Hujan Buatan dan Kekeringan

Sudah memasuki minggu terakhir Oktober, tapi hawa begitu gerah dan sinar matahari begitu teriknya. Suhu udara rata-rata 34 derajat dan bisa meningkat. Agak adem saat dini hari hingga sekitar pukul enam. Tahun ini sepertinya kemarau lebih panjang. Aku mulai cemas akan kekeringan.
Aku mulai berhemat menggunakan air. Jika aku menguras bak mandi, maka air sisanya kugunakan untuk menyiram tanaman. Air sisa rebusan sayur dan air kaldu buat kucing yang bersisa juga kugunakan menyiram. Jangan sampai air terbuang sia-sia.
Aku cemas. Di sebuah negara ada air yang berlimpah sehingga mesin AI bisa hidup tenang. Negeri ini seharusnya juga surga air tawar. Sayangnya kandungan air tawar yang bersih malah sering dikomersialkan. Sementara tahun ini kemarau makin panjang. Aku kuatir daerah yang kekeringan akan meluas.
Sudah sejak karhutla aku terus-terusan berdoa agar didatangkan hujan besar, terutama daerah yang terdampak. Aku juga berharap hujan mengisi sumber-sumber air dan mengusir hawa panas. Entah apakah ada kaitannya, aku jadi makin sering main ke embung, taman berkolam, ataupun kawasan limpah sungai di Pondok Rangon dan Jagakarsa. Mungkin diam-diam aku memeriksa cadangan air di sana.
Untunglah dua hari ini hujan. Meskipun tak lama, aku sangatlah bersyukur dan senang. Hawa gerah sedikit terusir dan tandon air akan ada isinya.
Sepertinya hujan yang hadir adalah hujan buatan. Tak apa-apa. Modifikasi cuaca seperti ini kadang diperlihatkan. Aku tak paham mengapa pemerintah tak melakukannya untuk daerah yang mengalami karhutla.
Air sangatlah vital bagi manusia. Di film-film sudah ada petunjuk, bahwa nilai air suatu ketika akan lebih berharga daripada emas dan berlian.
Dulu ketika di Malang, air berasa ada di sekeliling. Tak perlu keluar uang sama sekali. Tapi entah sejak kapan kita dipaksa harus keluar uang untuk membeli galon air minum dan langganan air setiap bulannya.
Aku kuatir air akan makin dikomersialisasikan. Sementara ancaman kekeringan begitu nyata. Yuk kita rawat sumber air tawar yang ada. Gunakan juga sebijaknya, kawan.
