Aturan Keramahan Zeus dan Konsekuensinya dalam Kisah Odyssey

Film The Odyssey yang sedang tayang memiliki hukum sebab akibat. Jika diperhatikan ada benang merah antara permasalahan yang dialami Odyssey, para prajurit, juga keluarganya sepanjang cerita. Benang merah ini sering disebut. Yakni, aturan Zeus dalam memperlakukan tamu dan juga sebaliknya, bagaimana tamu bersikap.

Aturan Zeus berupa hukum keramahan ini seperti yang dianjurkan dalam agama. Ketika tuan rumah mendapat kunjungan tamu, baik orang yang terhormat, kawan, ataupun pengemis, maka ia wajib menyambutnya. Siapa tahu di antara tamu itu ada Dewa yang menyamar.

Tuan rumah dianjurkan menyambut dengan ramah, memberi makan, dan menyiapkan tempat beristirahat, baru menanyakan nama dan tujuannya. Oleh karena pada masa tersebut banyak kesatria yang mengembara, maka tawaran akan mandi di bak akan sangat disambut gembira.

Lantas bagaimana dengan tamu? Tentu saja wajib menghormati tuan rumah. Hukum ini hanya berlaku satu arah. Tamu wajib berlaku sopan, tidak merusak rumah, tidak tinggal terlalu lama, juga tidak membuat tuan rumah kehabisan harta benda.

Spoiler alert!

Hindari membaca paragraf berikut jika belum menontonnya!

Perang Troya juga berawal dari Pangeran Troya, Paris melanggar kesopanan sebagai tamu dengan menculik istri Raja Sparta Menelaus, bernama Helen. Menelaus merasa terhina dan sedih karena sebenarnya ia sungguh-sungguh menyayangi istrinya.

Setelah perang berakhir, Odysseus dan para prajurit Ithaca kesulitan kembali ke kampung halamannya. Ada banyak masalah yang mereka alami karena ‘keluguan’ mereka bahwa setiap penghuni pulau tahu dan patuh akan aturan Zeus.

Odysseus yang gembira menemukan sekelompok domba dan keju merasa gembira. Ia yakin tuan rumah akan menjamu mereka, meski ada anak buahnya yang was-was dan memperingatinya bahwa bisa jadi si pemilik domba tidak tahu aturan tersebut.

Rupanya pemiliknya adalah makhluk menyerupai manusia berukuran raksasa dengan satu mata, Polyphemus (Cyclops). Alih-alih menyambut tamu, ia malah memerangkap mereka dan menyantap dua prajurit Odysseus setiap malam, membuat semuanya ketakutan dan frustasi.

Di sini menurutku kedua pihak sama-sama salah. Yang pertama, Odysseus ceroboh menganggap semua pihak memahami aturan Zeus dan bersikap tidak sopan dengan menyantap keju seseorang sebelum ditawarkan.

Cyclops juga salah. Ia pantas marah karena tiba-tiba ada sekelompok orang masuk rumahnya dan menyantap kejunya. Namun, tak sebaiknya ia menyantap mereka bak mangsa. Apalagi ia ternyata putra Poseidon dan ia bisa bicara seperti bahasa manusia. Alhasil ia sebenarnya tahu aturan Zeus.

Dan, lagi-lagi Odysseus ceroboh di sini. Setelah ia dan pasukannya bisa meloloskan diri, ia malah memanah Cyclops sekali lagi. Padahal, ia dan pasukannya sudah membutakan makhluk tersebut. Kecerobohannya ini yang kemudian menyulut kemarahan Poseidon.

Ada beberapa hal yang kemudian terjadi karena kecerobohan dan kekuranghati-hatian Odysseus dan para anak buahnya. Ooh menyaksikan ini membuatku trenyuh, kasihan anak buahnya.

Aturan Zeus kemudian dilanggar oleh para prajurit ketika bertamu di Pulau Circe. Karena mereka terlalu rakus saat dijamu oleh Circe, tuan rumah yang ternyata seorang penyihir itu mengubahnya jadi babi.

Circe menganggap perbuatannya itu benar karena itulah wujud prajurit Odysseus sebenarnya. Ia sering mengalami masalah dengan tabiat tamu yang tidak sopan, sehingga ia ubah wujudnya seenaknya menjadi binatang. Untungnya mereka bisa kembali berubah wujud setelah Odysseus datang dan mengancam si penyihir.

Tabiat tamu yang paling tak beradab adalah mereka yang mengaku sebagai orang-orang terhormat yang pantas melamar istri Odysseus, Penelope. Odysseus tak ada kabar hingga 20 tahun berselang setelah ia meninggalkan kerajaannya dan bergabung dengan prajurit Yunani. Untuk mengisi posisi tahta yang sudah lama kosong, Penelope diminta segera menikah kembali.

Penelope terus mengulur waktu. Selama tiga tahun ratusan pelamar tinggal di istananya dan berpesta tiap malam tanpa merasa malu dengan tuan rumah yang kesulitan menyiapkan bahan pangan untuk kebutuhan tamunya. Selain itu mereka juga berlaku tak sopan, berisik, membuat Penelope, putra, dan para pekerja istana merasa tidak nyaman.

Odysseus yang datang ke istananya dengan menyamar sebagai pengemis pun sangat murka. Setelah berhasil memenangkan tantangan Penelope, ia menumpas pelamar tersebut, meski ia tahu akan ada hukuman pengasingan menantinya.

Dalam versi buku, semua pelamar yang mengganggu keluarganya, ia tumpas. Sedangkan dalam film ada yang langsung bersimpuh, mengakui sang raja telah kembali.

Eh tapi kalau dipikir-pikir lagi semua masalah bukan hanya karena aturan Zeus sih. Bisa jadi ada kaitan dengan karma.

Odysseus pernah ‘mengorbankan’ anak buahnya, Sinnon, demi keberhasilan taktik kuda Troya. Ia juga tak mendengar peringatan anak buahnya beberapa kali karena merasa dirinya benar.

Para pasukan Yunani juga ternyata begitu kejamnya. Semua warga Troya, termasuk anak-anak dan perempuan turut dibunuh dengan kejam setelah muslihat kuda Troya berhasil dijalankan. Meski ya tokoh Paris juga pantas disalahkan karena menyebabkan semua kekacauan yang menyebabkan korban begitu banyak.

Oh iya opini di atas adalah pandangan pribadiku ya. Mungkin tak semuanya benar atau kalian sepakati. Film The Odyssey masih tayang. Ya, meski ada beberapa pemeran yang kurang pas, filmnya tetap menarik untuk disimak.

Gambar dari IMDB

~ oleh dewipuspasari pada Juli 23, 2026.

Tinggalkan komentar