#CeritaSamaMixagrip Tari Saman, Oh Bukan Ternyata Tari Ratoeh Duek

“Puspa, ikutan latihan nari ya buat mewakili divisi dalam perayaan ulang tahun kantor”

Eh, aku mengerjap-ngerjapkan mata. Kok aku sih yang diajak, bukan yang lain. Aku suka-suka saja menari. Tapi aku bukan jenis penari yang luwes. Gerakanku cenderung kaku. Bahkan dulu ada yang mengejekku  kalau menari seperti ranting pohon hahahaAku pun bertanya. Memangnya mau nari apa? Kalau tari hip hop aku malah bisa, soalnya banyak gerakan cepat dan tidak perlu gerakan yang begitu luwes. Waktu diberitahukan kalau jenis tariannya adalah tari tradisional, aku pun merasa was-was. Kalau salah satu penari terlihat kaku dan membuat penampilan perwakilan divisi jadi nampak buruk, bukan salahku lho.

Akhirnya setelah dirundingkan dengan si pelatih, maka tariannya adalah tari dari Aceh. Aku menghembuskan nafas lega. Untunglah bukan tari tradisional Jawa, setidaknya tari Aceh tidak bakal bikin pusing salah satu penarinya yang gerakannya kaku.

Masalahnya saat itu aku sedang bersiap menghadapi ujian pertengahan semester kuliah. Aku melanjutkan kuliah sambil bekerja. Adanya ajakan menari tersebut membuatku harus makin cerdik mengatur waktu. Biasanya kami latihan dua jam dari pukul 14.00-16.00. Jika pelatihnya sedang semangat maka bisa lebih lama berlatihnya. Usai jam kerja aku pun bersiap pulang ke kosan untuk bersiap-siap kuliah yang dimulai pukul 19.00 WIB.

Oleh karena kami hanya punya waktu persiapan sekitar tujuh hari kerja maka gerakannya pun diringkas. Gerakannya tidak sampai sepuluh. Latihan pertama kami adalah berlatih gerakan tepuk, dari tepuk dada untuk melatih tempo dan kekompakan. Hahaha baru latihan tepuk saja ternyata tidak mudah. Perlu konsentrasi.

Setelah mulai kompak, kami kemudian berlatih syair. Ada syair panjang yang nantinya bakal diucapkan sang pelatih, namun ada syair yang kami dendangkan sambil menari. Bernyanyi sambil menari juga perlu konsentrasi. Sambil memikirkan soal ujian yang nanti kuhadapi, aku mencoba menghafal syair tersebut.

Latihan berikutnya kami berlatih gerakan bersama. Kami berjajar dan kemudian berlatih gerakan yang memerlukan kekompakan dengan teman di kiri dan kanan kami. Ketika kepalaku bergerak ke kiri harus sama dengan rekan kiri kananku, begitu juga ketika kepalaku menoleh ke kanan. Jika tidak pas maka kepala bisa beradu dan gerakannya tidak selaras.

Bagian berikutnya adalah gerakan yang lebih susah. Ada bagian yang mengharuskan kami membungkuk dan mengangkat badan. Ini benar-benar perlu konsentrasi.

Suatu ketika rekanku hilang fokus. Ia salah gerakan sehingga beradu dengan rekan lainnya. Eh ia kemudian tergores dengan bros temanku sehingga pipinya berdarah. Wah gawat juga jika tidak fokus saat berlatih.

Masalahku kemudian hadir ketika aku datang bulan. Perutku nyeri dan kepalaku pusing. Hari itu aku juga menghadapi uiian tengah semester mata kuliah yang bagiku cukup sulit. Duh aku rasanya susah konsentrasi, baik untuk berlatih menari ataupun belajar.

Aku pun minta ijin hari itu tak berlatih menari. Aku menahan nyeri dan pusing hingga kemudian aku memilih minum obat. Selain nyeri haid, sepertinya aku mau pilek karena kecapekan. Rugi sudah bolos latihan kemudian tak bisa ikut ujian. Aku meminum MIXAGRIP dan kemudian beristirahat sejenak di meja kerjaku.

Sakit kepala dan nyeriku berangsur pulih setelah meminum MIXAGRIP. Aku hanya punya waktu sejaman untuk belajar. Syukurlah nilaiku tidak begitu buruk.

Besoknya aku kembali berlatih. Sehari bolos rupanya aku banyak ketinggalan. Aku berupaya mengejar ketertinggalanku dengan berupaya fokus.

Akhirnya hari H. Kami tampil dengan gemilang dan lancar. Ada beberapa sedikit kesalahan tapi tidak signifikan. Kami tersenyum puas bisa mempertunjukkan tarian Aceh dengan kompak.

Ternyata bukan tari Saman yang kami tampilkan

Kupikir semua tari Aceh dengan tepuk dada dan gerakan cepat itu bernama tari Saman. Baru pada saat pembukaan Asian Games, aku baru tahu ternyata aku salah kaprah seperti sebagian besar masyarakat Indonesia lainnya.

Tari Saman berasal dari Gayo, menggunakan syair dan hanya ditampilkan oleh penari pria. Sedangkan tarian yang kupertunjukan pada saat ulang tahun kantor ditampilkan oleh empat penari perempuan, dua penari pria dan satu pemimpin tarian. Kami tetap menggunakan syair sebagai pengiring tarian tapi pemimpin tarian kami yang membacakan syair panjang berada di luar formasi barisan. Ternyata tarian yang kami pertunjukkan bukan tari Saman melainkan tari kreasi Saman yang disebut tari Ratoeh Duek.

Belajar tarian tradisional itu menarik. Aku jadi belajar tentang budayanya, kostumnya, dan bagaimana tarian satu ternyata berbeda dengan tarian lainnya walaupun sekilas mirip. Demikian ceritaku bersama MIXAGRIP.

Sumber gambar: dokumen pribadi, pernah ditayangkan di Kompasiana

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Agustus 25, 2018.

2 Tanggapan to “#CeritaSamaMixagrip Tari Saman, Oh Bukan Ternyata Tari Ratoeh Duek”

  1. memang tari jawa sangat susah karena banyak gerakan yang harus luwes dan harus menghayati, kalau dibandingkan dengan tari dari Aceh pasti lebih susah tari jawa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: