Singgah ke Radja Gongso, Cicipi Gongso Semarang

Gongso

Gongso babat atau gongso koyor, dua-duanya sama-sama sedap. Pengusir lapar dan bikin tenggorokan hangat.


Di sebuah perjalanan Malang menuju Jakarta, pasangan tiba-tiba kangen makan gongso babat. Ia dulu suka menyantap gongso sewaktu kuliah di Undip Semarang.

“Mampir ke Semarang, santap gongso yuk!”

Aku mengangguk.

Hujan. Saat itu hujan sering mewarnai perjalanan sehingga membuat kami ekstra hati-hati di perjalanan. Konsentrasi sepenuh hati menyedot energi, membuat kami berdua jadi keroncongan.

Kami pun menyalakan GoogleMaps mencari penjual gongso. Meski kata pasangan gongso salah satu makanan khas dan populer Semarang, tapi rupanya tidak mudah mencarinya. Dua warung tutup, lalu baru warung ketiga yang lokasinya sekitar 2-3 kiloan dari Simpang Lima, kami menemukannya.

Namanya Rodjo Gongso. Lokasinya di jalan Ariloka, Grobokan, Semarang, Jawa Tengah.

Gongso
Kedainya berukuran sedang dengan semi terbuka. Ada pot-pot tanaman di sudut. Ada toilet, wastafel, tempat wudhu, dan mushola mungil di sudut lainnya. Waktu itu kami tiba sekitar pukul 18.30. Masih sepi saat itu.

Karena namanya Radja Gongso maka menu utamanya adalah aneka gongso. Namun juga ada menu nasi goreng, roti bakar, dan gorengan. Untuk minumnya, menu unggulannya adalah minuman rempah. Ada jahe cokelat, jahe susu, jahe rempah, jahe kunir, teh rempah, dan secang.

Aku memerhatikan daftar menu gongso. Pilihannya daging kambing dan daging sapi. Yang sapi itu gongso koyor. Yang daging kambing itu gongso kaki, gongso iga, gongso kambing, gongso babat, dan gongso campur. Harganya berkisar Rp28-34 ribu per porsinya. Dengan nasi nambah Rp 5 ribu.

Aku pun memilih menu gongso campur dan jahe rempah. Gongso campur ini jadinya menggunakan daging kambing dengan isian kaki, babat, iga, dan daging kambing.

 Wedang Jahe
Tak sampai 20 menitan pesanan pun sudah terhidang. Tampilannya cantik dan menggoda selera dengan topping keripik melinjo dan tambahan irisan tomat merah, mentimun, plus selada. Menyusul jahe cokelat dalam wadah mug jadul.

Waktunya makan.

Kuahnya sedap, gurih dan manis pedasnya pas. Kuahnya hangat di tenggorokan. Oh iya yang belum tahu gongso, ia jenis makanan berkuah. Bumbu utamanya adalah duo bawang, jahe, cabe, dan lada. Kadang-kadang ditambahkan kemiri.

Gongso campur yang kupesan rasanya nikmat. Isiannya seperti kaki kambing dan temannya-temanya bumbunya meresap dan lunak. Porsinya sedang. Tapi ketika aku selesai makan dan menghabiskan wedang hangatnya, perutku rasanya begitu penuh.

Gongso
Wedang jahe
Jahe cokelatnya sedap dan bikin tenggorokan hangat. Selain jahe sepertinya ada tambahan rempah-rempah lainnya menilik dari aromanya. Wedang jahe cokelat ini harganya Rp 12 ribu.

Akhirnya keturutan juga makan gongso di Semarang.

~ oleh dewipuspasari pada Maret 22, 2021.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
<span>%d</span> blogger menyukai ini: