Belanja Ikan Pindang, Pulangnya Dipalak Hingga Dikejar Kucing Jalanan

Sejak menemukan ada penjual ikan cue alias ikan pindang dengan harga hemat, aku jadi tak perlu jauh-jauh ke Kramat Jati. Memang sih tetap lebih murah di sana, cuma ongkos transportasi dan waktunya lumayan, belanjanya juga harus malam hari.
Biasanya aku membeli ikan pindang berupa tongkol karena kucing lebih suka. Ini merupakan ikan tongkol yang diawetkan dengan cara sederhana yaitu diasinkan. Aku membeli untuk diriku dan kucingku tentunya. Kami makan sama-sama hahaha.
Buat kucingku biasanya kurebus. Tapi mereka lebih lahap jika digoreng karena lebih gurih. Agar lebih cepat kenyang, aku suka mencampurkan ikan tongkol goreng dengan nasi. Cuma ya ada saja kucing yang protes dengan cara ini. Maunya ikan ya daging ikan saja, tanpa nasi, tanpa duri.
Aku suka belanja ikan pagi-pagi. Jalanan sudah rame pada hari biasa sejak pukul enam pagi. Kata ibu penjualnya, ia sudah membereskan dagangan pukul sepuluh pagi. Namanya saja pasar kaget sih, jadi tidak bisa lama-lama karena dikuatirkan mengganggu kenyamanan, juga karena sudah ada pasar yang resmi.
Karena aku sudah beberapa kali membeli di lapak sang ibu, aku sering dapat diskonan. Dua cue utuh bisa dapat Rp35 ribu. Ini bisa untuk 2-3 hari karena kucingku banyak. Aku sendiri juga suka memasaknya dengan ditumis dan sedikit kecap.
Dengan cekatan sang ibu membersihkan bagian dalam ikan dan memotongnya kecil-kecil. Bagian kepalanya suka kuminta, buat kucing. Sedangkan sisa bagian lainnya buat para kucing jalanan yang antri.
Ada beberapa kucing yang suka terlihat di lapak sang ibu. Biasanya ada kucing oyen yang duduk tenang dengan mata sayu mengantuk. Kata si ibu sih ia sudah makan banyak sekali, jadi tinggal tidur.
Aku jadi suka membeli di situ karena ibunya nampak sayang ke para kucing. Ia tidak menendang atau mengusir, malah memberinya makan dengan bagian sisa ikan yang masih berdaging, bukan tulang ikan belaka.
Setelah membeli ikan dan sayuran, biasanya aku pulang dengan berjalan kaki. Nah, sepanjang jalan aku harus siap dipalak para kucing liar.
Hidung mereka tajam sekali. Ada yang langsung jalan mendekati. Ooh aku paling tak tahan dengan kucing yang berbadan dua atau kucing kecil. Langsung kukeluarkan bagian kepala, yang disambut dengan senang hati.
Baru satu kucing, aku tahu ini bakal tak mudah. Akan ada kucing lainnya yang menjadi preman dan tukang palak setelah membaui ikan.
Ya, aku langsung disambut kucing jantan yang badannya ramping dan liat. Melihat gelagatnya, aku tahu ia minta jatah apabila aku ingin aman saat melewati gang yang dijaganya.
Kurogoh bagian kepala, eh ke mana ya. Gara-gara bagian kepala nyangkut, akhirnya ia dapat dua potong ikan. Ya nggak apa-apa sih, kelihatan sekali ia lapar dan belum sarapan.
Kucing lainnya melihatku. Duh. Aku pura-pura tak lihat, eh ia malah mengejarku. Ampun. Aku kuatir orang-orang salah tangkap mengiraku pencuri, melihat situasiku. Akhirnya aku menyerah dan kuberikan satu potong ikan dan segera berlalu.
Untunglah aku tak berjumpa kucing liar lainnya. Aku jalan menatap ke depan, jangan sampai kontak mata dengan para kucing preman.
Sampai di rumah, aku sudah disambut kucing banyak. Mereka memintaku bergegas. Ayo segera keluarkan ikannya. Kami lapar, kami belum sarapan.
Entah kenapa aku mematuhi mereka. Kubagi beberapa potong dan berupaya adil, meski ada saja yang protes karena jatahnya kurang banyak.
Setelah mencuci tangan dan melihat panci yang kurendam, aku jadi ingat. Bukannya sebelum berangkat, mereka sudah sarapan makanan kalengan dan makan ikan segar rebus bersama-sama. Ada tiga ekor ikan salem berukuran besar yang kumasak dan aku tidak kebagian.
Ooh mereka pandai sekali memasang wajah memelas. Ya kalau kuhitung-hitung mereka bisa enam kali makan seharian dan aku sering tak bisa menolak.
Gambar: Nusantara Food Biodiversity
