The Raid 2: Overrated Kah?

final2

Sejak kesuksesan film The Raid, pencinta film menunggu-nunggu sekuelnya. Dan ketika film ini dirilis beberapa bulan lalu maka sambutan penonton sedemikian heboh. Bahkan banyak yang begitu memuja-muji film ini dan memberikan nilai yang fantastis. Benarkah The Raid 2 sedemikian bagusnya atau malah overrated?

Sejak film The Raid pertama, para penikmat film Indonesia seolah mengalami euforia. Film yang digarap oleh Gareth Evans ini mendapat sanjungan dari banyak pihak, termasuk dari para kritikus film asing. Banyak yang melabeli film ini adalah film aksi yang keren dengan koreografi pertarungan yang apik. Pihak Indonesia sendiri bangga dengan penggunaan silat sebagai senjata bela diri para pemainnya. Terutama, Iko Uwais dan Yayan Ruhiyan.

Dari segi pertarungan, The Raid: Serbuan Maut memang saya acungi jempol. Apalagi pertarungan final antara Rama (Iko Uwais) melawan Mad Dog (Yayan Ruhiyan), yang kemudian dibantu oleh saudara Rama, Andi (Donny Alamsyah). Sayangnya, dari segi cerita, menurut saya agak membosankan.Dan di film sekuelnya ini, melihat apresiasi penonton Indonesia yang besar, saya juga penasaran.

Meski film pertamanya hanya saya beri rating 7/10, saya berharap film keduanya ini jauh lebih baik. Apalagi ada banyak lawan yang dihadirkan. Seperti hammer girl (Julia Estelle) dan baseball bat man (Very Tri Yulisman).

hammer dan baseball

Mungkin karena saya tidak terbiasa melihat film yang terlalu sadis, saya berkali-kali menutup mata di banyak adegan The Raid 2. Di tengah film, saya merasa mual, perasaan seperti berkali-kali naik roller coaster. Ini bukan genre film yang masuk zona aman. Film ini menurut saya sangat sadis dan ada banyak adegan vulgar.

Cerita The Raid 2 melanjutkan film pertamanya. Setelah Rama berhasil lolos dari apartemen maut, Rama mendapat tugas dari Bunawar (Cok Simbara) untuk menyusup di markas dedengkot mafia. Para kriminal yang bersarang di apartemen kumuh hanyalah bidak papan catur, penggerak pemain caturnya belum terjamah oleh hukum. Untuk memudahkan proses penyusupan tersebut, Rama disusupkan di lembaga permasyaratan untuk mendekati anak pimpinan mafia bermana Uco (Arifin Putra).

Si Rama berhasil mengambil hati Uco yang kemudian diperkenalkan ke ayahnya, Bangun (Tio Pasukodewo). Mulailah Rama menjadi anggota gang, dimana rupanya masih ada dua pemain mafia lainya. Mafia dari Jepang dipimpin Goto (Kenichi Endo) dan mafia yang dipimpin oleh Bejo (Alex Abbad). Masing-masing ingin menambah daerah kekuasaan. Dan hammer girl juga baseball bat man mulai mencari sasaran atas perintah Bejo. Sementara Rama merasa sendirian dan ragu kapan ia bisa menyingkap penyamarannya dan membengkuk para pimpinan mafia tersebut.

the raid2-bangun

Ada banyak aksi laga di sini. Dimulai dari serbuan para napi di sel Rama dimana puluhan napi tersebut tak berdaya. Lalu dilanjutkan dengan aksi keroyokan napi terhadap para sipir. Dua aksi ini menurut saya terlalu brutal dan kurang masuk akal. Aksi pertama saya tidak habis pikir kenapa sekian banyak napi menyerang Rama sebagai napi baru?

Saya memang sering membaca jika para napi lama sering mengerjai napi baru untuk menunjukkan siapa pemimpin di situ. Namun, hingga puluhan napi? saya kira terlalu berlebihan. Apalagi para napi tersebut seharusnya menganggap Rama seperti napi biasa, bukan jagoan silat. Aksi brutal menyerang sipir untuk kabur juga kurang masuk akal. Para sipir kan memiliki senjata api, mengapa baru digunakan ketika sudah banyak jatuh korban.

Aksi lainnya yang menurut saya berlebihan di antaranya aksi hammer girl di komuter. Seorang bos di komuter? Rasanya sudah luar biasa untuk di Jakarta, meski kemudian ada yang memberitahu setting-nya bukan Jakarta riil melainkan Jakarta alternatif. Penumpang di kereta tersebut juga tidak banyak, sehingga terkesan dibuat-buat.

Kalau disebutkan satu-persatu ada banyak aksi yang berlebihan. Ada banyak tumpahan darah yang memualkan dan terlalu brutal. Dan pertarungan final yang kurang berkesan antara Rama dan The Asassin (Cecep Arif Rahman), yang bersenjatakan karambit atau pisau pendek melengkung.

Namun di luar aksi berlebihan, ada aksi yang saya akui menarik yakni ketika aksi pengejaran antara Rama-Eka dengan suruhan Uco. Lokasinya memang berada di jalan-jalan jakarta sehingga saya bertanya-tanya “Wah gimana nih caranya biar jalanan Jakarta yang padat bisa dipakai untuk syuting?” Aksi yang membuat saya terkesima ketika mobil yang dikendalikan musuh tergelincir dan kemudian membentur halte transJakarta yang kemudian luluh lantak.

the raid-trans2

Ending cerita sengaja dibuat menggantung. Rupanya bakal ada The Raid 3. Semoga jika dibuat trilogi, seri pamungkasnya benar-benar bagus dan ceritanya lebih masuk akal.

Detail Film:
Judul : The Raid 2: Berandal
Sutaradara: Gareth Evans
Pemain : Iko Uwais, Yayan Ruhian, Alex Abbad, Cok Simbara, Arifin Putra, Julie Estelle, Donny Alamsyah, Oka Antara, Tio Pasukodewo, Roy Marten, Very Tri Yulisman, Kenichi Endo, dan Cecep Arif Rahman
Rating : 7/10

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Agustus 26, 2014.

4 Tanggapan to “The Raid 2: Overrated Kah?”

  1. wew, gk nyangka film ini dkasih 6,5 but it’s ok!
    gara2 nonton the raid ini, saya rasa adegan tengkar di film2 hollywood udah gk ada apa2nya.. keren banget ini film, gk sabar yg ketiganya.. :mrgreen:

    • Hai Peta,
      Maaf ya film jagoannya kuberi nilai standar. Kayaknya nanti banyak penggemarnya yang marah, kutambahin deh nilainya jadi 7.
      Saya waktu itu nonton sama suami. Dan komentarnya sama seperti saya. Mungkin karena kami tidak begitu suka film yang sadis dan brutal. Horor yang sadis juga tidak kami sukai. Setelah nonton film ini saya seperti habis naik rollercoaster, terasa mual karena terbayang sosok-sosok tak bernyawa yang tewas dengan cara sadis.
      Ini masalah selera sih. Dari segi perkelahian tangan kosong, jelas gaya Iko Uwais benar-benar top. Tapi dari segi pertarungan final, saya lebih suka yang pertama. Meski kurang suka karena sadis (saya di beberapa adegan sampai menutup mata), tapi saya juga menunggu film pamungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: