Pada Suatu Ketika

Pada suatu ketika ada sebuah negeri yang begitu subur. Segala macam tanaman bisa tumbuh di tanah tersebut. Hewan-hewan juga menyukai daratan tersebut. Begitu sejuk dan makanan yang disediakan oleh alam juga berlimpah-ruah. Kehadiran negeri surgawi itu kemudian diketahui oleh para manusia. Kekayaan dan keindahan negeri itu kemudian banyak diperbincangkan. Manusia dari daratan lainnya pun tertarik dan kemudian berbondong-bondong untuk ikut mencicipi hidup di negeri yang indah.

Pada suatu ketika negeri itu begitu subur. Manusia dan para hewan menikmati kesuburan tanahnya. Buah-buahan tinggal diambil. Bunga tinggal dipetik. Mereka tak perlu banyak bersusah payah.

Hingga suatu ketika…

Jumlah penduduk semakin banyak. Buah-buahan di hutan pun tak cukup untuk menghidupi. Manusia mulai berebut dengan para binatang. Manusia yang serakah kemudian menjadikan para hewan sebagai buruan. Ikan di perairan juga ditangkapi. Tapi oh manusia tak pernah cukup. Jumlah penghuni daratan ini juga semakin banyak. Mereka perlu bercocok tanam.

Untuk bercocok tanam maka perlu lahan. Tanaman di hutan mulai digantikan dengan tanaman yang menghasilkan pangan. Awalnya jumlahnya tak banyak. Tapi makanan selalu diperlukan, untuk keluarga dan juga bisa ditukarkan dengan benda lainnya seperti pakaian.  Oh ya bagaimana dengan kebutuhan pakaian perlu serat tanaman tertentu, perlu ulat sutera, perlu kulit binatang.

Pada suatu ketika daratan itu negeri yang begitu indah. Begitu makmur, begitu subur, seperti negeri surgawi. Kini daratan itu seperti rambut seseorang yang memiliki pitak, dari hutan yang hijau dan indah kemudian banyak berganti lahan pertanian. Hewan-hewan juga makin lama tak nampak. Mereka kini disebut hewan liar dan hewan langka karena semakin tak terlihat oleh manusia.

Rupanya daratan itu masih punya pesona. Manusia masih terus berdatangan. Oh kini mereka perlu lahan untuk tempat tinggal. Lagi-lagi hutan harus mengalah. Hutan pun berubah menjadi pemukiman dan juga lahan pertanian. Hutan yang hijau telah hilang merana.

Pada suatu ketika daratan itu negeri yang subur, kini unsur hara telah hilang. Ia tak lagi subur. Tanaman susah tumbuh meski diberi banyak pupuk. Lama-kelamaan ia menjadi daratan yang tandus.

Air telah mulai mengering karena manusia terus saja mengonsumsi. Air tawar kemudian berhenti hadir. Daratan itu benar-benar tandus dan kemudian air laut masuk. Air yang merembes ke daratan berasa asin. Warga pun bergidik dan menutup sumber air asin tersebut.

Daratan tandus itu pun mulai ditinggalkan. Ia kemudian hanya menjadi cerita. Yang tersisa hanya angin dan tanah yang padat kering. Cerita daratan yang subur dan indah bak sebuah dongeng belaka.

Kredit gambar: Pexels: @ToddTrapani dan @JordanBenton

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Juni 17, 2019.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: