Pasar Ikan Kramat Jati Potensial dan Perlu Ditata

Pasar ikan kramat jati

Jalan siksaan, aku menyebutnya seperti itu karena setiap kali melewati tempat ini hampir selalu macet parah. Kalau pagi, biasanya masih ada petugas yang membersihkan sampah pedagang-pedagang sayuran yang juga berjualan di pinggir jalan. Jika malam, giliran pedagang ikan yang bikin macet. Keberadaan Pasar Ikan di Kramat Jati ini sangatlah potensial.

Aku sendiri suka berbelanja ke Kramat Jati malam-malam. Biasanya aku suka membeli sayuran seperti sawi, kol, wortel, dan labu siam mungil di sini. Juga aneka bumbu seperti bawang putih, bawang merah, daun serai, dan juga tempe tahu dan ikan cue buat si Mungil, Nero dan kawan-kawan. Kualitasnya bagus dan segar bila dibandingkan belanja di tukang sayur. Tapi karena lumayan jauh dan biasanya baru komplet jam 9 malam ke atas, paling-paling ke sini sebulan sekali.

Sedangkan untuk Pasar Ikan Kramat Jati dulu ketika tidak begitu ramai, aku suka berbelanja ke sini. Beli udang, rajungan, atau aneka ikan di sini. Tapi kini rasanya susah sekali berbelanja ke sini. Selain berada di pinggir jalan yang tak begitu lebar dan sarat kendaraan, tempatnya juga becek.

Pada hari-hari tertentu seperti dua hari jelang tahun baru begitu ramai. Banyak yang berbelanja ikan dan udang untuk sajian saat malam tahun baru.

Menurutku Pasar Ikan Kramat Jati ini potensial. Sama halnya dengan TPI di Muara Angke. Andai kata Jakarta dengan uang APBD-nya yang begitu buanyaaak (memang sangat besar dan seharusnya bisa banyak menghasilkan pembangunan) serius membuat pasar ikan yang keren, sepersekiannya saja dari Pasar Ikan Modern Tsukiji, maka pastinya bisa. 

Ya mungkin tidak semodern Tsukiji, bisalah lokasi Pasar Ikan Kramat Jati dipindahkan ke tempat yang nyaman bagi penjual dan pembelinya. Dulu setahuki sempat dipindahkan tapi tempatnya kurang terang dan banyak yang tak tahu sehingga pembeli bingung. Lokasinya juga tak berbeda jauh dengan lokasi awal dan tetap outdoor, hanya di halaman dan tak lagi di pinggir jalan.

Karena Indonesia setiap tahunnya pasti mengalami musim hujan, maka atapnya bisa dibuar semi permanen. Ada pengaturan limbah yang baik untuk air membersihkan ikan sehingga tak becek dan tak bau. Juga ada sistem pendingin yang baik agar ikan yang tak laku malam itu bisa dijual keesokan paginya.

Pembeli diberi kenyamanan dengan tiket parkir yang murah atau standar (tanpa uang jasa preman) dan ada pujasera untuk menyantap makanan apabila pembeli ingin memasak hasil belanjanya di situ. Jadi di situ juga ada pujasera yang melayani pembeli untuk bersantap hasil laut. 

Siapa tahu di situ juga ada koperasi hasil olahan ikan, seperti otak-otak ikan, aneka pepes ikan, kerupuk udang, petis ikan, dan masih banyak lagi sehingga semua tak terbuang sia-sia bila tak laku. 

Ide ini sudah lawas. Aku sudah pernah menulisnya tapi rasanya tak ada perubahan hingga sekarang, malah memburuk, becek, bau dan bikin macet. Padahal sangat potensial. Pasar Ikan Kramajati bisa jadi ikon wisata Jakarta. 

Gambar dari Liputan6

 

~ oleh dewipuspasari pada Januari 2, 2021.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: