Kebiasaan Itu Dinantinya

Pria dan dara

Pernahkah Kalian merasa kehilangan karena sebuah kebiasaan yang suatu ketika lenyap atau berhenti. Itulah yang dirasakan Dara dan pria sepi ketika keduanya mencoba berhenti dari kebiasaannya untuk menyesapi maknanya.

Pria sepi itu pergi dari rumah dara dengan lengan yang dibalut oleh perban. Ia ceroboh menekan ekor Nero dan lengannya dicakar hingga berdarah. Sebenarnya tidak sakit dan ia merasa tak apa-apa. Tapi ia suka akan perhatian si gadis pemilik mangga itu. Ia membersihkan lukanya, mengobatinya, dan membalut lukanya dengan seksama. Ia menyukai perhatiannya.

Keduanya lebih banyak diam. Si pria merasa tatapan gadis itu sering menerawang jauh. Apakah ada yang ditunggunya. Mungkin ada pria lain yang ada di mata gadis itu meski ia berharap sebaliknya.

Ia menghabiskan buah mangga yang rasanya begitu manis dan berair. Ia lalu merasa malu karena menghabiskannya sendiri dan tak membaginya.

Si gadis lalu larut dalam aktivitas menulisnya. Sepertinya ia sedang menulis sebuah cerpen. Ia memperhatikan aktivitas gadis itu lekat-lekat. Ia melihatnya ada senyum mengulas bibirnya. Lalu tawa yang terbahak-bahak dan kemudian segurat sedih dan marah. Melihat gadis itu seperti sebuah drama.

Merasa diperhatikan, gadis itu menghentikan aktivitasnya menulisnya. Ia menebak-nebak reaksi dari si pria. Mungkin ia merasa dirinya aneh tapi jelas si gadis merasa malu karena memperlihatkan emosinya saat menulis cerpen itu.

Gadis menutupi rasa malunya dengan bercerita tentang pohon mangga itu. Cerita yang pernah dibagi dan Kalian baca di sini. Pria itu mengangguk-angguk, mendengarkan ceritanya dan memperhatikan pohon mangga di depannya. Saat ranting pohon itu bergerak, si pria merasa pohon mangga juga menyukai cerita gadis itu.

Si gadis tak meminta pria itu bercerita. Itu membuatnya lega. Saat senja mulai membayang ia pun berpamitan.

Sabtu Sore
Setiap Sabtu, langkahnya selalu membawa ke jalan tersebut. Ia mengetuk pagar kayu tersebut dan menunggu sesosok dara menyambutnya. Terkadang kucingnya yang lebih dulu menyambutnya. Hemmm kucing itu rupanya tidak menyukai pertemuan pertamanya karena ia selalu memandanginya dengan curiga.

Kali ini ia membawa hadiah buat Nero dan si dara. Buat Nero adalah makanan kucing kalengan dan bagi Dara sebuah sketsa dan puisi buatannya.

Dara menyukai hari Sabtu sore sejak mereka bertemu tiga bulan silam. Ia tidak tahu banyak akan pria pendiam itu, tapi ia menyukai kehadirannya. Ia merasa nyaman jika ia datang.

Keduanya tetap tak pandai bercakap-cakap. Biasanya si gadis asyik menulis, sedangkan si pria nampak sibuk dengan pikirannya sendiri. Ada berbagai pertanyaan yang ingin masing-masing lontarkan, tapi kata-kata itu seolah sulit terucap.

Si gadis menyambutnya dengan senyum manisnya. Ia telah menggoreng pisang dan menyiapkan teh hangat. Keduanya pun menyantapnya dalam diam. Lalu si pria mengulurkan buku yang berisi sketsa dan puisi buatannya.

Ia juga membuka kaleng berisi pakan kucing yang disambut Nero dengan rakusnya. Melihat respon Nero, gadis itu tercemberut dan malu. Mungkin ia malu kucingnya nampak rakus di depan tamunya.

Gadis itu menyukai pemberiannya. Senyumnya makin lebar dan matanya nampak bersinar. Ia membuka halamannya satu-persatu dan nampak kagum akan sketsa yang terhampar di tiap halamannya. Indah, aku menyukainya, begitu komentarnya.

