Aku, Maya, dan This is Me

This is Me salah satu tembang soundtrack film akhir tahun lalu yang begitu populer. Film The Greatest Showman mengisahkan pertunjukan yang dilakukan oleh mereka yang penampilannya dianggap ‘janggal’ oleh kalangan masyarakat masa itu sukses besar. Meskipun banyak mendulang ulasan positif film ini gagal meraup banyak penghargaan Oscar. Namun di sini aku ingin menyoroti para pekerja dalam sirkus tersebut yang konon diangkat dari cerita nyata. Lantas apa hubungannya dengan Maya? Uhm ada deh hehehe.

This is Me menjadi salah satu nyawa dalam film yang dibintangi Hugh Jackman dan Michelle Williams. Awalnya Barnum (Hugh Jackman) bekerja kantoran hingga kemudian di-PHK. Ia tak berputus asa dan kemudian mencoba untuk membuka sirkus.

Tak mudah untuk mengajak penonton tertarik pada pertunjukan sirkus. Apalagi para bintang sirkusnya orang-orang yang berpenampilan ganjil. Mereka yang di kehidupan nyata tersisih dan dijauhi masyarakat. Pertunjukan tersebut dianggap hanya layak ditonton masyarakat kelas bawah.

Namun, para pelaku sirkus kemudian membuktikan mereka memang berbeda dan merasa bangga dengan keunikan dan bakat yang dimilikinya. This is Me, lagu yang dibawakan Keala Settle tersebut menjadi salah satu tembang soundtrack yang populer dan meraih nominasi Best Original Song dalam penghargaan Oscar.

I am brave, I am bruised
I am who I’m meant to be, this is me
Look out ’cause here I come
And I’m marching on to the beat I drum
I’m not scared to be seen
I make no apologies, this is me

Tema film ini agak mirip dengan cerita Ayu Utami dalam buku berjudul Maya. Dalam buku ini terdapat sosok yang memimpin sebuah perguruan yang memiliki ilmu yang tinggi dan bijak. Dalam kompleks perguruan ini terdapat area yang ditinggali mereka yang kondisi tubuhnya juga dianggap ganjil. Ada yang sangat tinggi dan berwajah seram, ada pula yang wajahnya pucat dengan tinggi tubuh di bawah rata-rata bernama Maya. Mereka punya bakat dalam menari. Agar penonton tidak ketakutan melihat wujud asli mereka, pertunjukan tari menggunakan tabir sehingga yang terlihat hanya bayangan alias samar atau maya.

Lantas apa hubungan lagu dan buku tersebut denganku? Setiaporang lebih baik menjadi dirinya sendiri, jangan mau meniru dan ditekan untuk meniru. Mencintai diri sendiri dengan menjadi dirimu sendiri dan percaya dengan kelebihanmu.

Hehehe aslinya aku bingung ketika tema tantangan menulis hari ini tentang 5 Fakta Soal Diri Sendiri. Sebenarnya sebagian hal tentang aku bisa ditebak dari minatku yang tercermin dari tulisan-tulisanku.

Aku suka musik, itu bukan hoaks. Sebenarnya aku lebih mania musik daripada film. Dulu aku belajar matematika dan kimia ditemani musik. Aku belajar untuk ujian masuk perguruan tinggi ditemani Korn, Limpbizkit, dan musik-musik cadas dan sangat bersyukur ketika berhasil masuk ke kampus negeri di Surabaya.

Oleh karenanya aku tak pernah percaya musik cadas itu merusak. Musik cadas bagiku kawanku. Musisi beraliran cadas sama jeniusnya dengan musisi lagu-lagu klasik.

Hal-hal tentang diriku sebenarnya tidak penting. Tapi demi tema ini mohon maafkanlah aku karena menuliskannya. Sila di-skip aja, bisa bikin eneg🦓.

Fakta kedua, aku tak alergi musik dangdut, melayu, rock n’ roll, dan ragam musik lainnya. Aku dulu juga mendengarkan lagu dangdut jaman Ahmad Albar dengan Zakia, lagu dangdutnya Rano Karno dan Ria Irawan berjudul Sorga Dunia, RT 5 RW 3 nya Cici Paramida, Kopi Dangdutnya Rama Aiphama dan sebagainya. Menurutku cukup banyak lagu dangdut yang enak didengar serta liriknya tidak vulgar dan murahan.

Aku juga mendengarkan musik rock n’ roll lawas seperti lagunya Elvis. Aku mendengarkannya satu album yang terdiri dari puluhan lagu. Saat itu aku SMP dan lagi gila-gilanya dengan musik. Usai sekolah aku suka membuka-buka kardus berisi ratusan atau mungkin ribuan kaset milik ayahku. Aku mendengarkannya satu-persatu hingga kemudian kakakku marah karena tape recorder jadi kotor.

Aku masih ingat beberapa lagu Elvis seperti Surrender, Are You Lonesome Tonight, Love me Tender, She’s not Yoy, You are The Devil in The Disguise, Can’t Help Falling in Love, dan Doing The Best I Can. Beberapa judul lagu Elvis menarik. Oh ya ada yang judulnya Young and Beautiful mirip dengan punya Lana del Rey.

Fakta ketiga aku tak bisa jauh-jauh dari kucing. Mereka suka menghampiriku dan jadi temanku. Kucing-kucing yang kukenang di antaranya si Tambeng yang setia, Cemplang yang suka lari miring, Tung tung yang punya ancaman ‘mengeluslah selamanya atau kugigit’, Imut yang suka pangku, Dandong yang liar, dan Bonbon si penyayang. Kini aku punya Nero yang dari mata dan suara mirip banget dengan Dangdong.

Aku mania buku dan pasti banyak yang telah mengetahuinya. Aku suka sekali cerita dongeng dengan sihir, heroine dan makhluk fantastis; cerita yang kaya makanan enak seperti karya Enid Blyton; cerita fiksi sains yang bikin berpikir seperti Fear-nya Michael Crichton; cerita pencarian harta karun dengan balutan kisah sejarah; dan pastinya cerita yang bikin aku tertawa geli hingga mulutku kaku seperti Denka dari Planet Ume dan Bundel (dibaca Bandel).

Fakta keempat aku pernah kekurangan makanan saat masih kuliah. Kiriman uangku saat itu terbatas dan aku lebih mendahulukan untuk memfotokopi buku teks. Waktu itu juga lagi sepi tawaran pekerjaan seperti memberi les privat.

Alhasil aku sering berpuasa masa itu. Pernah suatu ketika dalam beberapa bulan aku hampir tiap hari berpuasa. Sahur dan berbukanya bukan hal yang istimewa, sering kali hanya teh manis dan bubur dengan kecap asin. Bahkan menyantap mie instan atau nasi hangat dan telur ceplok sudah sebuah kenikmatan. Tapi ini bukan cerita sedih, malah sebaliknya. Aku senang dan bersyukur bisa bertahan dalam kondisi yang sulit tersebut.

Yang terakhir, aku memang dulu pernah berkeinginan menjadi wartawan. Dulu jika ditanyai cita-citaku aku kadang-kadang berkata ingin menjadi duta besar atau arkeolog. Cita-cita yang jarang kuungkap adalah menjadi wartawan dan penulis.

Dua cita-citaku di awal tak kesampaian karena aku mengambil jurusan eksata. Aku bersorak ketika aku diterima menjadi wartawan sebuah media besar yang berpusat di Surabaya.

Masa-masa menjadi kuli tinta adalah sebuah pengalaman yang luar biasa. Perasaan diburu deadline, kebingungan mencari berita hingga perasaan lega ketika beritaku dimuat itu salah satu episode hidupku yang berkesan.

Ah akhirnya selesai juga tulisan ini.

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada November 25, 2018.

6 Tanggapan to “Aku, Maya, dan This is Me”

  1. O Bgtu to hubungan nya :))

  2. Di masa2 susah malah jd kenangan indah yaaa.. Terus bikin kita makin bersyukur atas keadaan skrg.. 💕

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: