Belum Puncak Musim Mangga

Asyik sudah banyak mangga yang dijual. Dengan penuh semangat aku memperhatikan satu-persatu jenis mangga yang dipajang. Eh, kok harganya masih lumayan mahal ya. Ada yang sampai Rp55 ribu per kilogram. Jangan-jangan belum masuk puncak musim mangga ya?!

Sudah lama aku tidak lewat jalanan Kramat Jati. Alhasil aku tak tahu buah apa yang lagi musim. Apabila buah mangga sudah musim, wah bakal banyak penjual mangga berjajar di bagian tertentu Kramat Jati. Bagi penggemar mangga maka ini sungguh-sungguh momen hakiki dan menyentuh hati.

Sayangnya momen tersebut belum hadir. Ya final boss buah-buahan belum waktunya tampil.

Karena belum puncak musim, harga mangga lumayan mahal. Kualitas buahnya juga kurang memuaskan. Kulihat ada yang kurang matang, tapi tak sedikit pula yang kematangan

Duh kok nggak dipilah-pilah ya. Padahal satu buah yang busuk itu bisa menular ke buah lainnya. Itu pelajaran yang kudapat dari Little House on the Prairie saat keluarga Almanzo Wilder panen apel raya.

Kembali ke mangga. Di Jawa Timur dan Jawa Tengah, mangga disebut pelem. Namun, entah bagaimana ceritanya mangga disebut ‘poh’ di Malang. Jadinya pedagang yang berjualan mangga biasanya berteriak ‘poh golek, poh gadung, poh madu’.

Duh tiga jenis mangga itu adalah favoritku. Sayangnya saat ini susah sekali menemukan mereka. Kalau rasa poh gadung masih mirip dengan poh harum manis. Sedangkan poh golek yang besar, langsing, dengan rasa yang sedikit asam dan tekstur agak kenyal, mulai jarang terlihat.

Yang paling kurindukan adalah poh madu. Duh ini favoritku saat masih kecil. Digenjur-genjur alias diremas-remas sebelum mangga dikupas lalu diseruput sarinya sungguh menyegarkan. Seperti namanya, mangga madu ini sungguh manis dan segar.

Mangga madu ini sangat berserat. Selain digenjur-genjur, cara asyik menikmatinya adalah dibuat sarang kotak-kotak. Mangga dipotong dengan kulitnya, lalu dengan bantuan pisau, bagian mangga dikerat kotak-kotak sampai menyentuh kulit tapi tidak sampai merusak kulit.

Setelah selesai dikerat, maka direkahkan. Ini cara makan mangga buat anak-anak yang praktis dan menyenangkan.

Mangga manalagi adalah mangga yang menurutku unik. Teksturnya kesat dan agak liat. Rasanya manis tapi tak berair. Jika masih muda, enak sekali buat rujak manis atau dibuat rujak gobet alias rujak tumbuk.

Dulu aku, kakak, dan ibu suka sekali bereksplorasi mangga. Dan, penjual sayur alias mlijo memuaskan rasa ingin tahu kami dengan kadang-kadang membawakan mangga liar dan mangga yang antimainstream. Ada poh randu, poh lanang, poh podang, poh kweni, dan masih banyak lagi.

Aku paling tak suka poh kweni. Aromanya yang tajam membuatku merasa aneh ketika menyantapnya, meski hanya seiris. Tapi, aku kadang tak menolak jika diberi.

Nah, di tempat penjual buah kemarin yang kusinggahi mereka menjual berbagai jenis mangga. Ada harum manis, manalagi, gincu, kweni, dan budi raja. Yang terakhir ini aku tak punya petunjuk sama sekali seperti apa rasanya. Mungkin suatu kali aku akan mencobanya.

Harganya masih begitu tinggi. Rata-rata Rp40 ribu sekilo. Padahal buah mangga cukup berat. Sekilo bisa hanya dapat dua buah untuk mangga yang besar.

Akhirnya aku hanya membeli mangga manalagi. Sekilonya Rp 22 ribu, termurah dibanding yang lain. Aku mendapat lima buah manalagi matang berukuran mungil.

Sepertinya sudah waktunya aku main dan belanja buah di Kramat Jati. Kawasan ini sumber asupan buahku karena harganya miring dan pilihan bervariasi. Semoga puncak musim mangga segera hadir. Siapa tahu ada poh golek dan poh madu yang nyempil.

~ oleh dewipuspasari pada Juli 21, 2026.

Tinggalkan komentar