Berangan Menjadi Penulis Teknologi

IMG_20150920_200902

Wanita itu luar biasa. Saat ini wanita tidak hanya bisa berkontribusi bagi keluarganya, namun juga berkontribusi di dunia kerja maupun di lingkungan tempat tinggalnya. Saya juga ingin menjadi bagian dari wanita luar biasa itu, namun dengan mengasah kemampuan menulis saya dengan rajin menulis artikel di blog pribadi maupun blog keroyokan. Siapa tahu impian saya menjadi penulis fiksi/nonfiksi tentang teknologi segera tercapai.

Saat ini tema-tema artikel yang sering saya angkat di blog berkisar tentang kuliner, jalan-jalan, ulasan film dan musik, juga tentang peristiwa sehari-hari yang terjadi di sekeliling kita. Tema-tema ini nampak sederhana, namun jika digarap dengan serius bisa menjadi artikel yang menarik, tidak hanya sebagai dokumentasi di blog pribadi, melainkan juga memiliki nilai jual.

Saya masih merasa kurang puas dengan kualitas artikel-artikel yang saya tampilkan di blog pribadi maupun di blog keroyokan seperti Kompasiana. Meskipun jika dibaca, ada sedikit peningkatan rasa dibandingkan artikel-artikel yang saya tulis awal-awal tahun 2008.

Bagian yang penting dan saya akui masih memiliki keterbatasan adalah artikel-artikel yang bersifat kekinian. Saya masih sangat jarang menulis tentang topik-topik berkaitan dengan latar belakang pendidikan saya, teknologi informasi. Artikel serius tentang TI saja jarang, apalagi bisa membuat novel atau skenario film tentang TI yang keren seperti idola saya, Michael Crichton.

Memang artikel-artikel tentang teknologi bertebaran di portal berita ataupun di media sosial, namun mengulas dengan gaya dan pemikiran saya rasanya akan menjadi artikel yang unik dan khas.

Hemmm rasanya impian tidak akan tercapai jika terus berpangku tangan. Saya pun berlatih menulis dan menulis. Menulis artikel apa saja.

Saya harus akui kadang tidak percaya diri menulis artikel tentang teknologi. Ada rasa was-was apakah ulasan saya tidak ditertawakan pihak lain. Menuliskan artikel-artikel tentang teknologi informasi dengan bahasa awam gampang-gampang susah. Jika terlalu banyak menggunakan bahasa teknis tentu akan sulit dimengerti oleh pembaca awam, untuk itu saya mencoba menulis dengan sudut pandang masyarakat awam. Awalan untuk menulis tentang TI adalah artikel-artikel ulasan tentang gadget terbaru.

Buku Teks Didominasi dari Luar

Buku Teks Didominasi dari Luar

Rencananya dalam setahun mendatang, saya akan lebih banyak menulis tentang teknologi. Implementasi teknologi informasi di Indonesia sangat pesat, namun saya melihat buku teks lokal di universitas dengan subyek teknologi informasi/sistem informasi masih terbatas. Padahal sering kali implementasi teknologi TI ataupun penerapan standar internasional untuk SI/TI di Indonesia berbeda dengan yang ada di buku teks luar negeri.

Banyak Topik TI yang Menarik

Banyak Topik TI yang Menarik

Ada banyak keterbatasan ataupun faktor kunci kesuksesan implementasi TI yang unik dan khas Indonesia. Ada banyak hal-hal menarik seputar TI/SI seperti hal-hal seperti manajemen risiko dan audit TI yang sebenarnya perlu dibaca oleh berbagai pihak, namun topik ini masih jarang dikupas.

Belum lagi topik fiksi, pastinya sangat menarik tapi juga perlu riset dan data detail untuk menghasilkan novel fiksi teknologi seperti film-film fiksi sains terkenal.

Hemmm terlalu banyak bermimpi, jika tidak dimulai akan sia-sia. Meskipun tema artikel dalam blog ini beragam, dengan menulis saya akan terus mengasah kemampuan bertutur dan kecakapan memilih diksi sebagai bekal nanti menjadi penulis teknologi.

Fear-Fiksi Sains Karya M. Crichton

Fear-Fiksi Sains Karya M. Crichton

Oh ya untuk membuat artikel blog ini yang diikutkan dalam lomba blog yang diadakan Emak Gaoel Go For It bekerja sama dengan Smarfren, saya membuat draft terlebih dahulu di fitur ‘Catatan’/Note yang merupakan aplikasi bawaan di smartphone saya.

Untuk memotret saya juga menggunakan fitur ‘kamera utama’ yang memiliki kemampuan 16 MP. Selama mengetik saya memainkan musik dengan fitur Musik, yang juga merupakan aplikasi bawaan ponsel. Musik selalu terbukti mampu membantu saya untuk menulis.

Draft artikel ini saya pindahkan ke aplikasi wordpress, namun untuk merapikan artikel ini saya tetap perlu laptop dan menggunakan dasbor wordpress yang dibuka di laptop. Sedangkan foto, saya perkecil dengan aplikasi irfan view di laptop.

Dengan adanya berbagai aplikasi di smartphone, jelas memberikan kemudahan bagi blogger. Sehingga untuk menyimpan ide, saya kini tidak lagi bingung mencari pulpen atau membuka laptop.

go for it 1

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada September 17, 2015.

2 Tanggapan to “Berangan Menjadi Penulis Teknologi”

  1. Setuju sama mbak, sapa tau hasil tulisan kita bisa dihargai haha…. yang terpenting tulis lah hal yang bermanfaat agar orang lain bisa menenimanya.
    terimakasih. salam dari catatanernest[.]com

    • Terima kasih sudah mampir…
      Yup fiksi sains atau fantasi sains menurutku keren banget..Congo, Fear, Timeline -nya Michael Crichton sukses memadukan antara teknologi dan fiksi demikian juga Digital Fortress dan Deception Point nya Dan Brown.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: