Pria Sepi dan Dara

Man and woman

Pria penyuka rasa sepi itu sadar bahwa ia bisa mengatasi bising jika ia berdamai dengan pikiran dan hatinya. Ia meninggalkan tempat yang selama ia begitu nyaman baginya. Ia bosan sendiri bersama sepi. Hingga ia bertemu dara.

Pertemuan itu terjadi atas bantuan pohon mangga. Suatu ketika si pria sepi kembali berkelana menjauhi tempat yang berhasil mendamaikan hatinya. Seharusnya jika ia berhasil berdamai di hatinya, dimana saja ia bisa bahagia.

Ia melewati sebuah jalanan yang teduh. Jalan yang tua dan mungkin sudah ada berpuluh tahun silam. Rumah-rumah di sana mirip-mirip satu sama lain berupa rumah mungil dengan beranda dan halaman sedang. Ia menyukai jalanan tersebut. Ada anak-anak yang nampak santai bermain bola dan di gang lainnya nampak asyik bermain layang-layang.

Ia melewati gang ketiga. Di tempat ini suasana jauh lebih rindang karena pepohonannya telah menua dan tumbuh besar.

Ia berjalan menikmati hawa yang sejuk. Lalu jalannya terhenti karena kepalanya terantuk. Apa ada yang melemparnya?

Bukan, tidak ada yang melemparnya. Yang mengenai kepalanya adalah sebuah buah mangga. Buah berukuran sekepalan tangannya dan telah cukup matang.

Ia tergoda melihat buah mangga tersebut. Buahnya telah cukup tua dan masak di pohon. Pasti airnya cukup banyak dan manis.

Ia ingin menyimpannya di tasnya. Namun, ia malu akan niatnya.

Ia mengetuk pagar kayu dari pemilik pohon mangga tersebut. Ia mengucap kata permisi dan mengetuk kembali pagar tersebut.

Ia ragu apakah ada pemiliknya karena nampak sepi? Saat ia hendak berbalik, ada seorang yang membuka pintu dan berkata ‘Tunggu sebentar’.

Ia menunggu pagar itu dibuka. Di depannya nampak seorang gadis sebayanya. Lalu ia merasa kelu.

Gadis itu memandangnya heran. Ia bertanya, ‘Ada apa?’

Pria sepi itu merasa lidahnya tak berkompromi. Ia sulit menemukan kata-kata yang tepat. Alih-alih berkata ia membuka tangan kanannya. Di situ ada buah mangga. Ia menunjuk pohon mangga itu.

Gadis itu menyentuh mulutnya nampak terkejut. Ia melihat pohon mangganya dan kemudian meminta maaf.

Pria sepi itu terpana akan reaksinya. Ia tidak berharap si pemiliknya minta maaf. Ia sebenarnya hanya ingin meminta ijin untuk memiliki buah mangga tersebut.

Dara itu tersenyum dan sepertinya senyum manis yang pernah dilihat pria itu. Ia membuka pintu pagarnya lebar dan mengundang pria itu masuk halamannya.

Pria itu memasuki halaman yang rapi dan rindang. Ada bangku di beranda dan ada kucing gendut tidur di salah satu bangkunya.

Gadis itu kembali dan membawa senampan minuman dingin, kue, dan piring bersih. Ia mengupas buah mangga itu yang telah dibersihkannya. Ia letakkan sepiring buah itu di depan si pria sepi.

Pria itu masih malu. Ketika kembali melihat senyum gadis itu, ia tahu hidupnya tak semuram yang ia sangka. Hidupnya mungkin tak sesepi yang ia kira.

Ia membalas senyuman itu. Mereka diam tak berkata-kata, hanya menikmati sisa sore itu.

Si pria sepi merasa akan ada sebuah puisi yang terinspirasi dari pertemuan ini. Sayangnya tangan kirinya tak sengaja menekan ekor Nero yang asyik tidur. Kalian pasti bisa menebak apa yang akan terjadi kemudian.

Gambar dari sini

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Juli 9, 2016.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: