dan Musik

Lanskap pantai dengan pasir yang putih dan karang-karang yang kokoh memanjakan mata penonton. Namun daya tarik film “Musik dari Pesisir”, ini bukan sekadar panorama pantai, melainkan seperti judulnya, komposisi musik indah yang dihasilkan oleh anak-anak pesisir, juga tentang kisah persahabatan itu sendiri.

Cerita berfokus pada dua anak laki-laki, Samsul dan Tejo. Tejo meskipun memiliki kekurangan fisik, adalah anak laki-laki yang penuh semangat. Ia dijauhi teman-temannya karena ada rumor yang tersebar di masyarakat bahwa ayahnya seorang pencuri hanya dikarenakan ayahnya belum pulang dari melaut dengan menyewa perahu milik salah seorang warga.

Kedua sahabat itu kerap mendengar suara musik dari rumah yang konon disebut kosong dan berhantu. Mereka pun penasaran dan menghampiri rumah tersebut. Rupanya ada sesuatu yang menarik yang ditawarkan oleh pemilik rumah tersebut. Yaitu, belajar musik. Ketika semangat berlatih musik itu hadir, Samsul dan Tejo menghadapi ujian persahabatan.

Musik menjadi tema dalam film anak-anak yang tayang di TVRI ini. Beragam peralatan musik, dari biola, rebab, dan juga alat musik eksperimental dari berbagai benda dihadirkan di sini. Siapa nyana dari benda-benda yang mudah ditemui sehari-hari akan bisa menghasilkan musik yang indah asal harmonis dan perpaduan nadanya serasi.

Melihat anak-anak yang penuh semangat mencobai alat musik dan memainkanya terasa menyenangkan. Telinga juga jadi terhibur. Namun, sayangnya porsi untuk berlatih alat musik dan memainkannya di dalam film ini terasa kurang banyak dan kurang menonjol. Padahal dengan judul musik, sebaiknya porsi untuk musiknya akan lebih dominan.  Aku berharap mendapatkan lebih banyak adegan yang mengeksplorasi tentang musik, musik-musik pesisir, dan instrumen musik unik yang hanya ada di kawasan pesisir.

Penggunaan kerang sebagai salah satu instrumen alat musik itu gemilang. Akan lebih baik jika tiap-tiap instrumen musik ini dieksplorasi, dari nada yang dihasilkan dan proses membuatnya, bukan hanya ketika tampil di pertunjukan.  Meski demikian, penggunaan benda-benda seperti tong tempat sampah,  galon, botol dengan air, sendok garpu, dan sebagainya sebagai instrumen musik patut diapresiasi. Musik yang disuguhkan juga indah.

Keterbatasan juga dalam dialognya yang dalam beberapa adegan nampak terlalu serius untuk anak-anak, sehingga nampak kurang natural dan seperti pertengkaran ala orang dewasa. Sebenarnya akan lebih bagus lagi jika menggunakan bahasa daerah, karena nuansa lokalnya akan lebih nampak.

Di luar keterbatasannya, aku menyukai cerita dengan muatan lokal ini. Mata dan telinga terhibur oleh visual panorama yang indah dan musik yang unik.

Sumber gambar:  TVRI

~ oleh dewipuspasari pada September 11, 2020.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: