Tentang “The Rose of Versailes” Dulu dan Kini

Aku menatap jendela dengan resah. Langit malam tampak gelap seperti biasanya. Namun, bagiku langit malam ini dan langit malam-malam sebelumnya terasa berbeda. Malam ini ia terasa lebih berat, seolah-olah menggantung dan menyimpan keresahan banyak manusia. Bagaimana bila kekecewaan warga memuncak, apakah langit akan berjatuhan?
Perasaan berat ini makin kurasakan ketika aku menyaksikan film animasi “The Rose of Versailles” yang tayang di Netflix sejak setahun silam. Seharusnya aku merasa senang menontonnya karena Oscar dan Andre adalah dua di antara sekian karakter manga kesayangan.
Ya, nasib mereka malang di kisah tentang kejatuhan era kerajaan Prancis ini. Meski mereka tokoh fiktif, aku tetap sedih. Mereka tewas karena peluru, juga sempat merasa sakit dan perih. Namun, Oscar juga bahagia karena Andre tak perlu menunggu lama di alam kematian, hanya beda sehari. Keduanya juga pasti lega karena berhasil memperjuangkan nurani untuk rakyat dan negeri yang mereka kasihi.
Happy tragic ending.
Perasaan sedih dan gelisah ini melebihi dari yang kurasai saat mengetahui akhir manga ini pada waktu aku duduk di bangku SMA. Dulu, aku juga sedih ketika mengetahui karakter utama tewas pada saat revolusi Prancis dengan berpihak ke rakyat.
Namun, kini aku melihat situasi dan pola yang mirip antara yang ada di kisah Lady Oscar dengan kondisi di negeri pisang. Pajak yang kian mencekik, kebutuhan pokok yang makin mahal, jurang miskin kaya yang makin lebar, dan golongan tertentu yang berfoya-foya di atas penderitaan mereka yang tertindas.

Bukankah ini seperti copy paste cerita satu dan lainnya? Apakah kisah penutupnya akan sama?
Manga “The Rose of Versailles” Ternyata Tahun 70-an?
Pagi hari di pertengahan Juli ini tentu tak akan menyenangkan jika hanya membahas sesuatu yang suram. Meski semalam aku gelisah, tapi perasaan itu tidak mengurangi kekagumanku pada karya Riyoko Ikeda. Yuk kita bahas kualitas animasi dan narasi dari kisah Lady Oscar.
Coretan gambar manga karya Riyoko Ikeda ini detail dan indah. Coretannya bisa menangkap sisi glamour dari segi kostum para karakter hingga bangunan dan lanskap yang menjadi latar cerita. Detail ekspresi para tokoh juga terlihat, demikian juga dengan perubahan wajah dan tabiat para karakternya. Wajah dan ekspresj Maria Antoinette nampak lebih lembut menjelang ia dihukum pancung, dibandingkan saat ia masih remaja.
Aku tak menyangka manga ini dibuat tahun 1972-1973, usia manga ini sudah separuh abad lebih. Kualitas gambarnya masih impresif hingga saat ini. Desain penampilan karakternya juga semua tampan dan cantik. Desain Oscar yang androgini juga menarik. Ia bisa tampak gagah, juga tampak cantik.
Dulu seingatku juga ada versi serial animasinya dengan judul “Lady Oscar”. Animasi ini juga rupanya dibuat akhir tahun 70-an. Persisnya tayang pada 1979-1980 di Jepang. Wah dulu saat menonton aku tidak mengira animasi tersebut dibuat dua dekade sebelumnya.
Baru kusadari, banyak animasi yang tayang di Indonesia pada era 1990-an ternyata merupakan karya yang jauh lebih tua. Aku tak bisa menutup rasa terkejutku ketika mengetahui animasi Kiki dan Koko (“Chip n’ Dale”) dibuat tahun 1940-an. Ooh kekuatan gambar animasi mungkin berbeda, lebih lintas era dibandingkan format film lainnya.

Berhubung karena durasi, ada banyak kisah dan tokoh yang dipangkas di versi animasi Netflix, apabila dibandingkan dengan versi serial animasi dan manganya. Fokus cerita hanya pada keempat tokoh, Marie Antoinette, Oscar François de Jarjayes, André Grandier, dan Hans Axel von Fersen. Tak ada tokoh seperti Madame du Barry, Rosalie Lamorlière, Duchess of Polignac.
Animasi yang naskahnya ditulis oleh Tomoko Konparu dan disutradarai oleh Ai Yoshimura ini lebih sederhana. Sisi musikalnya lebih kuat. Bagian yang diisi lagu ini bukan hanya bertujuan mendramatisasi dan menguatkan adegan, namun juga membantu untuk meringkas cerita dan transisi ke era berikutnya.
Dari gaya, para animator yang tergabung dalam MAPPA tetap mempertahankan gaya Riyoko Ikeda. Bentuk wajah dan penampilan masih mirip dan tak berbeda jauh dengan versi manganya. Hanya, pewarnaan yang lebih hidup dan terang, sehingga meski ceritanya tragis, animasi ini tidak terasa suram.
Animasi “The Rose of Versailles” punya kesan yang berbeda padaku saat aku masih SMA dan yang telah menua. Hati kecilku berkata agar kisah penutup antara di kisah tersebut dan di negeri pisang bakal berbeda. Jangan sampai langit berjatuhan karena kelelahan menyangga keluh kesah manusia yang hidup di bawahnya.
Gambar: Netflix dan Anime Network

Wakakak, umur…. 🤭
Waduh