Ayam Goreng dan Nero

Aku membuka kardus jatah makan siangku. Isinya ayam goreng, tahu goreng, lalapan dan sambal. Perasaanku campur aduk, antara kecewa melihat menunya ayam negeri yang berukuran besar, tapi sekaligus senang aku tidak perlu pusing memikirkan makan malam buat Nero, kucingku. Nero doyan ayam goreng, berbeda denganku.

Bukan berarti aku tidak bersyukur. Ya lumayanlah dapat makan siang pada saat aku tidak membawa bekal. Bikin hemat hehehe. Tapi aku kurang antusias dengan ayam goreng. Akhirnya aku hanya menyantap tahu goreng, sambal dan lalapannya. Ayamnya hanya kucuil sedikit dan kubawa pulang. Oleh-oleh buat Cak Nero.

Bukan berarti aku tak suka ayam goreng. Kadang-kadang aku juga memasak ayam goreng, ayam goreng kampung atau terkadang ayam negeri yang kupotong kecil-kecil lalu kuungkep dengan bumbu. Ya, rahasia ayam goreng yang sedap adalah bumbu dan sambalnya.

Bumbu ayam goreng beragam. Ibu dulu memberikan resep yang kaya bumbu, pastinya ada bawang putih, bawang merah, daun salam, ketumbar, lengkuas, dan masih banyak lagi. Ada juga resep ayam goreng ala Mbok Berek. Juga resep ayam goreng lainnya yang tak kalah ribet tapi menghasilkan ayam goreng yang lezat. Masalahnya ayam goreng yang sering kutemui itu jenis ayam goreng yang kurang berperasaan. Ayam goreng miskin bumbu dan miskin kasih sayang dari pembuatnya. Hambar.

Kawan-kawanku menggelengkan kepala. Ada juga yang tertawa. Sebagian sudah tahu tabiatku. Ckckckkc pasti buat Nero.

Kucingku Nero sebenarnya sudah punya stok makanan berupa biskuit kucing. Kadang-kadang juga ada jatah makanan kucing jenis makanan basah yang aromanya menusuk seperti sarden. Tapi yang namanya Nero ini masih suka minta nasi plus ikan, atau ayam rebus juga ayam goreng. Hehehe seleranya itu kayak manusia ya. Ia juga doyan banget menyantap daging rebus beserta kuahnya, juga hati ayam rebus.

Biasanya apabila aku malas memasak dan sedang tidak ada persediaan ikan ataupun ayam, aku suka membungkus makanan di warteg. Satu buatku dan sebungkus nasi dengan dua ikan kembung buat Nero, tanpa ada sambal dan sayuran. Jika penjualnya bertanya kubilang jika yang satu ini doyan banget ikan dan nggak suka sambal dan sayuran.

Eh tapi aku pernah tertangkap basah lho. Waktu itu beli di warteg lainnya. Aku minta satu nasi dan dua ikan cue alias ikan pindang. Eh penjualnya nyeletuk. Ini buat kucingnya mbak? Hahaha aduh aku nggak enak banget. Aku kuatir ibunya tersinggung. Aku meminta maaf dan berkata memang itu jatah kucingku. Dia pun tertawa.

Tentang Nero, dia memang kucing yang paling kumanjakan. Dia sahabatku dan yang paling kuingat dia pernah menghiburku, duduk di pangkuanku ketika aku sedang bersedih. Tangannya atau kaki depannya yang imut menepuk-nepuk lenganku seolah-olah menentramkanku.

Oh Nero, Kamu itu kucingku juga sahabatku.

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Oktober 21, 2018.

2 Tanggapan to “Ayam Goreng dan Nero”

  1. Nero rupanya suka dengan ayam ya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: