Gelisah

Mataku sulit terpejam. Aku terbangun karena ulah anak kucing liar yang rupanya tidur di atas dada. Aku pun menulis dan melakukan hal lainnya agar kantukku datang. Namun, si anak kucing terus mengusikku membuat kekesalanku memuncak dengan mengusirnya keluar dari kamar. Kini tersisa rasa gelisah.

Rasa gelisah ini hadir karena aku memikirkan banyak hal. Aku merasa bersalah. Ketika aku tidur nyenyak dengan baju kering nyaman dan sebelumnya makan kenyang, bagaimana dengan saudara satu negeri yang ada di Sumatera, Maluku, Papua, dan pulau lainnya yang tertindas?

Tidak, bukan karena film Pesta Babi. Aku sudah tahu banyak hal yang tidak beres jauh sebelum itu, tapi memang film dokumenter itu makin membuat dada ini terasa perih. Mengapa saudara setanah air ini tersiksa di negerinya sendiri?

Ibu dan pasangan memintaku berhati-hati menulis opini. Aku terus menahan diri. Yang terjadi aku sering tak bisa tidur nyenyak, aku tak tahu apa yang bisa kulakukan buat mereka yang terusir dan tertindas, selain berdonasi dengan nilai yang kecil.

Aku hanya bisa menyampaikan keluhan dan harapan ke yang Maha Kuasa. Namun, sebenarnya tak cukup hanya dengan doa, Tuhan pasti ingin aku lebih berusaha.

Aku pun berbicara dengan alam. Kucakapkan yang kugelisahkan ke angin yang sedang berhembus, kuucapkan doa ke tanah di halaman, kubisikkan harapan ke tetes-tetes air hujan, kusemaikan asa ke akar-akar tanaman. Alam, semesta, Tuhan pasti akan menolongku negeri ini, aku yakinkan itu ke diri sendiri setiap harinya.

Namun, aku merasa itu tak cukup. Hanya aku belum tahu apa yang bisa kulakukan, apa cukup dengan menghibur dan mendengarkan segala keluh? Mereka begitu jauh. Aku hanya mendengarnya lirih ketika angin berhembus menyampaikan pesan itu

Aku tak tahu. Dan, aku ragu. Apakah aku boleh tidur nyenyak hidup bahagia sementara yang lain merasai pilu dan kalut?

~ oleh dewipuspasari pada Mei 23, 2026.

Tinggalkan komentar