Black Panther Bundel

“Eh, barusan kami sempat lihat black panther,” ujar salah seorang kawanku, sesama peserta jelajah taman nasional.

“Eh, apa?” Otakku memproses informasi itu dengan lamban. Ia bercanda, kan? Setelah sebelumnya mendengar ada macan dan piton di bagian dalam hutan, aku jadi kesulitan membedakan mana yang benar-benar fakta dan mana yang hanya gurauan.

Black panther memang hidup di Indonesia. Namun, nama populernya bukan panther hitam, melainkan macan kumbang.

Aku hampir mempercayainya. Tiba-tiba dari tangga yang agak terjal itu turun seekor mamalia berwarna hitam dan bermata kuning. Aku berdebar.

Macan kumbang? Bukan. Badannya terlalu mungil.

Duh, apa yang sebenarnya kuharapkan. Bukankah macan kumbang berbahaya, meski aku yakin petugas taman nasional pasti bisa mengatasinya.

Ya, macan kumbang yang ini mungil dengan bulu hitam yang mencolok dan mata kuning. Dan, ekornya bundel menggemaskan. Si black panther itu kucing hitam yang entah muncul dari mana.

Dia baru saja tinggal dan menetap di sini, ujar Pak Didi, perawat satwa. Entah kucing siapa, kucing warga, kucing staf, atau memang kucing yang tersesat.

Mungkin ia kucing yang dilepasliarkan. Kucing yang ingin hidup dan menjadi kucing hutan.

Kucing itu tampak jinak. Tapi perhatianku teralihkan oleh waktunya makan jajanan. Aku mengantuk parah. Aku perlu sesuatu yang bisa membuat mataku kembali menyala. Kegiatan belum berakhir dan aku sudah ingin pulas di peraduan.

Usai makan kudapan dan minum bandrek, aku ke atas mengambil tasku. Eh si black panther bundel ada di sana. Ia nampak asyik tidur di atas jaket peserta. Ia nampak lelah, tapi ia menyambutku dengan hangat.

Wah ia kucing penjaga. Ia menjaga energi dan gerbang spiritual. Tolong jaga tenda kami ya, Mpus, kami mau main ke sungai.

~ oleh dewipuspasari pada Juli 18, 2026.

Tinggalkan komentar