Ia lalu kembali membuka lembar pertama, menikmati gambar dan membaca puisinya perlahan-lahan. Pria itu kemudian bercerita tentang apa yang sebenarnya ia ungkapkan lewat puisi tersebut.

Baru kali ini si pria berbicara banyak dan tak cangung. Si gadis akhirnya tahu si pria seorang ilustrator dan suka menggambar. Gambar-gambarnya begitu hidup namun ada juga yang misterius. Namun senja keburu datang dan si pria itupun berpamitan.

Sabtu sore itu si pria kembali menjejakkan langkah ke jalan yang sama. Ia mengetuk pagar dengan riang. Tapi hingga lama tak ada yang datang. Senyumnya menghilang.

Sabtu berikutnya ia kembali ke rumah pemilik pohon mangga. Ia mengintip dari sela pagar, begitu sepi, bahkan si Nero pun tak kelihatan. Ia coba mengetuk pagarnya, lagi-lagi tak ada yang menyambutnya.

Hampa…perasaan itu kembali menggelayutinya. Ia tak pernah meminta nomor telpon si dara. Ia merasa yakin akan terus bertemu gadis itu.

Ia hanya tahu namanya, ia tidak tahu dimana gadis itu bekerja dan siapa keluarga atau temannya. Dimanakah Dara berada?

Tidak ada yang bisa ditanya. Pagar-pagar di rumah tetangganya seakan menyuruhnya pergi karena tak diharapkan. Ia pun merasa lunglai.

Kebiasaan Sabtu Sore
Setiap Sabtu sore seharusnya pria itu datang. Dara merasa ada sesuatu yang terlewat jika ia membiarkan kebiasaan itu lenyap.

Sayang Sabtu kemarin dan Sabtu ini Dara tak bisa ke rumahnya. Neneknya meninggal dan kemudian ada rapat keluarga tentang wasiatnya. Dara ingin pergi dan pulang ke rumahnya, namun sanak saudaranya memintanya untuk tinggal karena ia yang jarang berkumpul bersama mereka.

Nero dibawanya menemaninya. Ia ingin ditemani karena ia merasa terasing di keluarganya. Mereka seolah sudah tercabut dari hatinya, hanya kenangan.

Ia ingin bertemu pria itu. Pria sepi. Ia ingin bersama pria itu menikmati Sabtu sore. Ia bertanya-tanya apakah pria itu mengunjunginya Sabtu kemarin dan Sabtu ini.

Ia ingin meninggalkan pesan, tapi ia hanya tahu namanya. Ia tidak punya nomor telponnya ataupun alamat rumahnya. Ia merasa bodoh karena mengira ia akan selalu melihatnya setiap Sabtu petang.

Ia membuka-buka lembaran sketsa hadiah dari si pria. Ia menyukai setiap gambar dan puisi di dalamnya. Di lembar terakhir ada sketsa seorang gadis, kucing, dan sebuah pohon. Ada puisi di dalamnya.

Dara, Kucing, dan Pohon Mangga

Aku telah berdamai dengan hatiku
Mengatasi sepi dan benci yang membelengguku
Aku ingin kesempatan kedua
Agar aku bisa menikmati waktu

Di sana aku bisa merasa tenang
Seharusnya di sini pun aku bisa
Lantas aku berjumpa dengan mangga
Seekor kucing dan seorang dara

Mereka mengubah rutinitasku
Setiap Sabtu kutunggu
Saat Dara membuka pintu
Dan menyambutku dengan senyum

Aku tak mengenal dirinya
Ia tak banyak bercerita
Aku juga tak memberinya banyak cerita
Namun rasanya damai bersamanya

Puisi itu hanya berhenti begitu saja. Dara diam-diam merindu dan ingin tahu lebih banyak akan pria itu. Tapi si pria tak lagi mengunjunginya. Setiap Sabtu ketika ia telah kembali ke rumahnya, ia menunggunya. Dan menunggunya. Tapi pria itu tak pernah kembali dan mungkin menjelma menjadi pria sepi lagi.

Gambar dari sini

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Juli 10, 2016.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: