Perlukah 6W Plus 1H dalam Menulis?

Dalam kaidah jurnalistik, menulis sebuah berita memerlukan 5W dan 1 H. Komponen penulisan tersebut terdiri atas what, who, where, when, why, dan how. Tapi ada satu lagi yang dianjurkan ketika aku masih bergabung di sebuah media, yaitu what’s next.

Komponen 6W plus 1H ini penting dipahami oleh para kuli tinta agar beritanya komprehensif.
– ‘What’ itu menyangkut peristiwa apa yang sedang terjadi. Apakah banjir, korupsi atau fenomena langka yang belum bisa dijelaskan.
– ‘Who’ tentang siapa yang terlibat dalam kejadian tersebut. Misalnya pada peristiwa bencana alam umumnya ada warga yang terdampak, BNPB, Pemda yang wilayahnya terdampak dan sebagainya. Jika sebuah peristiwa kriminal maka akan ada korban, pelaku, dan pejabat berwenang mengusut kejadian
– ‘Where’ menunjukkan lokasi sebuah peristiwa. Semakin detail umumnya semakin baik. Misalnya terjadi tanah longsor yang menimpa warga desa A di kecamatan x, kabupaten Y Jawa timur
– “When’ berkaitan dengan waktu kejadian. Misalnya peristiwa dentuman misterius terjadi sekitar pukul 02.00.
– ‘Why’ mengapa peristiwa itu terjadi. Misalnya sebuah kejadian pencurian yang ternyata tak ada barang yang sama sekali diambil. Rupanya kejadian itu hanya untuk mencoba apakah sistem keamanan di rumah tersebut tidak berjalan dengan baik, banyak celahnya.
– ‘How’ tentang bagaimana peristiwa itu terjadi. Rupanya peristiwa longsor dikarenakan daerah tersebut adalah daerah hijau yang teresksploitasi besar-besaran.

Jika 5 W dan 1 H terpenuhi maka sebuah berita disebut sudah komprehensif. Lantas seperti apa unsur ‘what’s next’?

“Apa berikutnya” biasanya tak secara gamblang disebutkan oleh si penulis berita, tapi bisa jadi petunjuk bagi pencari berita untuk terus melanjutkan berita tersebut jika dirasa belum cukup dan belum selesai. Bisa jadi ini merupakan rancangan berita secara imajiner.

Misalnya kasus kebakaran hutan. Pada berita pertama disebutkan kejadian, lokasi dan warga yang terdampak. Pada berita berikutnya diungkapkan pendapat BNPB dan kepala daerah.

Jika kebakaran hutan meluas maka si pencari berita bisa saja meminta pendapat Dinas Kehutanan, Menteri lingkungan Hidup dan Kehutanan. Apabila ada unsur pidana di balik peristiwa kebakaran hutan tersebut maka pencari berita bisa melakukan wawancara ke Polda.

Biasanya pencari berita tak puas dengan narasumber yang memberikan jawaban formal. Maka mereka akan mencari keterangan dari berbagai pihak alternatif seperti LSM yang bergerak di lingkungan, masyarakat adat dan juga mengumpulkan data frekuensi kebakaran hutan dan siapa-siapa yang pernah terlibat di dalamnya.

Wartawan investigatif akan berupaya agar masalah ini tuntas. Setelah kebakaran hutan selesai mereka alan berupaya kejadian ini tak berulang. Untuk itu ia akan melakukan penelusuran siapa pihak yang diuntungkan dengan kebakaran hutan, siapa otak di balik pembakaran hutan dan apabila mereka sudah jadi tersangka maka di wartawan akan melakukan pengawasan apakah kasus berujung dengan tindak pidana atau pelakunya melenggang bebas.

Ya, untuk ‘what’s next’ perlu jam terbang. Jadinya berita tidak hanya muncul sekali dan menghilang tapi kemudian terjadi lagi. Kasus pencurian kendaraan bermotor, misalnya, bisa jadi ada semacam komplotan di baliknya. Hal ini misalnya bisa dilihat dari jual beli onderdil kendaraan secara ilegal, dari mana barang ini dipasok? Dan sebagainya.

Umumnya 5 W dan 1 H ada dalam sebuah tulisan yang berunsur berita. Berita tentang even blogger juga bisa menggunakan unsur ini. Tambahan ‘what’s next’-nya bisa saja dirancang. Misalnya blogger menghadiri even launching sebuah produk susu untuk kaum dewasa. Artikel pertama bercerita tentang peluncuran, kemeriahannya yang dihadiri artis dan sebagainya. Artikel berikutnya bisa tentang susu itu sendiri, apa manfaatnya dan kelebihannya dengan produk sejenis. Bisa melakukan wawancara dengan manajer pemasarannya atau CEO-nya sekaligus. Selanjutnya bisa disebutkan apa perbedaan kesehatan kaum dewasa yang tidak dan yang rajin minum susu, ini bisa minta keterangan dari dokter. Kemudian, juga bisa dibuat artikel dari si artis, apa kegiatannya dan apa yang membuatnya suka dengan produk susu tersebut. Syukur-syukur jika kemudian hari bisa diajak meninjau langsung proses pembuatan susu tersebut. Ternyata memang steril dan higienis proses pembuatannya. Dan sebagainya.

Bagi sebuah tulisan opini di blog, tentunya unsur 5 W dan 1 H tidak harus dipaksakan ada. Memang jika unsur ini terpenuhi maka tulisannya akan lebih komplit dan detail.

Gambar: pexels/lum3n

~ oleh dewipuspasari pada April 12, 2020.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: