“Kembalilah dengan Tenang”, Menyorot Krisis dan Bisnis Lahan Makam

kembalilah dengan tenang

Manusia tak bisa lepas dari tanah, baik saat ia hidup maupun saat ia meninggal. Kebutuhan akan tanah bagi yang meninggal itu dibingkai secara menarik dan menyentil dalam film pendek berjudul “Kembalilah dengan Tenang”.
Film berdurasi 25 menit ini mengisahkan kematian mendadak yang dialami oleh Agung, putra dari pasangan Santoso dan Wati. Kabar mengatakan ia meninggal karena minum oplosan.

Kabar ini tentunya membuat Santoso dan Wati begitu sedih. Mereka juga kemudian dihadapkan pada sejumlah kegiatan dari proses memindahkan jenasah putranya untuk dimandikan, menghubungi pihak pengurus masjid, dan juga mencari lahan pemakaman.

Proses ketiga ini yang membuat Santoso dan Wati kelimpungan. Pasalnya mereka dibatasi oleh dana yang mereka punyai dan waktu.



Film yang Membuat Penonton Gelisah
Semenjak kamera menunjukkan Santoso berada di satu tempat pemakaman umum (TPU) ke TPU lainnya, rasa gelisahku sebagai penonton menyeruak. Santoso mewakili masyarakat biasa yang kebingungan ketika salah satu anggota keluarganya meninggal mendadak. Ia tak menyangka jika mencari lahan pemakaman demikian sulitnya, apalagi bagi dirinya yang hanya memiliki dana terbatas.

Seperti halnya rumah tinggal, lokasi lahan pemakaman juga menentukan biaya tersebut. Yang tempatnya nyaman dan strategis, tarifnya juga lebih mahal.

Raut kegelisahan Santoso terlihat jelas ketika si penjaga TPU menyebutkan biaya pemakaman. Ernanto Kusuma begitu piawai dan luwes menampilkan kesedihan dan kegelisahan dalam mimik wajah dan gerak-geriknya.

Kamera juga cerdik menunjukkan ketimpangan sosial. Di suatu TPU, Santoso nampak mencoba menawar tarif lahan di sisi pemakaman yang berbatasan dengan lahan yang sedang dibangun menjadi bangunan menjulang. Di sisi Santoso adalah lahan bagi orang mati yang masih saja sulit dijangkau, dan sisi lainnya adalah bangunan yang diperuntukkan oleh mereka yang masih hidup dan memiliki bujet yang besar.

Krisis lahan dan bisnis lahan  juga ketimpangan sosial disodorkan dengan natural dalam tiap adegan. Emosi penonton juga disentil melihat kondisi tersebut. Reza Fahriyansyah sebagai sutradara mampu menampilkan suatu realita yang menyentuh, yang jarang dikulik dan diangkat ke permukaan. Setiap gambar menguatkan premis, akting para pemainnya juga terasa natural, seperti ketika kita menjumpai tetangga kita yang berduka.

Penutupnya juga mengejutkan dan menambah rasa kegelisahan. Tanah Indonesia luas dan subur, tapi kenapa untuk hidup dan mati saja rasanya sulit untuk diperoleh setiap orang.

Gambar dari Balinale dan JFF

~ oleh dewipuspasari pada September 25, 2020.

2 Tanggapan to ““Kembalilah dengan Tenang”, Menyorot Krisis dan Bisnis Lahan Makam”

  1. Miris sih kalau melihat kondisi bisnis lahan pemakaman gitu. Waktu bokap meninggal juga ada tawar menawar harga lahan kuburan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: