Cerita Tentang Buku

Setiap kali aku berkeliling ke toko buku aku mendesah. Kenapa ya harga buku belakangan ini terasa begitu mahal. Akhirnya aku melangkah ke bagian obral. Tak ada yang kuinginkan. Aku jadi kangen ketika Kwitang masih banyak dengan penjaja buku murah. Aku kangen masa-masa masih suka berburu buku miring dan buku bekas.

Sejak kecil aku merasa harga buku mahal. Kini ketika sudah bekerja aku juga masih merasa harga buku begitu mahal. Bahkan lima tahun terakhir ini terasa begitu mahal. Aku sering ke toko buku dan pulang dengan tangan hampa. Kadang-kadang hanya membawa Kungfu Boy Legend yang sampai saat ini juga belum tamat.

Aku ingat sejak kecil rasanya susah untuk berlangganan majalah anak-anak. Aku lebih sering pinjam ke saudara atau membeli di toko buku bekas. Aku harus menabung seminggu dulu baru bisa membeli komik seperti Candy-Candy. Ya aku ingat dulu dengan Rp 3 ribu aku hanya bisa membeli satu buah komik. Sedangkan jika membeli di toko buku loak aku bisa mendapat enam buku, baik majalah Hai, novel seperti Lima Sekawan, atau komik Nina.

Ketika remaja aku juga sering-sering berhemat uang jajan. Saat-saat ketika sendirian atau bersama kakak berkeliling mencari buku bacaan di toko buku loak rasanya begitu menyenangkan. Sebagian koleksiku seperti Little House on the Prairie, komik Nina, Lima Sekawan dan kawan-kawannya banyak kudapatkan ke sini.

Ketika aku kuliah ke Surabaya banyak koleksi bukuku yang hilang. Aku merasa sedih. Tapi yang paling membuatku nelangsa ketika mengetahui koleksi perwayangan ayahku juga banyak yang lenyap dan rusak. Buku itu langka dan aku suka membacanya. Cerita tentang Leluhur Hastina hingga persiapan perang Baratayuda semuanya ada di sana. Demikian juga kisah tentang Parikesit dan Udrayana.

Saat di Surabaya aku menimbun buku dari pameran buku dan berburu buku bekas di jalan Semarang. Wah rasanya luar biasa berjalan dari satu lapak ke lapak lain mencari harta karun berupa buku. Aku mendapatkan banyak buku yang saat ini sudah mulai langka.

Lagi-lagi di Jakarta aku juga menimbun buku. Karena sudah bekerja maka bujetku membeli buku pun bertambah. Aku membeli buku baru tapi juga tetap suka berburu buku murah di pameran dan lapak buku bekas di sekitaran Senen dan Plaza Festival. Mencium aroma buku, membuka halamannya, menikmati permainan kata di judulnya adalah pengalaman yang kusukai setiap kali berbelanja buku.

Hingga lima tahun lalu aku masih suka membeli buku meskipun frekuensinya mulai berkurang. Ya aku merasa harga buku sangat mahal. Dulu harga novel sekitar Rp 30-50 ribu. Tapi sekarang harganya hampir tiga kali lipat. Buku-buku Dewi Lestari di atas seratus ribu. Demikian pula buku-buku terjemahan. Aduhai harganya.

Buku-buku anak juga berkisar Rp 30 ribu ke atas. Padahal bukunya hanya tipis dan sampulnya biasa. Komik pun sekarang Rp 25 ribu perbuahnya.

Ketika aku curhat ke kawanku, ia berkata biaya percetakan sekarang mahal. Ada juga pajak sehingga harga buku menjadi mahal.

Ya mudah-mudahan dengan harga buku yang mahal maka kesejahteraan penulis pun meningkat. Tapi aku sebagai penikmat buku agak merasa tersiksa. Aku ingin membeli buku baru tapi tak kuasa melihat harganya. Rp 100 ribu itu masih besar nilainya bagiku. Aku juga masih bisa membaca buku gratisan di perpustakaan ataupun lewat aplikasi perpustakaan legal seperti iJakarta dan iPerpusnas.

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Maret 24, 2019.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: