Nasi Goreng

Wangi bawang putih, bawang merah, cabe dan bumbu lainnya kontan menguar ketika berpadu dengan minyak panas di atas wajan. Ruang makan yang menyatu dengan dapur ini terasa hangat.

Ayah memecah telur dan memasukkan dengan wajan. Diaduknya telur dengan sodet kayu hingga setengah matang. Lalu ia tambahkan irisan sawi hijau dan suwiran ayam. Terakhir dimasukkannya nasi dan dengan cekatan diaduk-aduknya nasi bersama sedikit garam dan kecap hingga matang. Wah harumnya. Perutku langsung bergemuruh dan terbitlah air liurku.

Cepat Ayah, Kami semua sudah lapar, aku menyemangati ayahku. Ayahku dengan sigap menaruh nasi goreng tersebut ke empat piring. Buatku, adikku, Ibu dan buat ayah sendiri.

Uap panas masih mengepul. Aku dengan sibuk meniup-niup agar nasi goreng bisa cepat kumakan. Hari ini istimewa, ayah memasak. Masakan nasi goreng ayah selalu spesial.

Ayah beberapa kali mengajariku memasak nasi goreng. Aku sudah piawai merajang bawang, menumisnya hingga wangi tapi tak gosong juga mengaduk nasi agar matangnya merata. Tapi entah kenapa nasi gorengku tak pernah seenak ayah. Oleh karenanya aku menyantap nasi goreng ayah ini dengan sukacita.

Ayahku hari ini tidak berjualan nasi goreng. Dan setelah kami tuntas menyantap nasi goreng, ia berkata ia akan pensiun menjadi penjual nasi goreng. Aku terkejut. Ibu lebih-lebih. Ia tak menyangka suaminya berkata seperti itu.

Ayahku sudah 27 tahun berjualan nasi goreng keliling. Sejak lulus SMA ia menggantikan ayahnya berdagang nasi goreng. Jualannya masih sama seperti dulu nasi goreng biasa, nasi goreng sosis, nasi goreng mawut dengan sayur sawi plus suwiran ayam dan bakmi goreng. Ia selalu suka cita ketika berangkat berjualan sekitar pukul 17.00 dan pulang ke rumah sekitar pukul 23.00. Jika sedang sepi ayah baru pulang pukul 01.00 atau 02.00 dini hari. Ia tidak enak jika pulang tak membawa uang cukup. Sayangnya akhir-akhir ini dagangan ayah tak selaris dulu.

Ibu sudah dua tahun lalu mencoba membantu ayah dengan menjadi buruh cuci gosok dan menerima jahitan. Ia tahu penghasilan ayah makin tak menentu. Tapi ia tahu ayah cinta memasak. Tak mungkin suaminya berhenti memasak begitu saja.

Kami semua terdiam. Aku rasanya ingin menangis. Apakah Kalian tidak tahu nasi goreng buatan ayah itu enak dan harganya tidak mahal. Belasan ribu rupiah per porsi mungkin bagi Kalian tak berarti, hanya sekian persen jika dibandingkan Kalian makan di restoran atau di mal.

Nasi goreng ayah yang tadi begitu enak kini rasanya si benakku jadi pahit. Ah jahatnya diriku mungkin ayah punya alasan lain sehingga memutuskan untuk pensiun.

Ayah kemudian lamat-lamat bercerita. Ia merasa sedih jika pulang masih membawa nasi. Ia tidak enak pada Ibu, mengambil modal dari uang yang dikumpulkan Ibu dan kemudian tidak bisa mengembalikannya dengan utuh. Lama kelamaan berjualan nasi goreng malah rugi, apalagi saat ini makin banyak portal, susah untuk masuk ke perumahan, saingannya pun banyak.

Ayah berkata ia akan memikirkan cara untuk bekerja.

Sudah sebulan ayah tak bekerja. Tidak juga sih. Ia mencoba berbagai pekerjaan. Ia ingin menjadi tukang ojek, tapi kami sendiri tak punya motor. Ia berkeliling menjajakan jasa apa saja. Terkadang ada yang kasihan, memberikan pekerjaan kepada ayah sekedarnya, seperti membersihkan puing, membetulkan genting, atau mencabuti rumput. Ayah kemudian pulang dengan ceria jika ia membawa uang. Tapi aku tahu ayah sebenarnya sedih.

Kenapa ayah tak lagi memasak? tanyaku. Ayah menggeleng. Bagaimana jika ayah berjualan di dekat sekolah. Ayah tersenyum, mana ada penjual nasi goreng pagi-pagi?

Bagaimana jika porsinya lebih kecil dan ditaruh di wadah dengan sendok plastik sehingga memudahkan? Usulku. Aku mendesaknya. Dan ia pun setuju memasak nasi goreng dan kemudiaj kutawarkan ke teman-temanku. Aku menjualnya separuh harga karena porsinya lebih mungil. Aku membawa 20 bungkus dan ludes. Entah memang karena enak atau mereka kasihan kepadaku.

Aku memberitahu ayah jika nasi gorengnya laku. Maka setiap hari aku pun membawa nasi goreng. Untunglah aku tak lagi membujuk temanku membelinya. Merekalah yang menghampiriku. Bahkan banyak dari kelas sebelah yang menanyakan masih adakah nasi goreng yang kubawa.

Ya, untuk saat ini aku jadi penjaja nasi goreng buatan ayahku. Lumayan laku. Setiap hari aku membawa 50 bungkus. Aku tak berharap banyak. Aku hanya ingin ayahku tetap bersemangat memasak. Karena memasak adalah hidupnya.

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada November 30, 2017.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: