Ayah

Ayah
Aku jarang bercerita tentang ayah. Seingatku aku hanya pernah bercerita tentang Beliau saat bercerita tentang memancing dan soal petani gula. Oh iya aku pernah menulis tentang dongeng-dongeng Ayah pada saat mati lampu di sebuah kumpulan cerpen. Ada banyak hal dari diriku yang jika kupikir-pikir terpengaruh oleh ayah.

Ayahku kerap dipanggil Pak Cowboy karena kebiasaannya dulu suka mengenakan topi laken. Sepertinya kebiasaan ayah itu menurun padaku. Aku dulu juga pernah ada masa suka menggunakan topi laken hehehe. Berlagak seperti pemilik ranch, memiliki perkebunan dan peternakan.

Ayahku lumayan fasih berbahasa Jawa kromo alus padahal ia berdarah Sunda. Ia sering ditunjuk memberikan sambutan berbahasa Jawa. Kadang-kadang aku malu karena aku sendiri tak pandai berbahasa Jawa kromo, aku juga malas belajar bahasa Sunda.

Waktu aku belum bisa membaca, ayah suka memerlihatkanku komik-komik Herge seperti Tintin dan komik Yo, Susi, dan Yoko. Ia memanggilku Snowy. Ketika ku tahu kalau Snowy adalah anjing Tintin aku tak marah karena ia anjing lucu dan setia.

Ketika aku mulai bisa membaca aku kemudian membaca semua komik Tintin yang ada. Meski tak semua ceritanya kupahami saat itu. Waktu kelas empat SD aku mulai membaca serial Old Shatterhand dan Winnetou karya Karl May. Karl May membahas cerita menjelajahi benua Amerika, lalu ke Afrika, dan Asia, termasuk ke Indonesia.

Gara-gara terpapar komik Tintin dan serial petualangan Old Shatterhand, aku memutuskan jadi wartawan seusai lulus kuliah. Hah anak komputer jadi wartawan, kawan-kawan yang tak begitu mengenalku keheranan dengan pilihanku. Bukan hanya mereka, teman-teman sesama wartawan juga heran ketika mengetahui latarku sebagau anak TI.

Ya setidaknya aku pernah mencicipi dunia wartawan meski hanya 1.5 tahun. Oleh karena wartawan media harian waktu 1.5 tahun itu terasa begitu lama. Ada banyak pengalaman yang kurasai dari dunia hiburan, fesyen, seni, hingga dunia kriminal.

Aku senang sekali bisa berjumpa dengan gitaris Mr. Big dan ngobrol dengan aktris aktor beken masa itu. Aku pura-pura sok cool wawancara dengan Cornelia Agatha. Hanya berdua. Padahal dulu aku cukup ngefans ia waktu masih kecil, ketika ia masih jadi Sarah di sinetron Si Doel Anak Betawi. Duh dulu aku terlalu cool untuk minta foto, padahal pengin:p

Ayah biasanya senang mendengarkan ceritaku ini dan itu ketika aku mencari berita. Aku bercerita sering ngendon di area kamar mayat, bagaimana dulu ikut teman-teman melakukan investigasi reklame liar, dan bagaimana pura-pura cool-nya aku melakukan wawancara berbahasa Inggris padahal aslinya sudah bolak balik kebelet pipis.

Ayah paling suka mendengarkan ceritaku tentang perjalananku ke situs-situs purbakala. Aku bercerita tentang kompleks candi besar di Jambi, lalu tentang peninggalan Sriwijaya dan kerajaan Palembang. Kutunjukkan bukti peninggalan tsunami Aceh, jejak Kutai Kertanegara, keraton Cirebon, keraton Sumenep, dan situs peninggalan Majapahit.

Ayah bersinar-sinar ketika aku bercerita tentang India karena ia suka sekali nonton dan membaca kisah-kisah pewayangan. Aku bercerita bahwa di Manali ada Candi Arimbi dan situs Gatotkaca. Lalu tempat tersebut terletak di kaki Himalaya. Kami berdua membayangkan cerita Pandawa Seda, ketika para Pandawa menyepi menuju Himalaya.

Lalu ayah menugaskanku ke kampung halaman kami, ke Sumedang. Ia senang sekali dengan kisah Pajajaran dan Siliwangi. Ia bercerita tentang Pangeran Kornel yang merupakan leluhurnya. Selanjutnya, perjalanan ke Sumedang seperti melakukan napak tilas, perjalanan ke rumah leluhur kami. Terasa emosionil. 

Meski saat itu perjalanan kali pertama ke Sumedang, tapi aku merasa familiar dengan cerita yang disampaikan guide museum, sama halnya ketika aku mengunjungi keraton-keraton di Cirebon. Aku merasa tak asing dengan suasana dalam museum yang dulunya semacam istana tersebut.

Ayah pada saat-saat terakhir sebelum mulai kehilangan kesadaran bercerita tentang pusaka keluarga. Ia memintaku melakukan napak tilas ke Kuningan. Aku tak tahu ada situs apa di sana dan kenapa harus ke sana.

Masih banyak peninggalan kerajaan di nusantara yang belum kutelusuri, termasuk jejak kerajaan Sunda dan turunannya seperti Tarumanegara, Galuh, dan seterusnya. Ah jejak Airlangga juga belum serius kutelusuri.

Kadang-kadang aku bertanya-tanya dalam diriku, mungkin aku lebih cocok belajar arkeologi daripada TI. Lalu bertualang seperti Indiana Jones atau Lara Croft. Atau mungkin aku kembali mengenakan topi laken dan memiliki ranch.

Selamat jalan Ayah, akan kuingat terus cerita-cerita dan nasihatmu.
Hidup bak petualangan kan, Ayah. Ayah telah lelah bertualang dan kini saatnya istirahat dengan damai.

~ oleh dewipuspasari pada Maret 16, 2021.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
<span>%d</span> blogger menyukai ini: