Suka dan Duka Beriringan

Hidup itu aneh. Kadang duka dan suka hadir beriringan. Semesta seolah-olah memberi peringatan, jangan bersuka berlebihan, juga jangan berduka terlalu dalam. Ketika aku merasa gembira karena bisa menonton resital lagu-lagu Hans Zimmer, tak lama aku mandengar kabar duka cita. Kucingku Kiki meninggal.

Tadi petang aku memakamkan Kiki dalam sunyi. Kugali tanah sendiri. Kusemayamkan kucingku setelah aku melihat sosoknya kali terakhir. Kiki kucingku yang kusayangi meninggal sendiri di klinik. Aku merasa bersalah, andai aku tidak pergi, andai Kiki kubiarkan di rumah dan kujagai.

Semalaman dan hari berikutnya aku larut dalam tangis. Rasanya tenggorokanku tercekat dan aku enggan untuk melakukan apa-apa, hanya ingin bersedih hingga rasa itu tuntas sendiri. Hujan deras terus mengiringi hari Minggu dan saat Senin aku pun pulih.

Setelah pemakaman, aku merasa lega. Kiki sudah tenang di sana. Ia tak lagi kesakitan dan terus merasa lemas.

Aku bersyukur Kiki sempat menemaniku di dunia. Ia kucing yang sungguh manis dan tidak nakal.

Namun, lagi-lagi Tuhan memberikan kontradiksi. Ketika aku kehilangan, ia memberikan ganti. Mumu membawa keenam bayinya, ia pindahkan ke kamar sehingga aku bisa melihat sendiri. Astaga enam bayi.

Bayi-bayi Mumu punya motif beragam. Ada belang telon, oyen, motif sapi kayak Cemong, juga hitam. Suara tangisan dan meongan bayi-bayi itu membuat rumahku semarak.

Aku tak tahu seperti apa perasaanku. Duka itu masih tersisa, tetapi juga ada lapisan haru. Mengurus enam bayi kucing tidak mudah, oh apakah ini tugas baruku?!

~ oleh dewipuspasari pada Mei 25, 2026.

Tinggalkan komentar