Representasi Cinta dari Berbagai Kalangan di Omnibus Film Pendek

Kuncup
Film pendek memiliki unsur magnet tersendiri lewat penyampaiannya. Oleh karena durasinya yang terbatas, maka film pendek lebih padat dalam menyampaikan pesan. Dalam omnibus film pendek yang tayang di TVRI tadi malam, penonton diajak menyaksikan berbagai representasi tentang cinta.
Ada empat film yang termasuk dalam omnibus tersebut. Mereka adalah “Kuncup”, “Har”, “Jalan-jalan Sore”, dan “Kitorang Bersaudara”. Keempat film ini dieratkan dengan benang merah cinta, cinta dari berbagai sudut persepsi. Cinta antara lawan jenis, cinta antara anak dan ayahnya, dan cinta antara dua saudara.

Dalam film berjudul “Kuncup” dikisahkan seorang bule tertarik dengan gadis desa bernama Halimah. Si ayah nampak berat melepas putrinya. Lalu memberikan syarat di mana John, si bule tersebut, harus melakukan khitan terlebih dahulu.

Proses untuk melakukan khitan itulah yang mengundang tawa. John melakukan riset seperti apakah proses itu akan berlangsung. Ia melihat banyak yang khitan adalah anak-anak dan mereka nampak kesakitan. Ia jadi maju mundur.

Dalam sebuah adegan John ditanya rekannya alasan ia memilih Halimah, bukan gadis kulit putih dari asalnya. Jawabannya menarik

Ceritanya sederhana tentang bagaimana cinta itu memerlukan bukti tindakan. Di sini diperlihatkan sisi kontras, antara si bule yang berasal dari lingkungan modern dan situasi desa yang damai juga sederhana.

Dalam film berikutnya “Har” bernuansa tahun 1998 ketika mulai terjadi kerusuhan di Jakarta. Har adalah anak kecil yang rindu ibunya. Selama ini si ibu bekerja sebagai TKW di Hongkong. Ia akan pulang dan Har menanti-nantikannya.

Selama ini Har hidup bersama ayahnya. Si ayah juga rindu istrinya tapi ia sedang antusias dengan kabar listrik bakal masuk desanya.

Sebuah kisah cinta ayah dan anak juga kerinduan anak kepada ibunya. Unsur kelokalannya kental dengan dialog bahasa Jawa sehari-hari. Visualnya seperti sehari-hari tanpa didramatisir.

Ada beberapa ironi dalam film ini seperti wajah warga yang sumringah melihat listrik akhirnya masuk desa. Tapi ini bersamaan dengan berita Pak Harto yang mengundurkan diri selaku kepala negara. Di antara senyum gembira warga ada Har yang harap cemas menunggui ibunya. Kapan ibunya pulang?

Masih dengan tema cinta ada pasangan suami istri yang ingin jalan-jalan ke Monas. Gara-gara keasyikan foto di angkot eh kemudian hapenya malah ketinggalan. Si istri cemberut melulu karena ia ingin memutakhirkan status facebook-nya dengan foto-foto di Monas. Si suami kemudian membujuk si istri untuk menikmati acara jalan-jalan mereka di Monas.

Ini juga menarik. Ceritanya keseharian. Memang banyak dari kita yang jalan-jalan ke suatu tempat hanya untuk berfoto. Unsur rekreasinya malah kadang-kadang terlupakan. Di sini percakapan keduanya tentang banyak hal yang memenuhi sepanjang film, jadi membuatku ingat film “Before Sunrise”.

Film kemudian ditutup dengan hubungan persaudaraan dalam “Kitorang Bersaudara”. Berto dari Papua ditemani kakaknya mencari tempat kos di Yogya. Pekerjaan si kakak sebagai penagih hutang membuat rencana mereka ditampik beberapa pemilik rumah. Di sini ditampilkan unsur kelokalan dan pertemuan antara kultur Papua dan Yogyakarta.

Cinta memang bisa direpresentasikan ke berbagai hal. Ia juga bisa hadir di mana saja, lewat tindakan atau tanpa kata-kata.

Gambar: letterboxd

~ oleh dewipuspasari pada Juli 24, 2020.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: