“The Goddess of Spring”: Animasi Tahun 1934 yang Menggemaskan

auh sebelum film animasi Putri Salju dan Pinnochio tayang, Studio Disney sudah dikenal oleh karya animasinya yang brilian. Desain penampilan para satwa dan makhluk lainnya sungguh menggemaskan. Namun, mereka agak kesulitan saat mendesain bentuk manusia. Oleh karena itu animasi yang mengangkat cerita Persephone dalam “The Goddess of Spring” memiliki peranan penting dalam karya Disney berikutnya.
Tentang apakah “The Goddess of Spring”?
Dewi tersebut bernama Persephone. Ia adalah putri cantik Dewi Demeter, dewi pertanian. Selama ada Persephone maka musim semi akan selalu hadir.
Ia gadis yang dicintai para satwa, flora, dan bangsa peri. Mereka suka mengikutinya. Sayangnya kecantikan dan kasih sayang Persephone juga memikat makhluk lainnya.
Makhluk yang jatuh hati padanya adalah Hades dari dunia bawah tanah. Hades menculiknya dan menginginkannya menjadi permaisurinya.
Namun, Persephone menolak dan terus berduka meski Hades menghujaninya dengan permata. Di dunia atas, musim dingin terus berkepanjangan. Semua makhluk akan terus menderita selamanya apabila dewi musim semi tak segera pulang.

Landasan Kesuksesan “Snow White and the Seven Dwarfs“
Ketika menemukan animasi berdurasi hampir sembilan menit ini aku seperti menemukan harta terpendam. Indah. Animasi ini untuk ukuran tahun 1934 merupakan karya yang luar biasa. Bahkan masih menarik disaksikan pada era sekarang.
Coba lihat karakter satwanya. Ooh ada burung, kelinci, rusa, dan aneka satwa lainnya yang semuanya rasanya ingin kupeluk, kugendong, dan kucium pipinya. Mereka sungguh menggemaskan.

Coba juga lihat para bunga yang mempersembahkan tarian. Bunga-bunga tersebut menari dengan luwesnya.
Meski penampilannya tak imut, para makhluk bawah tanah selain Hades juga kocak. Mereka bekerja keras untuk menghibur sang puteri agar segera betah di sana.
Lalu lihatlah desain dari penampilan Persephone yang cantik. Ia tampil kontras dengan Hades yang terlihat bengis. Pujian untuk animasi ini baik untuk karakter manusia dan non-manusia membayar jerih payah animator Disney yang terus meningkatkan kemampuan diri.

Jangan lupa perhatikanlah skoring dan juga pewarnaannya yang masih menggunakan technicolor, yang zaman itu sudah mengesankan. Skoring dan lagunya pas, tidak berlebihan. Warna-warni yang cerah dan indah juga dibiarkan kontras dengan atmosfer di bawah tanah yang intens tapi sekaligus suram.
Aku menyukai cerita Bill Cottrell yang terinspirasi dari dongeng dewa-dewi Yunani ini. Ceritanya dibuat sederhana tapi tetap menarik. Sayangnya animasi yang disutradarai oleh Wilfred Jackson ini tak banyak dikenal oleh generasi masa kini.
Setelah kesuksesan animasi kisah Persephone, Disney pun tampaknya percaya diri mengangkat film panjang dengan tokoh utama manusia. Lalu hadirlah debut film animasi panjang, yaitu si Puteri Salju dan Tujuh Kurcacinya. Selang antara dua animasi ini hanya tiga tahunan.

Kalian bisa saksikan animasi yang dirilis 3 November 1934 ini di Youtube dengan cuma-cuma. Kalian akan tersenyum melihat para karakter flora faunanya yang imut menggemaskan.
Gambar punya Disney
