Keyong Terjebak

Pintu kucing itu sementara ditutup. Gara-garanya ada kucing liar penyakitan yang bikin kucing rumahan takut. Malangnya bagi si Keyong, ia turut terblokir saat itu. Pasalnya ia tukang rebut. Ke sana ke sini ikut makan, bikin kucing lainnya terganggu.
Si Keyong tak putus asa. Ia coba dobrak penghalang. Oh badannya yang mungil tak kuat. Ia pilih jalan lainnya.
Ia kucing yang tak sabaran. Padahal pemilik rumah pasti memberinya makan. Hanya, ia diminta menunggu setelah kucing lainnya cukup makan. Menunggu sejenak lima atau sepuluh menitan.
Namanya Keyong tapi ia tak lambat bergerak. Hanya otaknya yang masih lamban. Ia pun memanjat jendela dan kepalanya masuk jendela yang berjeruji seperti penjara.
Ooh kepala Keyong berhasil masuk. Tapi anggota badan lainnya tak bisa menyusut. Semakin Keyong meronta, kepalanya jadi terkurung. Kucing-kucing lain jadi menahan nafas menatapnya, adegan ini seperti mimpi buruk.
Pemilik rumah juga ikut cemas. Ia ketakutan. Bagaimana jika kepala Keyong terus menyangkut di jendela. Ia sudah berpikir untuk menelpon Damkar. Keyong meskipun kucing liar harus diselamatkan.
Pemilik rumah lupa bahwa kucing punya sembilan nyawa. Badan kucing juga punya daya fleksibilitas yang sulit dipahami manusia.
Keyong melakukan sesuatu pada wajah dan kepalanya. Hop hop hop dengan banyak percobaan ia berhasil melepas kukungan. Kepalanya lepas dari jeruji jendela. Ia selamat. Kucing-kucing yang menatap adegan berbahaya itu ikut bersorak. Keyong jadi bintang.
Pemilik rumah melepas halangan. Pintu menuju teras dibuka. Keyong berjalan tegap dengan percaya dirinya. Sayangnya fancy feast incarannya sudah lenyap tak tersisa. Ia harus puas dengan markotops rasa tuna udang.
