Menunggu di Jakarta

Waktu di Jakarta itu rasanya sangat berharga. Oleh karenanya tak heran jika usaha ojek daring masih diminati karena orang-orang ingin tiba di lokasi dengan cepat, tidak membuang waktu berjam-jam dalam angkutan yang suka ngetem. Tempat-tempat nongkrong seperti kafe pun juga terus bertumbuhan karena orang-orang terkadang datang kepagian agar tidak terkena macet berkepanjangan, setelah itu mereka sibuk mengerjakan ini itu sambil menunggu jam kerja atau jam pertemuan.

Hari Senin adalah waktu yang mencemaskan jika sedang ada pertemuan di kawasan Jakarta pusat. Oleh karena tempat tinggalku ada di bagian pinggiran, aku harus berangkat lebih awal, ketika langit di Jakarta masih gelap. Meskipun masih pagi, kendaraan sudah banyak melintas. Terlambat 15 menit saja, maka jalanan sudah bakal penuh sesak.

Ketika tiba di tempat yang tak jauh dari lokasi  rupanya aku kepagian. Wah waktu satu jam di Jakarta sangat berharga, aku masih bisa melanjutkan kerjaan, mencicil proyek menulis, atau sekedar menulis di blog seperti ini. Ada depot masakan Padang yang nampak lezat tapi bangkunya sedikit dan tidak bebas rokok. Di tempat yang agak jauh ada resto fast food yang menyediakan banyak kursi dan meja, serta bebas asap rokok. Dalam kondisi seperti ini tentunya aku memilih yang nomor dua. Aku perlu tempat duduk dan meja saja. Paling pesannya kopi yang murah hahaha, atau syukur-syukur ada makanan yang cukup terjangkau.

Bagian kopinya belum buka. Aku harus puas dengan mocca float. Untunglah ada menu sarapan, ada pancake, ayam goreng, dan bubur ayam. Aku pilih bubur deh. Bubur dan minuman tersebut seharga Rp 17 ribu. Ya lumayanlah tidak beda jauh dengan nasi padang, minusnya rasanya kurang nikmat, plusnya meja kursinya banyak, ada tempat di pojokan yang kosong dan nampak nyaman, ada toilet hehehe, juga pastinya bebas asap rokok. Buburnya tak buruk sih, masih bisa dimakan. Minumannya juga lumayan, hanya sayangnya dingin.

Akhirnya aku ketak-ketik. Lumayan satu kerjaan selesai. Satu tulisan di blog sudah selesai, meski ya ceritanya gitu-gitu saja. Eh ngomong-ngomong dari kemarin si Mungil tidak pulang, aku jadi cemas.

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Januari 8, 2018.

4 Tanggapan to “Menunggu di Jakarta”

  1. Aku juga pernah nyobain Mba,bubur di restoran fastfood tapi rasanya ga enak. Lebih enak bubur abang pinggir jalan.

  2. Ketoprak klo di jawa itu tontonan atau seni drama jawa, 😁😁😁😁😁😁 tpi klo djkrta mkanan ya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: