Workshop Penulisan Sejarah di Muskitnas

Cara Saya Menulis Artikel Sejarah PopulerDari kecil aku suka ke museum. Entahlah apa alasannya. Aku suka memerhatikan koleksinya, suasananya, dan kini makin senang karena suka ada berbagai event di museum. Siang tadi (11/11) aku mengikuti workshop penulisan sejarah yang diadakan Museum Kebangkitan Nasional (Muskitnas) selama kurang lebih tiga jam


Meski badan kurang fit gara-gara baru dini hari sampai rumah usai menyaksikan konser yang lumayan kacau, aku tetap dengan penuh semangat menuju Muskitnas. Karena harus ke kondangan nikahan, maka waktunya mepet banget untuk tiba ke acara. Eh sampai ini acaranya agak molor hingga hampir 30 menitan. Oke tak apa-apa aku bisa mengambil nafas dulu dan berkenalan dengan beberapa peserta. Yang menyenangkan aku berjumpa narasumber penelitianku dari Museum Nasional.

Mengawali acara kami menyanyikan Indonesia Raya dengan sikap sempurna, lalu ada dua sambutan tentang upaya pengelola museum agar terhindar dari 7S dan 7K, di antaranya museum sepi, serem, sunyi, sendiri, klenik, dan lain-lain. Hahaha iya sih dulu beberapa museum lekat dengan citra tersebut.

Materi pertama bertajuk Cara Saya Menulis Artikel Sejarah Populer yang dibawakan penulis dari Historia yakni Petrik M. Ia mendefinisikan tulisan sejarah populer sebagai tulisan pendek tentang sejarah yang disajikan secara populer kepada khalayak umum. Bisa ditemukan di media massa, media sosial atau blog. Artikelnya bisa kurang 500 atau 1000 kata lebih, dengan waktu baca sekitar 3-10 menit.

Seperti berita, maka menulis sejarah populer sih sebaiknya tetap menggunakan rumus 5W 1 H juga metode sejarah. Metode sejarah itu berupa metode heuristik, klarifikasi/kritik sumber, interpretasi/imajinasi, dan penulisan/historiografi.

Mengapa penulis perlu menguasai metode sejarah? Oleh karena saat ini banyak beredar konten yang sumbernya tidak jelas dan menyesatkan masyarakat, serta tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. Metode sejarah bisa menjadi solusi relevan dalam melawan informasi tak bertanggung jawab tersebut.

Cara memulai menulis artikel populer tentang sejarah yakni banyak membaca dan kemudian kroscek, lalu temukan sudut pandang yang menarik, jarang dipakai atau belum pernah digunakan. Kemudian, mulailah dengan hal menarik terkait peristiwa atau sesuatu yang hendak kita tulis. Alur penulisan sejarah populer yang bisa dipakai itu biasanya kronologis/runtut atau maju mundur

Nah, sumber masalah dalam tulisan sejarah saat ini umumnya sumber yang digunakan adalah sumber sekunder yang jauh dari peristiwa dan pelaku sejarah. Kemudian, tema penulisan terlalu umum dan kurang menggali hal baru. Gaya penulisannya terlalu formal dan terkesan menggurui. Terakhir, sudut pandang penulisan dan berpikirnya terlalu mainstream.

Lantas bagaimana agar tulisan sejarah populer bisa menarik? Caranya sesuaikan dengan konteks kekinian, pilih judul sederhana yang menarik, gunakan sudut pandang yang tak umum, lalu tulis dengan gaya bahasa yang mengalir dan mudah dipahami masyarakat.

Agar tulisan sejarah aman maka gunakan sebanyak mungkin sumber referensi sesuai kebutuhan dan pastikan sumber tersebut kredibel. Sumber tulisan jelasdan ditampilkan, bisa di footnote, bodynote, atau nama/sumbernya disebutkan langsung di paragraf. Apabila ada sumber yang menyudutkan satu pihak, maka bandingkanlah dengan sumber lain yang berseberangan

Materi berikutnya disampaikan Adinda Saraswati tentang SEO dalam Penulisan Sejarah. Ini adalah cara agar artikel tulisan kita bisa muncul di halaman pertama pencarian. Mesin mencari biasanya menyukai helpful content, yang bersifat experience, expertise, authoritativeness, dan trustworthines.

Ia juga bercerita perbedaan short tail dan long tail keywords yang punya plus minus masing-masing dan ditutup dengan cara memaksimalkan artikel di mesin pencarian dengan elemen-elemen SEO, seperti heading, metadata, dan sebagainya.

Acara kemudian ditutup dengan tanya jawab. Sebenarnya aku sudah pernah ikut yang SEO, kalau yang kudatangi hari ini lebih sederhana, hanya memang masih suka malas kulakukan hahaha. Wah kayaknya harus mulai kupraktikan nih.

Aku pulang dengan KRL. Sampai rumah aku bingung kok antara naik ojek sampai lokasi dengan naik KRL lanjut ojek kok tarifnya nggak jauh beda ya. Tapi nggak apa-apa aku jadi nggak gitu pegal naik KRL dan udara bakal lebih bersih.

~ oleh dewipuspasari pada November 11, 2023.

Tinggalkan komentar