Kentalnya Unsur Budaya Melayu dalam Film “Ramlie Oii Ramlie”

ramlie oii ramlie

Seorang tukang sayur mengeluarkan rayuan kepada pembelinya. Dua remaja putri tersebut tersipu-sipu mendengar isi pantun tersebut. Oh rupanya si penjual memang cakap berpantun. Ia juga melontarkan jurus yang sama ke pembeli berikutnya. Itulah salah satu adegan dalam film “Ramlie Oii Ramlie”.

Pantun lekat sebagai kebudayaan ras Melayu. Ia merupakan salah satu jenis puisi lama yang memiliki rima dan jumlah bait tertentu. Dahulu masyarakat Melayu pandai sekali berbalas pantun. Namun kini kebiasaan berpantun di kalangan anak muda mulai pupus. Padahal berpantun melatih kemampuan memilih kata agar memiliki rima dan pesannya tersalur.

Dalam film “Ramlie Oii Ramlie” penonton akan merasa senang karena masyarakat di sebuah desa fiktif di Batam ini masih begitu luwes berpantun. Kultur Melayu  di sini kental pada masyarakatnya sehari-hari, berpadu dengan muatan lokal yang khas di daerah tersebut. Sayangnya ada beberapa kesenian khas daerah setempat yang mulai ditinggalkan, inilah yang ingin diperkenalkan ke generasi baru.

Tokoh utama dalam film ini adalah Ramlie. Ia dinamakan seperti aktor idola ibunya, Tan Sri Puteh Ramli, aktor ternama Malaysia turunan Aceh yang legendaris. Ramlie sendiri juga ikut-ikutan menggemari Ramli. Ia menirukan tatanan rambutnya yang khas dan lagaknya dalam film. Meski masih pengangguran dan tak tampan, ia tetap percaya diri, sehingga menarik hati para gadis. Ada dua gadis yang naksir pada Ramli.

Film ini dibalut dengan unsur komedi dengan mengedepankan muatan lokal. Alur ceritanya nomor dua. Jadi jangan heran jika tiba-tiba Ramlie muncul di taman yang indah, juga  ke tempat-tempat terkenal dan memesona di Batam. Agak absurd kalau ditonton secara serius, jadi santailah dan nikmatilah budaya Melayu yang disajikan. Penampilan Ramlie yang santai natural juga mengundang tawa.

Dalam film yang diriis tahun 2019 ini seluruh pemain menggunakan logat Melayu yang khas. Musik Melayu menjadi iringan film dengan unsur akordionnya yang khas. Juga ada tarian dan lagi dan pentas makyong yang mulai langka. Melihat film ini aku jadi ingat akan komedian Benyamin Sueb. Gayanya kocak natural.

Memang film “Ramlie Oi Ramlie” bukan satu-satunya film yang mengangkat unsur muatan lokal. Sudah ada beberapa film seperti “Seroja” dan “Laskar Pelangi” yang juga mengangkat kultur Melayu. Belum lagi film yang mengangkat muatan lokal daerah lainnya seperti “Sekala Niskala” yang mengangkat unsur mistis Bali dan “Uang Panai” yang kental akan tradisi Makassar. Namun dibandingkan film drama lainnya, film drama dengan muatan lokal itu masih terbilang terbatas, sehingga kehadiran film besutan Fajri Andika ini patut diapresiasi agar kebudayaan Melayu makin dikenal luas dan dilestarikan.

Film dengan muatan lokal memiliki nilai plus tersendiri. Ia lebih berkesan karena penonton akan mengaitkan tokoh, cerita, dengan daerahnya. Selain itu latar tempatnya juga tokoh dan dialognya akan sulit diubah karena unsur tradisi itu lekat ke karakter dan keseharian tokoh. Membuat film dengan unsur budaya juga perlu riset agar akurat dan detail, mulai dari dialek, gaya berbusana, dan sebagainya. Sehingga, pekerjaan membuat film bermuatan lokal ini cukup sulit.

“Ramlie Oi Ramlie” dari segi cerita dan visual memang masih memiliki keterbatasan. Namun sebagai tontonan, film ini cukup menggelitik dan menambah wawasan akan adat istiadat dan ragam kesenian daerah.

 

sumber gambar: zettamindstudios

~ oleh dewipuspasari pada Juli 3, 2020.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: