“Saturday Night” dan Sekeliling yang Jadi Sinematik

Saturday Night tidak hanya menyeretku ke masa lampau, namun juga membuatku melihat dunia sekeliling dengan cara berbeda.”


Mungkin memang “Saturday Night” yang kusematkan sebagai tembang terfavorit dari Suede hingga saat ini. Lagu ini dulu yang kutunggu-tunggu saat Suede manggung di Jakarta tahun kemarin. Aku juga masih sering memutarnya hingga saat ini.

Aku menunggu Brett menyanyikan bait terakhir yang merupakan ikonik. Aku merasa terharu hingga ke pori-pori. Akhirnya aku bisa mendengar lagu favoritku itu langsung dinyanyikan, oh ini momen yang berasa magis.

Namun, lagu ini bukan hanya membuatku merasai nostalgia, tidak hanya itu, lagu ini membuat caraku berubah melihat dunia sekeliling. Apabila aku menginginkan, aku menyulap keadaan sekitarku seperti adegan dalam film. Dunia sekitarku berubah jadi dramatis dan berasa sinematik.

Ini bukan hanya pengaruh dari lagunya. Melainkan juga dari video klipnya. Coba putar videonya. Adegan-adegan dalam video tersebut sebagian besar ada dalam stasiun kereta api dan gerbong kereta. Ini membuatku merasakan perjalanan naik kereta bisa menjadi romantis dan menyenangkan seperti dalam sinema.

Kubayangkan diriku adalah pemeran utama dalam film. Sementara, calon penumpang yang naik tangga atau eskalator dengan tergesa-gesa adalah bagian dari crowd alias figuran. Minimarket dalam stasiun, toilet, ataupun bangku dalam stasiun adalah bagian dari setnya. Sedangkan kartu atau ponsel dengan kode QR untuk melakukan tap adalah salah satu properti yang akan kugunakan.

Apabila aku mengubah dunia riil jadi dunia rekaanku ala sinema, aku tak lagi merasa bosan dalam perjalanan. Perjalanan ini bak sebuah adegan dalam film, aku bisa mengubah tone-nya jadi dramatis atau malah suram dengan ekspresi wajahku jika aku tak ingin melibatkan pemeran lainnya.

Lihat langkahku. Langkah yang tenang seperti final boss dalam manga ataupun film kartun. Rambutku berkibar tersapu angin, saat-saat seperti ini skoring dramatis sebaiknya mengalun.

Namun, dunia sinematikku kini tak hanya berlatar di stasiun dan gerbong kereta. Apabila aku sedang bosan melaju di tengah kemacetan, kuubah sekelilingku bak tokoh-tokoh dalam film drama. Coba lihat pedagang sayur itu, ia punya rahasia yang membuat sayurannya selalu segar. Lihat calon penumpang TransJakarta itu, diam-diam ia memikirkan cara pergi ke bulan.

Semua berawal dari lagu “Saturday Night”. Aku merasai perjalanan naik KRL, MRT, ataupun LRT jadi berasa romantis. Namun, kini bukan hanya perjalanan dengan kereta, aku bisa mengubah dunia riil jadi sinematik jika aku sedang ingin.

Gambar milik Suede

~ oleh dewipuspasari pada Mei 22, 2026.

Tinggalkan komentar